PenaKatolik.Com | Pasti banyak yang tidak setuju dengan judul di atas. Bukankah ungkapan yang sangat akrab di telinga kita: “Manusia merencanakan, Tuhan yang menentukan”? Kalimat ini sering menjadi penghiburan ketika rencana kita gagal. Namun, benarkah demikian? Jangan-jangan, tanpa sadar, kita justru sedang menempatkan Tuhan sekadar sebagai “penentu akhir” atas rencana-rencana yang sejak awal kita susun sendiri.
Bukankah lebih tepat jika kita bertanya: apakah rencana hidup kita sejak awal sudah selaras dengan kehendak Tuhan?
Sering kali manusia merencanakan sesuatu yang menurutnya baik, masuk akal, bahkan benar. Ketika rencana itu tidak terwujud, kita buru-buru berkata, “Tuhan belum mengizinkan.” Padahal, bisa jadi persoalannya bukan karena Tuhan mengubah rencana kita, melainkan karena sejak awal kita belum sungguh-sungguh mencari apa yang menjadi kehendak-Nya.
Manusia memang diberi akal budi, kebebasan, dan kemampuan untuk menentukan pilihan. Tuhan tidak menjadikan kita robot yang hanya menunggu perintah. Kita boleh bermimpi, menyusun rencana, memilih pekerjaan, menentukan pasangan hidup, bahkan memutuskan arah perjalanan hidup. Tetapi kebebasan itu seharusnya tidak membuat kita berjalan tanpa arah. Kebebasan yang sejati justru menemukan kepenuhannya ketika digunakan untuk memilih yang baik dan sesuai dengan kehendak Allah.
Di sinilah hati nurani memiliki peranan penting. Hati nurani bukan sekadar perasaan atau keinginan hati. Ia adalah ruang batin tempat manusia mengenali dan mempertimbangkan apa yang baik dan benar. Karena itu, keputusan hidup tidak cukup hanya didasarkan pada kepandaian, logika, ambisi, atau apa yang sedang kita inginkan. Kita perlu bertanya dalam keheningan: “Tuhan, apakah ini sungguh jalan yang Engkau kehendaki bagiku?”
Hal yang sama berlaku dalam perkara jodoh. Kita sering mengatakan, “Jodoh ada di tangan Tuhan.” Tetapi manusia tetap memiliki kehendak bebas. Kita memilih untuk membuka diri, mengenal seseorang, mencintai, menikah, atau bahkan memilih untuk tidak menikah. Tuhan tidak memaksa seseorang menjadi pasangan kita. Namun, kebebasan itu hendaknya dijalankan dengan kebijaksanaan, doa, dan keterbukaan terhadap kehendak-Nya. Bukan sekadar meminta Tuhan memberkati pilihan kita, melainkan sejak awal mengundang Tuhan untuk menuntun pilihan tersebut.
Lalu bagaimana dengan perang, permusuhan, ketidakadilan, bencana, dan berbagai kerusakan di dunia? Apakah itu semua kehendak Tuhan? Sama sekali tidak! Banyak di antaranya merupakan konsekuensi dari keputusan manusia yang menyalahgunakan kebebasannya. . Tuhan merancang damai, kedamaian abadi bagi seluruh umat-Nya. Tuhan menghendaki setiap manusia kembali ke surga karena kita adalah makhluk kesayangan-Nya. Namun anehnya, banyak manusia justru berlomba menuju neraka, tempat yang sesungguhnya disediakan bagi iblis.
Karena itu, pertanyaan terpenting bukanlah “apakah Tuhan akan menentukan hidup saya?”, melainkan “apakah saya sedang menentukan hidup saya sesuai dengan kehendak Tuhan?”
Maria memberikan teladan yang indah ketika berkata, “Fiat mihi secundum verbum Tuum“, jadilah padaku menurut perkataanmu itu. Itulah fiat—penyerahan diri yang bukan berarti pasif, melainkan keberanian untuk mengatakan “ya” kepada kehendak Allah.
Maka, mungkin ungkapan “manusia merencanakan, Tuhan yang menentukan” perlu kita renungkan kembali. Deus proponit, homo disponit. Tuhan merencanakan, manusia memilih dan menentukan langkahnya dengan kebebasan yang dianugerahkan Tuhan—dan kebebasan itu menemukan arah yang benar ketika diselaraskan dengan kehendak-Nya.
Bukan sekadar “Tuhan, berkatilah rencanaku”, melainkan: “Tuhan, tuntunlah aku agar rencanaku selaras dengan rencana-Mu.” *Febry Silaban.
*Penulis adalah pemerhati Gereja, berasal dari Paroki St. Laurensius Alam Sutera, Serpong.
