YERUSALEM, Pena Katolik – Alkitab hanya memberikan sedikit informasi tentang kaum Saduki, kelompok kuno yang misterius. Namun, sumber-sumber sejarah di luar Alkitab dapat membantu kita mengisi kekosongan informasi tersebut, untuk memahami siapa sebenarnya kaum Saduki.
Dengan memahami kaum Saduki, ini sangat membantu kita untuk melihat betapa beragamnya lanskap Yudaisme pada zaman Yesus. Studi ini sekaligus memperjelas pemahaman Kristiani tentang kebangkitan badan.
Asal-usul dan Aliansi Politik
Mayoritas masyarakat Israel di bawah kekuasaan Romawi percaya bahwa Allah pasti akan mengintervensi sejarah; bahwa nasib Israel tidak hanya berada di tangan manusia. Mereka meyakini bahwa intervensi ilahi ini akan mencakup kebangkitan orang mati—sebuah bentuk pemulihan dan keadilan bagi mereka yang setia melawan tirani pagan.
Namun, kaum Saduki berbeda dari kebanyakan orang sezaman mereka. Mereka punya jalan sendiri dalam memahami cara Allah menyelamatkan umat-Nya. Mereka memiliki keyakinan yang sangat praktis: “Tuhan hanya membantu mereka yang mau berusaha membantu diri mereka sendiri”.
Kaum Saduki muncul sekitar periode Makabe dan lenyap bersamaan dengan hancurnya Yerusalem oleh Romawi pada tahun 70 Masehi. Cukup sulit untuk menjabarkan keyakinan dan praktik keagamaan mereka secara mendetail karena kita tidak memiliki catatan tertulis yang ditinggalkan langsung oleh orang-orang Saduki sendiri.
Meski demikian, keberadaan mereka pada abad pertama divalidasi oleh berbagai sumber independen yang konsisten, mulai dari teks Perjanjian Baru, catatan sejarawan Flavius Josephus, hingga beberapa teks rabi Yahudi kuno. Sumber-sumber ini—walaupun sering kali bernada tidak senang terhadap kaum Saduki—memberikan gambaran yang seragam: kaum Saduki memiliki hubungan erat dengan lingkaran imam agung, memiliki pandangan berbeda mengenai akhirat, dan memegang pemahaman hukum yang berbeda.
Kaum Saduki pertama kali disebut dalam catatan Josephus mengenai Yohanes Hirkanus (160–143 SM). Kemungkinan besar, Dinasti Hasmonean—para pewaris pemberontakan Makabe—membentuk aliansi politik dengan kaum Saduki. Dinasti Hasmonean ingin memperkuat kekuasaan mereka atas takhta kerajaan sekaligus jabatan imam agung.
Kerja sama dengan kaum Saduki memberikan legitimasi bagi Dinasti Hasmonean atas pengambilalihan jabatan imam agung tersebut. Sebagai imbalannya, kaum Saduki mendapatkan pengaruh dan kekuasaan politik yang besar.
Namun, roda berputar. Selama masa pemerintahan Ratu Salome Alexandra (76–69 SM)—seorang penguasa Hasmonean yang sebagai perempuan tidak dapat menjabat sebagai imam agung—dukungan kerajaan dialihkan kepada kelompok Farisi. Hal ini sangat memperlemah dan membahayakan posisi kaum Saduki.
Setelah kematian Ratu Salome, negara itu jatuh ke dalam periode kekacauan ketika kedua putranya, Hirkanus II dan Aristobulus II (bersama putra Aristobulus, Antigonus), saling berebut kekuasaan. Periode kelam ini berakhir pada tahun 37 SM ketika Herodes Agung, yang didukung penuh oleh Romawi, merebut kendali dan mengangkat dirinya sebagai Raja.
Herodes kemudian menunjuk imam-imam agungnya sendiri yang berasal dari keluarga-keluarga di Babilonia dan Mesir—para imam yang lebih tunduk kepada dirinya dan kekuasaan Romawi. Langkah Herodes ini secara efektif menghancurkan sisa-sisa kekuatan politik kaum Saduki pada masa itu.
Barulah setelah kematian Herodes pada tahun 4 SM, dan setelah putranya, Arkhelaus, digantikan oleh pemerintahan langsung Romawi, kaum Saduki mendapatkan kembali sebagian pengaruh politik mereka. Para prokurator (gubernur) Romawi mengizinkan imam agung untuk mengurus urusan sehari-hari Yerusalem, asalkan ketertiban umum tetap terjaga.
Imam agung pada gilirannya mengandalkan aristokrasi (kaum bangsawan) dari kalangan imam dan awam untuk menjalankan tugasnya. Yang menarik, beberapa imam agung selama periode ini dikenal sebagai orang Saduki, dan tidak ada satu pun yang tercatat sebagai orang Farisi.
Teks Perjanjian Baru
Dalam kitab-kitab Injil, kaum Saduki hanya muncul secara menonjol dalam satu perdebatan besar, yaitu mengenai isu kebangkitan badan. Injil Matius memang menyebut mereka dalam dua narasi lain, tetapi di sana mereka digambarkan secara umum sebagai bagian dari kelompok besar yang menentang Yesus.
Sementara itu, dalam Kitab Kisah Para Rasul, penentangan mereka terhadap para rasul juga berakar pada masalah kebangkitan. Di kitab yang sama, mereka disebut sebagai kelompoknya imam agung yang juga merepresentasikan diri di dalam Sanhedrin (Mahkamah Agama).
Kemunculan mereka yang terbatas dalam Perjanjian Baru mencerminkan apa yang juga disaksikan oleh sumber-sumber kuno lainnya. Kaum Saduki adalah kelompok kecil kaum elit Yahudi yang berpendidikan tinggi. Anggota inti mereka berasal dari keluarga-keluarga imam agung tradisional, dan pengaruh mereka sebagian besar hanya terbatas di wilayah Yerusalem dan Bait Allah pada masa pelayanan Yesus.
Hubungan erat mereka dengan Bait Allah melegitimasi status dan kekuasaan yang mereka terima di bawah pemerintahan Romawi. Hal ini secara otomatis membentuk mereka menjadi kelompok religius yang sangat konservatif.
Sebagai kaum konservatif, mereka menolak tradisi-tradisi baru di luar Taurat, terutama tradisi lisan yang diagungkan oleh kaum Farisi. Mereka juga menolak doktrin tentang kebangkitan orang mati.
Penolakan mereka terhadap kebangkitan ini dapat ditelusuri dari karakter konservatif dan kepentingan politik mereka. Kaum Saduki tampaknya hanya peduli untuk mempertahankan kekuasaan dan kenyamanan mereka di masa sekarang. Oleh karena itu, mereka tidak begitu tertarik pada konsep akhirat ataupun keadilan Allah bagi orang-orang miskin dan tertindas di masa depan.
Tubuh dan Kebangkitan
Sama seperti mayoritas orang Yahudi pada abad pertama, kaum Saduki menolak gagasan Platonis (filsafat Yunani) yang menyatakan bahwa jiwa atau pikiran manusia yang murni harus diselamatkan dengan cara dilepaskan dari tubuhnya yang fana dan rusak.
Bagi dunia Yudaisme, ciptaan pada dasarnya adalah baik sejak mulanya. Dunia bukanlah sesuatu yang harus ditinggalkan atau dianggap najis, melainkan sesuatu yang berharga dan harus diselamatkan. Pertanyaannya saat itu hanyalah: Bagaimana caranya?
Melalui pesan Injil, Kristus menawarkan pembaruan atas seluruh ciptaan dan pemulihan kemanusiaan yang melampaui kedahsyatan maut. Oleh karena itu, di dalam kepenuhan kemanusiaan kita yang utuh—baik tubuh maupun jiwa yang kelak dibangkitkan—kita dimungkinkan untuk menyembah dan memuliakan Allah dengan sempurna untuk selama-lamanya.
