JAKARTA, Pena Katolik – Menjadi seorang imam Katolik di abad ke-21 bukanlah perkara yang mudah. Di tengah arus budaya sekuler modern, para imam kerap menghadapi tekanan sosial, prasangka buruk, hingga pandangan miring dari lingkungan sekitar.
Tidak hanya itu, dinamika kehidupan pastoral saat ini membuat banyak pastor paroki harus melayani beberapa paroki sekaligus secara mandiri. Tantangan fisik dan isolasi semacam ini tak jarang memicu kesepian mendalam, yang dapat membuka celah bagi serangan spiritual. Ketika seorang imam mulai meragukan panggilannya dan merasa terasing, ia rentan terdorong untuk mencari hiburan semu dari kelemahan manusianya sendiri.
Memahami kerapuhan ini, para kudus Gereja sepanjang sejarah secara konsisten mengingatkan umat untuk tidak pernah berhenti mendoakan para imam mereka.
Mendoakan Sang Rasul
Banyak orang kudus yang mempersembahkan hidup mereka secara khusus demi kesucian para imam. Paus Santo Yohanes Paulus II saat berbicara kepada para imam di Amerika Serikat pada tahun 1979, ia menyampaikan seruan hangat kepada seluruh umat.
“Mendoakan para imam—hari ini saya menyampaikan kata-kata ini sebagai sebuah seruan dan permohonan kepada seluruh umat beriman… Berdoalah bagi para imam, agar mereka setiap saat terus memperbaharui jawaban ‘ya’ atas panggilan yang telah diterima, tetap setia mewartakan Injil, dan selamanya menjadi sahabat setia Tuhan kita Yesus Kristus.”
Santa Thérèse dari Lisieux (Si Bunga Kecil) dalam surat-suratnya mengisahkan bagaimana pemahamannya tentang imam berubah setelah melakukan perjalanan ke Italia. Awalnya, ia mengira para imam adalah sosok yang selalu murni bagaikan kristal. Namun, setelah hidup dan berinteraksi dekat dengan mereka, ia menyadari kerentanan para gembala tersebut:
“Martabat mereka yang luhur memang mengangkat mereka di atas para malaikat, namun bukan berarti mereka tidak memiliki kelemahan dan kerapuhan… Inilah panggilan Karmel: mempersembahkan doa dan kurban untuk menjadi ‘rasul bagi para rasul’, mendoakan mereka yang sedang mewartakan Injil melalui kata-kata dan teladan hidup.”
Santo Yohanes Maria Vianney sebagai pelindung para imam bahkan menyusun doa khusus bagi para imam agar mereka senantiasa layak menjadi representasi Kristus, Sang Gembala yang Baik.
Kesucian Imam Sangat Krusial
Dalam bukunya yang terkenal, The Soul of the Apostolate, Dom Jean-Baptiste Chautard memberikan ilustrasi yang sangat bernas mengenai hubungan antara spiritualitas seorang imam dan umat yang dilayaninya: jika imamnya seorang santo, umatnya akan bersemangat; jika imamnya bersemangat, umatnya akan saleh; jika imamnya saleh, umatnya setidaknya akan berkelakuan baik; jika imamnya hanya berkelakuan baik, umatnya akan menjadi tidak mengenal Tuhan.
Kehidupan spiritual generasi berikutnya selalu memiliki tingkat intensitas satu derajat lebih rendah daripada sosok yang melahirkannya dalam Kristus. Para imam adalah manusia biasa yang dipanggil untuk melakukan tugas-tugas ilahi yang melampaui kekuatan manusiawi mereka. Kesucian, keteguhan, dan kesetiaan mereka dalam menggembalakan jiwa-jiwa sangat bergantung pada kehendak Allah dan dukungan doa dari seluruh Gereja.
Di tengah perjuangan berat yang dihadapi para imam di dunia modern saat ini, luangkanlah waktu setiap hari untuk menyelipkan nama para pastor paroki dan imam Anda dalam doa-doa pribadi.
