JAKARTA, Pena Katolik – Di tengah guncangan skandal penyelewengan yang melibatkan oknum klerus dalam beberapa tahun terakhir, berbagai tanggapan dan refleksi bermunculan dari kalangan awam maupun hirarki Gereja, termasuk dari Paus Fransiskus. Dalam suratnya yang ditujukan kepada seluruh Umat Allah mengenai krisis tersebut, Bapa Suci mengidentifikasi salah satu akar masalah utamanya: klerikalisme.
A.W. Richard Sipe, seorang teolog Amerika Serikat dalam sebuah seminar pada 17 Oktober 1992 menyebut krisis ini sebagai krisis imamat terbesar sejak Reformasi Protestan.
Apa Itu Klerikalisme?
Istilah “klerikalisme” sering kali terdengar dalam diskusi-diskusi gerejani, namun jarang didefinisikan secara gamblang. Lantas, apa sesungguhnya klerikalisme itu? Klerikalisme adalah sebuah sikap tak teratur (disordered attitude) terhadap para klerus (rohaniwan), yang ditandai dengan rasa hormat yang berlebihan serta anggapan bahwa mereka secara otomatis memiliki keunggulan moral di atas orang lain.
Dalam penjelasannya yang ringkas, Paus Fransiskus menggambarkan klerikalisme sebagai kondisi ketika “para klerus merasa diri mereka lebih unggul dan menempatkan diri jauh dari masyarakat.”
Namun, Paus juga mengingatkan bahwa klerikalisme dapat dipupuk baik oleh para imam itu sendiri maupun oleh kaum awam. Artinya, kaum awam pun bisa terjebak dalam klerikalisme! Hal ini terjadi ketika umat awam menganggap kontribusi mereka dalam kehidupan Gereja hanya sebagai “kelas dua”, atau menganggap bahwa dalam segala hal “imam pasti paling tahu”, seolah-olah kebajikan Kristiani hanya milik para imam.
Penghormatan dan Ilusi Moral
Di satu sisi, umat Katolik tentu harus menghormati para klerus. Mereka dipanggil oleh Allah untuk menjadi pemimpin, pengajar, dan pelayan dalam kehidupan Kristiani. Santo Inasius dari Antiokhia bahkan menyebut bahwa bagi umat, keberadaan seorang imam mencerminkan kehadiran Kristus, dan seorang uskup mencerminkan Allah Bapa.
Melalui Sakramen Imamat, para klerus menerima kuasa apostolik yang diteruskan langsung dari Kristus. Karakter sakramental ini memberikan “tanda yang tak terhapuskan” (indelible mark) pada jiwa seorang imam, yang memampukannya bertindak in persona Christi (atas nama pribadi Kristus). Karena kuasa inilah, seorang imam—bahkan ketika ia berada dalam keadaan berdosa berat—tetap dapat menghadirkan Tubuh dan Darah Kristus di altar serta melayani Sakramen Tobat.
Namun, kuasa sakramental ini tidak membuat para klerus secara otomatis lebih bijaksana, memiliki pertimbangan yang lebih baik, atau lebih suci dibandingkan orang lain. Para rohaniwan tetaplah manusia biasa yang dapat melakukan kesalahan dan jatuh ke dalam dosa. Para rasul sendiri kerap membuat kekeliruan—mulai dari salah memahami ajaran Yesus hingga mengkhianati-Nya—sehingga para penerus mereka pun tidak kebal dari kelemahan tersebut.
Mengingat tingginya panggilan hidup rohaniwan, tidak mengherankan jika godaan yang mereka hadapi dari si jahat pun sangat besar. Karena itulah, doa dan dukungan dari umat awam bagi para klerus menjadi hal yang sangat krusial.
Kepemimpinan sebagai Pelayanan
Filsuf Aristoteles pernah menyatakan bahwa “kebajikan berada di tengah-tengah di antara dua kutub ekstrem”. Dalam upaya menghindari klerikalisme, umat beriman juga harus berhati-hati agar tidak jatuh ke kutub sebaliknya: anti-klerikalisme.
Menghindari klerikalisme bukan berarti menjatuhkan atau merendahkan martabat para klerus. Kuncinya adalah keseimbangan: tidak mendewakan, namun juga tidak menghina.
Keseimbangan ini telah diajarkan Yesus sendiri kepada para murid-Nya. Ketika ibu dari Yakobus dan Yohanes meminta posisi kehormatan bagi anak-anaknya di Kerajaan Allah, murid-murid yang lain merasa gusar. Yesus kemudian meluruskan pandangan mereka:
“Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. Tidak demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi yang terdepan di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” (Matius 20:25-28)
Yesus tidak menampik bahwa para rasul memiliki otoritas atas jemaat. Namun, Beliau menegaskan bahwa otoritas tersebut diberikan semata-mata untuk melayani. Santo Petrus, Paus pertama, mengulangi pesan ini dalam suratnya: “Janganlah kamu memerintah atas mereka yang dipercayakan kepadamu, tetapi hendaklah kamu menjadi teladan bagi kawanan domba itu” (1 Petrus 5:3).
Sejak zaman Santo Gregorius Agung, para Paus mengambil gelar Servus Servorum Dei—”Hamba dari Para Hamba Allah”. Sebagaimana ditegaskan oleh Paus Fransiskus, para klerus hadir bukan sebagai majikan, melainkan sebagai pelayan bagi Umat Allah:
“Kaum awam adalah bagian dari Umat Kudus Allah yang setia dan merupakan protagonis bagi Gereja dan dunia; kami [para imam] dipanggil untuk melayani mereka, bukan untuk dilayani oleh mereka.”
