VATIKAN, Pena katolik — Nilai investasi dan aset Vatikan melonjak hingga mencapai kekayaan bersih sekitar $3 miliar AS (setara 2,686 miliar euro) sepanjang tahun 2025. Laporan tersebut dirilis oleh Lembaga Pengelola Aset Takhta Suci (Administration of the Patrimony of the Apostolic See/APSA) pada Kamis (31/7).
Berdasarkan laporan tahunan APSA, perolehan keuntungan Vatikan meningkat sebesar $102 juta (89 juta euro) dibandingkan tahun 2024. Lonjakan nilai ini terutama didorong oleh revaluasi aset emas fisik, peningkatan nilai properti riil, serta penilaian positif atas surat-surat berharga keuangan.
Presiden APSA, Uskup Agung Giordano Piccinotti, mengimbau agar perbandingan laba antara tahun 2024 dan 2025 disikapi secara bijak. Menurutnya, pertumbuhan pada tahun 2025 dipengaruhi oleh pendapatan luar biasa dari reorganisasi arus keuangan yang bersifat tidak berulang (unrepeatable).
“Tujuan APSA bukanlah untuk menghasilkan laba tahunan semata, melainkan untuk menjaga dan memperkuat kekayaan yang telah diamanahkan,” ujar Piccinotti kepada Vatican Media.
Sektor Properti Jadi Pendorong Utama
Pengelolaan aset real estat menjadi kontributor ekonomi terbesar bagi APSA sepanjang tahun 2025. Sektor ini membukukan keuntungan sebesar $51 juta (44,5 juta euro), meningkat $10,8 juta (9,4 juta euro) dibandingkan capaian tahun 2024 yang tercatat sebesar $40,3 juta (35,1 juta euro).
Pertumbuhan di sektor ini ditopang oleh kenaikan pendapatan dari properti yang dikelola langsung oleh APSA di Italia. Selain di dalam negeri, APSA mengelola sekitar 1.200 unit properti residensial dan komersial di luar negeri, yang tersebar di kota-kota besar seperti London, Paris, Jenewa, dan Lausanne.
Pendapatan tambahan juga bersumber dari kepemilikan saham APSA di sejumlah perusahaan internasional, di antaranya Société Sopridex (Prancis), British Grolux Investments (Inggris), dan Profima S.A. (Swiss).
Kasus Properti London
Di bidang investasi, APSA menyatakan tengah melanjutkan prosedur keuangan dan hukum untuk pelepasan dana investasi U.K. Opportunities (Sloane & Cadogan) yang berbasis di Luksemburg. Langkah ini mengacu pada motu proprio yang diterbitkan Paus Fransiskus pada 2020 guna meningkatkan transparansi dan pengawasan atas investasi Takhta Suci.
Dana tersebut berkaitan erat dengan transaksi properti kontroversial di Sloane Avenue, London—salah satu skandal keuangan terbesar yang pernah mengguncang Vatikan. Skandal ini melibatkan mantan Prefek Kongregasi Penggelaran Kudus, Kardinal Angelo Becciu, yang sebelumnya divonis lima tahun enam bulan penjara oleh pengadilan Vatikan.
Sejak vonisnya pada 2023, Becciu konsisten membantah tuduhan tersebut dan menyatakan dirinya tidak bersalah. Perkembangan terbaru menunjukkan Pengadilan Vatikan memerintahkan persidangan ulang atas kasus Becciu pada 17 Maret lalu, setelah vonis awal dibatalkan akibat adanya cacat prosedur (relative nullity) yang melanggar hak pembelaan terdakwa. Proses banding untuk Becciu dan para terdakwa lainnya dijadwalkan kembali berlanjut pada 30 September mendatang.
Dukungan untuk Kuria Roma
Secara rinci, lonjakan nilai aset Vatikan pada 2025 disokong oleh tiga faktor utama: Revaluasi aset emas fisik: Menyumbang peningkatan senilai $46,9 juta (40,8 juta euro); Apresiasi nilai properti: Menambah $45,1 juta (39,2 juta euro); Kenaikan nilai surat berharga: Mengontribusi $18,8 juta (16,3 juta euro).
Di sisi lain, manajemen keuangan mencatatkan defisit pembukuan sebesar $4,3 juta (3,7 juta euro) pada 2025, berbanding terbalik dari catatan positif $43,8 juta (38,1 juta euro) pada 2024. APSA menjelaskan bahwa angka tersebut merupakan dampak dari penerapan standar akuntansi baru Takhta Suci, yakni Vatican Financial Management Policy.
Sepanjang tahun 2025, APSA telah menyalurkan dana sebesar $26,1 juta (22,7 juta euro) untuk menutupi kebutuhan finansial Kuria Roma, sekaligus memenuhi komitmen kontribusi yang diminta oleh Takhta Suci.



