JAYAPURA, Pena Katolik – Di balik megahnya hamparan hutan pegunungan, lembah terisolasi, dan topografi ekstrem pulau Papua, tersimpan kisah perjuangan transportasi udara yang telah mengubah peradaban masyarakatnya. Salah satu aktor utama dalam sejarah pembuka isolasi tersebut adalah Associated Mission Aviation (AMA).
Dari awal yang sangat sederhana—mengoperasikan satu pesawat piston jenis Cessna—kini AMA telah tumbuh dan berkembang secara luar biasa menjadi maskapai yang mengoperasikan 9 pesawat bertenaga turbin modern. Namun, lebih dari sekadar hitungan angka armada, sejarah AMA adalah kisah tentang dedikasi kemanusiaan yang membentang selama hampir satu abad.
Benih Awal Sebelum Perang Dunia II (1935–1945)
Secara menakjubkan, cikal bakal berdirinya AMA dapat ditarik jauh ke belakang, bahkan sebelum Perang Dunia II berkecamuk. Pada masa itu, para imam (pastor) dan biarawati dari Gereja Katolik sedang gencar menjalankan misi pelayanan untuk membaptis, mendidik, dan merawat masyarakat lokal di wilayah yang kala itu dikenal sebagai Netherlands New Guinea (Nugini Belanda).
Dalam perjalanannya, para misionaris ini segera menyadari tantangan geografis Papua yang begitu masif. Berjalan kaki berhari-hari menembus hutan belantara dan mendaki tebing curam sangatlah berbahaya dan tidak efisien. Mereka menyadari bahwa transportasi udara adalah satu-satunya solusi yang dapat menyediakan akses yang jauh lebih cepat dan aman ke desa-desa terpencil di pedalaman pulau.
Gagasan ini mulai diseriusi pada Oktober 1935, ketika pertemuan formal pertama diadakan di Amsterdam, Belanda, untuk membahas secara resmi pengadaan sebuah pesawat misi. Meskipun sumbangan berupa waktu, uang, dan ruang kantor mulai mengalir sedikit demi sedikit, badai Perang Dunia II sempat menunda realisasi tersebut. Baru pada September 1945, setelah perang usai, gerakan untuk pengadaan pesawat misi ini kembali digelorakan dengan sungguh-sungguh. Setelah penantian panjang dan perjuangan mengumpulkan dana, momen bersejarah itu akhirnya tiba: pada 23 Mei 1959, pesawat misi pertama AMA resmi mendarat di Sentani.
Imam di dalam Kokpit
Pada masa-masa awal operasionalnya, pesawat-pesawat AMA tidak diterbangkan oleh pilot komersial, melainkan oleh para imam Fransiskan (Ordo Fratrum Minorum). Para pastor terpilih ini dikirim ke sekolah penerbangan di luar negeri untuk mendapatkan lisensi terbang mereka. Salah satu sosok ikonik pada masa ini adalah Pastor Fransiskan Henk Vergouwen OFM, yang menerbangkan pesawat pertama AMA, sebuah Cessna 180.
Meskipun para pastor ini memiliki dedikasi yang luar biasa terhadap misi keagamaan, dunia penerbangan, dan masyarakat lokal, menerbangkan pesawat di atas medan ekstrem Papua terbukti membutuhkan spesialisasi penuh. Setelah terjadinya beberapa kali insiden kecelakaan, pihak otoritas misi akhirnya mengambil keputusan bijak: para pastor harus berkonsentrasi penuh pada tugas-tugas keagamaan dan pastoral mereka, sementara tugas menerbangkan pesawat harus diserahkan kepada pilot profesional.
Komitmen terhadap keselamatan dan profesionalisme ini dimulai ketika pilot-pilot profesional pertama AMA dilatih langsung oleh maskapai nasional Belanda, KLM Royal Netherlands Airlines. Kemitraan ini meletakkan fondasi standar keselamatan dan profesionalisme tinggi yang terus dipegang teguh oleh AMA hingga hari ini.
Gotong Royong Membuka Isolasi
Para imam, bersama dengan para misionaris dari berbagai denominasi lain, memainkan peran kunci dalam pembangunan lapangan terbang (lapangan terbang perintis/airstrip) di pedalaman Papua. Polanya selalu dimulai dengan pendekatan humanis; setelah memutuskan untuk menetap di wilayah baru, para misionaris akan bekerja keras untuk memenangkan kepercayaan dan rasa hormat dari masyarakat lokal.
Setelah mereka berhasil menguasai bahasa daerah setempat, tugas raksasa berikutnya dimulai: membangun landasan pacu. Pada tahun 1960, AMA melakukan air drop (penerjunan logistik dari udara) pertama untuk menyuplai peralatan pembangunan landasan pacu di desa Modio, wilayah Paniai.
Kerja keras selama puluhan tahun ini membuahkan hasil yang luar biasa. Banyak masyarakat lokal di seluruh Papua yang awalnya tidak mengenal dunia luar, kini telah tumbuh menjadi perancang landasan pacu yang ahli. Mereka bahkan mampu membangun landasan-landasan pacu baru secara mandiri.
Sebagai bukti nyata keberlanjutan misi ini, pada tahun 2014, AMA berhasil membuka delapan landasan pacu baru di desa-desa yang sebelumnya sama sekali tidak dapat diakses oleh transportasi udara. Beberapa lokasi baru ini berada di wilayah yang dulunya membutuhkan waktu berjalan kaki hingga 3 hari hanya untuk mencapai lapangan terbang terdekat.
Catatan Emas
Pada tahun 1984, AMA merayakan Silver Anniversary atau Hari Jadi yang ke-25 tahun mengudara di Papua. Direktur AMA saat itu, Direktur Blommaert, mengumpulkan beberapa statistik luar biasa yang menggambarkan betapa masifnya kontribusi maskapai ini bagi masyarakat Papua selama seperempat abad. Dalam kurun waktu tersebut, AMA tercatat telah:
Terbang selama 67.000 jam,
Menempuh jarak 13.400,000 km (8.375.000 mil),
Mengangkut 120.000 penumpang, dan
Memindahkan kargo seberat 15.500.000 kg (34 juta pon).
Misi Kemanusiaan
Sejak awal berdirinya, AMA bukan sekadar maskapai pengangkut barang atau penumpang umum. Salah satu pilar pelayanan terpentingnya adalah Air Medevac (penerbangan evakuasi medis). Sejak medio 1960-an, pemandangan pesawat AMA mendarat di Bandara Sentani dengan membawa warga desa yang sakit parah dari pedalaman sudah menjadi bagian dari napas operasional mereka. Bagi masyarakat pedalaman yang tidak memiliki fasilitas rumah sakit memadai, kehadiran AMA adalah perpanjangan tangan Tuhan yang menyelamatkan ribuan nyawa dari ancaman kematian akibat keterlambatan penanganan medis.
AMA Hari Ini
Meskipun lahir dan dibesarkan di bawah naungan Gereja Katolik di Papua, AMA kini telah bertransformasi menjadi organisasi yang sepenuhnya mandiri secara finansial (self-supporting organization). Secara regulasi penerbangan modern, AMA beroperasi di bawah sertifikat charter Part 135, mengelola penerbangan dari 6 basis (base) yang tersebar strategis di seluruh pulau Papua.
Dari hangar sederhananya di Bandara Sentani pada tahun 1980-an, AMA kini telah menjelma menjadi maskapai perintis yang modern, tangguh, dan disegani. Kendati manajemen dan teknologinya telah dimodernisasi, satu hal yang tidak pernah berubah sejak pertemuan pertama di Amsterdam tahun 1935: komitmen total dan ketulusan hati AMA untuk terus melayani dan menjadi urat nadi kehidupan bagi masyarakat Papua di wilayah terpencil.
