LIEGE, Pena Katolik – Tujuan akhir dari setiap orang kudus—yang sebenarnya merupakan panggilan bagi kita semua—adalah menjadi makin serupa dengan Yesus Kristus dalam setiap perkataan dan perbuatan di dunia. Melalui proses inilah, jiwa manusia dipersiapkan untuk bersatu sepenuhnya dengan Sang Pencipta dalam keabadian.
Namun, dalam beberapa kisah yang sangat langka, beberapa orang kudus secara harafiah menerima luka-luka fisik yang diderita Kristus saat penyaliban. Fenomena spiritual ini disebut stigmata (berarti ‘tanda’), sebuah karunia khusus yang dianugerahkan Tuhan kepada jiwa-jiwa pilihan-Nya.
Sejarah mencatat seorang biarawati Cistercian asal Belgia bernama Santa Lutgardis dari Aywières, sebagai perempuan pertama di dunia yang menerima anugerah agung ini.
Hati Kudus Yesus
St. Lutgardis lahir pada tahun 1182 (hanya terpaut satu tahun setelah kelahiran Santo Fransiskus dari Asisi). Ia masuk ke biara Benediktin pada usia yang sangat muda, yaitu 12 tahun. Sejak masa mudanya di biara, ia mulai mengalami berbagai pengalaman mistis yang mendalam.
Salah satu peristiwa mistis paling monumental dalam hidupnya adalah momen “Pertukaran Hati”. Dalam sebuah penglihatan spiritual, Yesus menampakkan diri dan bertanya kepadanya, “Lalu, apa yang engkau inginkan?”
Lutgardis menjawab dengan penuh penyerahan, “Tuhan, aku menginginkan Hati-Mu.”
Yesus pun membalas, “Jika demikian, Aku pun menginginkan hatimu.”
Melalui dialog surgawi ini, Lutgardis dipersatukan dengan Yesus dalam ikatan intim yang jarang dicapai oleh manusia biasa. Tidak lama setelah peristiwa tersebut, ia kembali menerima penglihatan. Kali ini, ia melihat Yesus yang sedang tergantung di kayu salib. Dari atas salib, Yesus merangkulnya, dan Lutgarde mendekatkan bibirnya untuk mengecup lambung Yesus yang bersimbah darah.
Darah dan Akhir Hayat
Sejak pengalaman mistis tersebut, kehidupan spiritual Lutgardis bertransformasi secara fisik. Para suster sesama biara sering kali mendapati Lutgardis bersimbah darah, setelah ia menghabiskan waktu yang lama dalam doa. Ia kerap mengeluarkan keringat darah, dan darah segar juga mengalir dari sela-sela tangannya.
Suatu hari, seorang imam sempat menyaksikan sendiri kondisi Lutgardis yang dipenuhi darah, namun tak lama kemudian, darah tersebut menghilang secara mukjizat di depan matanya.
St. Lutgardis wafat pada tanggal 16 Juni 1246, tepat 20 tahun setelah wafatnya Santo Fransiskus dari Asisi. Hingga hari ini, kisah hidup dan pengalaman mistisnya terus memikat banyak orang. Ia dihormati dalam sejarah Gereja sebagai salah satu orang kudus pelopor yang pertama kali menyebarkan devosi kepada Hati Kudus Yesus.
