ROMA, Pena Katolik — Pakar teologi patristik dari Universitas Notre Dame, John Cavadini, resmi diumumkan sebagai peraih penghargaan teologi bergengsi Ratzinger Prize 2026. Penghargaan tersebut diumumkan secara resmi oleh Yayasan Vatikan Joseph Ratzinger-Benedict XVI dalam konferensi pers di Kantor Berita Takhta Suci, Roma, pada Selasa 22 September 2026.
Paus Leo XIV dijadwalkan menyerahkan langsung penghargaan tersebut kepada Cavadini dalam sebuah upacara khusus di Istana Apostolik, Vatikan, pada 19 Desember 2026 mendatang.
Rekor Notre Dame
Pengumuman pemenang disampaikan langsung oleh Presiden Yayasan Vatikan Joseph Ratzinger-Benedict XVI, Romo Roberto Regoli, bersama Sekretaris Yayasan, Pierluca Azzaro.
Kemenangan ini mengukuhkan dominasi Universitas Notre Dame dalam kancah teologi global. Cavadini menjadi pengajar ketiga dari Universitas Notre Dame yang menerima penghargaan ini, menyusul Cyril O’Regan (2024) dan pastor Yesuit Romo Brian E. Daley SJ (2012). Sejak Ratzinger Prize pertama kali diberikan pada tahun 2011, Notre Dame mencatatkan diri sebagai institusi dengan jumlah penerima penghargaan terbanyak.
Dalam pernyataan resminya, Cavadini menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam atas penghargaan tersebut. Ia mengungkapkan komitmennya untuk senantiasa menjalankan studi teologi “sebagai seorang pelayan Gereja sekaligus insan akademis.”
Kontribusi Teologi Amerika Serikat
Cavadini telah mengabdi di Universitas Notre Dame sejak tahun 1990. Selain mengajar, ia juga dipercaya menjabat sebagai Direktur McGrath Institute for Church Life selama lebih dari dua dekade (2000–2026). Penelitian dan pengajarannya memfokuskan pada teologi Santo Agustinus, salah satu tokoh paling berpengaruh pada era patristik.
Romo Roberto Regoli memuji pemikiran Cavadini atas ketajaman publikasi teologisnya, serta komitmen dan dedikasinya yang luar biasa dalam pengajaran di perguruan tinggi.
Di sela-sela konferensi pers, Romo Regoli juga menggarisbawahi pentingnya sumbangsih pemikiran para teolog dari Amerika Serikat terhadap dinamika global.
“Debat kebudayaan yang terjadi di Amerika Serikat tidak hanya berdampak bagi Amerika saja, tetapi diikuti oleh seluruh dunia. Tradisi kebudayaan kita banyak dipengaruhi oleh pemikiran dari Amerika Serikat. Oleh karena itu, sangat penting untuk melihat perkembangan di dunia Anglo-Saxon, yang telah memegang peran kepemimpinan di berbagai bidang ilmu pengetahuan selama beberapa dekade terakhir,” ujar Romo Regoli.
100 Tahun Ratzinger
Pemberian Ratzinger Prize 2026 menjadi bagian dari rangkaian inisiatif global menjelang peringatan 100 tahun kelahiran Joseph Ratzinger (Paus Benediktus XVI) yang jatuh pada tahun 2027. Peringatan 100 tahun kelahiran Joseph Ratzinger (Paus Benediktus XVI) dirayakan secara global melalui berbagai konferensi akademis, pembentukan Ratzinger Chairs, dan penerbitan karya-karya teologis.
Regoli mencatat adanya lonjakan ketertarikan akademis di seluruh dunia terhadap warisan pemikiran Ratzinger menjelang tahun sentenario tersebut.
“Warisan pemikiran Ratzinger berbicara dengan sendirinya. Di tingkat internasional, pusat-pusat studi (Ratzinger chairs) telah berdiri di mana-mana: Eropa, Amerika Serikat, Amerika Latin, hingga Afrika,” tambah Romo Regoli.
Sekretaris Yayasan Pierluca Azzaro menyoroti salah satu fokus utama yayasan dalam peringatan sentenario ini, yakni warisan pemikiran Ratzinger di Afrika. Menurut Azzaro, semasa menjabat sebagai Paus, Benediktus XVI memiliki keyakinan teguh bahwa Afrika menyimpan “cadangan spiritual” yang sangat dibutuhkan bagi kebangkitan kembali dunia Barat.



