Lawatan Paus Leo XIV ke Prancis: Membawa Ajaran Sosial Gereja ke Jantung Eropa Sekuler

PARIS, Pena Katolik — Paus Leo XIV memulai perjalanan pastoral dan kenegaraan empat hari ke Prancis pada 25–28 September 2026. Melalui kunjungan ke tiga kota, yaitu Paris, Lourdes, dan Metz, Paus mengemban misi menyampaikan ajaran sosial Gereja Katolik di tengah dinamika benua Eropa yang kian sekuler.

Dalam lawatan ini, kunjungan Paus akan menyoroti isu-isu krusial seperti etika akhir kehidupan, imigrasi, hingga kecerdasan buatan (Artificial Intelligence). Kunjungan ini menjadi perjalanan kenegaraan pertama seorang Paus ke Prancis sejak kunjungan Paus Benediktus XVI pada tahun 2008.

Mantan Rektor Institut Catholique de Paris, Romo Patrick Valdrini, menyebut lawatan ini sebagai momentum penting bagi gagasan Paus Leo XIV dalam memasyarakatkan Doktrin Sosial Gereja secara konkret.

Dinamika Sekularisme Prancis

Prancis memiliki tradisi hukum laïcité, yakni pemisahan tegas dan ketat antara Gereja dan negara yang berakar sejak Revolusi Prancis. Hukum ini membatasi peran agama dalam ruang publik.

Data kependudukan terbaru tahun 2019–2020 dari Institut National D’Etudes Démographiques menunjukkan bahwa 51% orang dewasa di Prancis tidak memiliki afiliasi agama, atau meningkat 8% dari dekade sebelumnya. Meskipun 29% populasi mengidentifikasi diri sebagai Katolik, hanya 8% yang tercatat rutin menghadiri Misa di gereja.

Kendati demikian, jurnalis agen berita I.Media, Cyprien Viet, mengamati adanya tren keterbukaan baru publik Prancis terhadap Kekristenan. Tren ini dipicu oleh peningkatan empati menyusul serangan terhadap tempat ibadah dan pembunuhan Romo Jacques Hamel pada tahun 2016. Pasca-kebakaran Katedral Notre-Dame tahun 201 juga memunculkan kesadaran akan warisan budaya yang terkait pada kedekatan Kembali pada nilai iman kristiani.

Ada juga dorongan sebagai apresiasi atas aksi kemanusiaan Gereja Katolik selama pandemi COVID-19. Selain itu, tanggapan publik terhadap isu etika kontemporer juga menguat berkat dampak luas dari ensiklik Paus Leo XIV tentang etika kecerdasan buatan, Magnifica Humanitas.

Agenda Utama dan Isu Sensitif

Selama empat hari kunjungan, Paus Leo XIV dijadwalkan menghadiri serangkaian agenda penting di berbagai kota. Di Paris, Bapa Suci akan menyampaikan pidato mengenai etika Artificial Intelligence di Markas UNESCO. Ia lalu mengunjungi pusat integrasi migran milik Keuskupan Agung Paris. Ia akan memimpin doa di Stade de France yang berkapasitas 81.000 kursi. Puncaknya ia akan memimpin Misa Terbuka di Place de la Concorde yang diperkirakan dihadiri hingga 600.000 umat.

Saat berkunjung ke Situs Ziarah Massabielle di Lourdes, Paus akan menggemakan martabat tak ternilai dari setiap jiwa manusia, khususnya mereka yang sakit dan difabel, guna merespons keputusan Prancis yang meresmikan undang-undang bunuh diri dibantu (assisted suicide) dan eutanasi pada Juli 2026. Di lokasi yang sama, Bapa Suci juga menggelar pertemuan tertutup dengan korban kekerasan seksual di lingkungan Gereja serta para uskup Prancis. Rangkaian kunjungan ditutup di Metz melalui diskusi interreligius dan refleksi mengenai dialog antarumat beragama serta arah masa depan benua Eropa.

Terkait undang-undang eutanasi yang baru disahkan di Prancis, Duta Besar Prancis untuk Takhta Suci, Charles Personnaz, memperkirakan Paus akan menegaskan kembali doktrin Katolik mengenai perlindungan kehidupan sejak pembuahan hingga kematian alami. Namun, Paus diyakini tetap menerapkan prinsip subsidiaritas dengan menyerahkan perdebatan politik teknis kepada para uskup setempat.

Kebangkitan Katolik Muda

Kunjungan Bapa Suci bertepatan dengan momentum penting bangkitnya minat keagamaan di kalangan generasi muda Prancis. Pada Paskah tahun 2026, Prancis mencatatkan rekor lebih dari 20.000 pembaptisan remaja dan dewasa, melonjak 20% dibanding rekor tahun 2025 yang sebelumnya juga telah naik 45% dari tahun 2024.

Rangkaian perjalanan Paus dimulai pada 25 September 2026 saat mendarat di Paris untuk menyampaikan pidato mengenai kecerdasan buatan di Markas UNESCO dan menghadiri doa malam di Stade de France.

Pada 26 September 2026, Bapa Suci melakukan ziarah kemanusiaan dengan mengunjungi Gua Massabielle di Lourdes untuk berdoa bersama penderita sakit, menyampaikan pesan martabat kehidupan, dan bertemu korban kekerasan seksual.

Selanjutnya, pada 27 September 2026, Paus memimpin Misa raksasa di ruang terbuka pusat kota Paris yang membentang hingga Arc de Triomphe. Perjalanan diakhiri pada 28 September 2026 melalui pertemuan di Metz yang membahas dialog antariman dan masa depan Eropa sebelum bertolak kembali ke Vatikan.

Kebangkitan iman ini mendorong para uskup di wilayah Île de France menggelar dewan khusus guna merespons gelombang konversi umat baru tersebut. Duta Besar Personnaz menilai fenomena ini terjadi karena kaum muda Prancis yang haus akan makna hidup menemukan bahwa tawaran iman Katolik tetap sangat relevan dan mencerahkan.

Komentar

Terhubung ke Media Sosial Kami

45,030FansSuka
0PengikutMengikuti
75PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

Terkini