JAYAPURA, Pena Katolik – Uskup Jayapura, Mgr. Yanuarius Theofilus Matopai You, menegaskan bahwa pesawat milik PT PT Associated Mission Aviation (AMA) sama sekali tidak pernah terlibat dalam operasi keamanan, apalagi mengangkut personel militer dan amunisi. AMA merupakan perusahaan aviasi milik keuskupan-keuskupan di Papua yang sudah ada sejak puluhan tahun lalu. Perusahaan ini didirikan untuk mendukung konektivitas, terutama sebagai sarana transportasi para pelayan pastoral ke daerah-daerah sulit di Papua.
“Pesawat ini bantuan sosial murni dari Gereja. Dana itu berasal dari derma umat yang dikumpulkan sehingga bisa membeli pesawat seperti ini,” ujar Mgr. Yanuarius dengan nada getir.
Pernyataan Uskup Jayapura ini menyusul penembakan seorang pilot AMA, atas nam Nicholas F. Gosselin oleh Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB). Selain melakukan penembakan, TPNPB juga membakar pesawat yang dikemudikan Gosselin. TPNPB menuduh pesawat itu mengangkut persenjataan dan personel militer. Tuduhan ini dibantah keras oleh Mgr. Yanuarius.
“Gereja Katolik ada untuk pelayanan manusia, seratus persen, tidak ada kepentingan-kepentingan politik di balik itu, sama sekali tidak ada,” ujar Mgr. Yanuarius.
Bagi Gereja Katolik dan masyarakat Papua, AMA Air menjadi salah satu ujung tombak misi kemanusiaan. Seluruh armada udara yang mereka miliki murni bersumber dari keringat, air mata, dan sumbangan para umat serta lembaga-lembaga gereja demi membuka isolasi daerah-daerah terpencil.
“Kami mengalami kerugian pesawat berulang kali, tapi karena kami punya misi itu mulia, misinya agung, maka kami tetap bertahan,” ujar Mgr. Yanuarius.
Tragedi ini menjadi tamparan keras bagi pelayanan kemanusiaan di pedalaman Papua. Direktur PT AMA, Bob Kayadu, membeberkan di atas kerugian materiil, ada kerugian lebih besar, hilangnya urat nadi transportasi misi, logistik, kesehatan, dan pendidikan. Menurutnya, masa depan pelayanan kemanusiaan di tanah Papua kini berada di ujung tanduk. Kini, publik dunia pun terus mengawasi, menanti ke mana arah konflik ini akan membawa nasib pelayanan misi gereja ke depan.
Penembakan Pilot
Dunia internasional mendadak gempar ketika sebuah kabar duka datang dari pedalaman Papua Barat. Pada Kamis 2 Juli 2026, Nicholas F. Gosselin, seorang pilot komersial asal Amerika Serikat yang bekerja untuk AMA, tewas ditembak di Lapangan Terbang Balinggama, Distrik Sobaham, Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan.
Kematian tragis sang pilot tidak hanya meninggalkan duka mendalam, tetapi juga memicu gelombang pemberitaan global. Tercatat lebih dari 273 media internasional meliput peristiwa ini secara masif, menghasilkan lebih dari 600 artikel di seluruh dunia—sebuah angka fantastis yang belum termasuk pemberitaan masif di dalam negeri Indonesia sendiri. Keterlibatan warga negara asing serta sensitivitas geopolitik di Papua membuat mata dunia langsung tertuju ke bumi cenderawasih.
Penghentian Penerbangan
AMA resmi menyatakan menghentikan sementara seluruh pelayanan penerbangan di tanah Papua. Langkah ini diambil menyusul insiden tragis pembakaran pesawat dan penembakan yang menewaskan pilot mereka asal Amerika Serikat, Nicholas Geosselin, oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) atau Organisasi Papua Merdeka (OPM).
Bob mengonfirmasi bahwa penghentian operasional ini merupakan bentuk duka mendalam yang tengah menyelimuti seluruh keluarga besar maskapai.
“Iya benar, seluruh aktivitas penerbangan kami hentikan sementara karena masih dalam keadaan berduka atas meninggalnya pilot kami Nicholas Gosselin,” ujar Bob Kayadu saat dikonfirmasi pada Selasa 7 Juli 2026.
Saat ini, seluruh aktivitas di kantor maupun penerbangan AMA dibekukan total. Terkait kapan maskapai akan kembali mengudara, Bob menjelaskan bahwa keputusan tersebut baru akan digodok dalam rapat internal yang dijadwalkan pada Sabtu mendatang.
Bagi maskapai yang telah lama mendedikasikan layanannya di bumi cenderawasih ini, tragedi tersebut merupakan pukulan terberat dalam sejarah perusahaan.
“Selama 67 tahun 4 bulan melayani di Papua, pembakaran pesawat dan penembakan pilot ini adalah yang paling tragis sehingga kami merasa luka yang begitu dalam. Kami membutuhkan waktu untuk mengobati hati kami yang luka,” ungkap Bob dengan penuh kesedihan.
