Seminar Yubelium Santo Fransiskus Assisi: Uskup Samuel Ajak Umat Menjadi Peziarah Perdamaian Melalui Pertobatan dan Kesederhanaan

PenaKatolik.Com | Administrator Apostolik Keuskupan Agung Pontianak, Mgr. Dr. Samuel Oton Sidin, OFMCap, mengajak umat Katolik, khususnya insan pendidikan, untuk menjadi peziarah perdamaian dengan meneladani semangat hidup Santo Fransiskus Assisi yang berakar pada pertobatan, kesederhanaan, persaudaraan, dan kepedulian terhadap lingkungan hidup.

Ajakan tersebut disampaikan Uskup Samuel dalam seminar bertajuk “Menjadi Peziarah Perdamaian dengan Semangat Santo Fransiskus Assisi” yang digelar di Function Hall Lantai 10 Gedung St. Fransiskus Assisi Universitas Widya Dharma Pontianak, Senin (29/6/2026). Seminar dipandu oleh Pastor Dr. Paulus Toni Tantiono, OFMCap, dan dihadiri antara lain para imam, biarawan-biarawati, sivitas akademika, serta para undangan.

Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian perayaan Tahun Yubelium Santo Fransiskus Assisi, dan – juga merupakan pelindung Universitas Widya Dharma Pontianak.

Dalam sambutannya, Ketua Pengurus Yayasan Widya Dharma Pontianak, Polycarpus Widjaja Tandra, SH., MM., mengatakan bahwa seminar tersebut tidak sekadar menjadi forum akademik, tetapi juga menjadi momentum refleksi untuk menghadirkan perdamaian dalam kehidupan sehari-hari.

“Melalui seminar ini, kita diajak menjadi peziarah perdamaian, bukan dengan melakukan perjalanan ke Assisi, tetapi dengan mewujudkan perdamaian dalam kehidupan sehari-hari, baik di kampus, di ruang kelas, di tempat kerja, bersama mahasiswa maupun hidup di tengah masyarakat,” ujarnya, (29/06).

Menurut Tandra, Santo Fransiskus Assisi mewariskan berbagai nilai luhur yang tetap relevan hingga kini. Dari sekian banyak teladan hidup sang santo, ia menyoroti tiga nilai utama yang menjadi landasan tema seminar, yakni kesederhanaan, persaudaraan, dan kepedulian terhadap lingkungan hidup.

Dia menjelaskan bahwa kesederhanaan bukan berarti hidup dalam kekurangan, melainkan membebaskan diri dari keserakahan agar mampu melayani Tuhan dan sesama dengan tulus. Di lingkungan pendidikan, nilai tersebut diwujudkan melalui pengabdian para pengurus yayasan, dosen, maupun tenaga kependidikan dalam membentuk karakter mahasiswa.

Selain itu, semangat persaudaraan diwujudkan melalui kerja sama yang harmonis di lingkungan kampus sehingga mampu melahirkan lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki empati sosial, moral, dan kemanusiaan.

Tandra juga menekankan pentingnya kepedulian terhadap lingkungan sebagai bagian dari iman yang nyata. Menurutnya, menjaga kebersihan kampus, menghemat energi, menanam pohon, hingga membangun kesadaran ekologis mahasiswa merupakan bentuk tanggung jawab terhadap ciptaan Tuhan.

Mengakhiri sambutannya, ia mengutip doa Santo Fransiskus Assisi yang terkenal, “Tuhan, jadikanlah aku pembawa damai-Mu. Di mana ada kebencian, kutaburkan cinta; di mana ada perselisihan, kutaburkan pengampunan.”

Dia berharap seminar tersebut tidak hanya menambah wawasan peserta, tetapi juga mengubah hati mereka menjadi pribadi yang menghadirkan damai di tengah masyarakat.

Administrator Apostolik Keuskupan Agung Pontianak, Mgr. Dr. Samuel Oton Sidin, OFMCap dan Pastor Dr. Toni Tantiono, OFMCap dalam seminar di UWDP (Yubelium Santo Fransiskus) – Senin 29 Juni 2026.
Pertobatan menjadi jalan menuju kedamaian

Dalam materi utamanya, Mgr. Dr. Samuel Oton Sidin, OFMCap mengajak peserta memahami perjalanan hidup Santo Fransiskus Assisi yang mengalami transformasi radikal dari seorang anak saudagar kaya menjadi pribadi yang sepenuhnya menyerahkan hidup kepada kehendak Allah.

Menurut Uskup Samuel, kehidupan Santo Fransiskus berlangsung pada masa penuh kekacauan sosial. Sebelum bertobat, Fransiskus menikmati kehidupan mewah, memiliki banyak teman, dan mengejar kehormatan sebagai seorang kesatria. Namun berbagai pengalaman pahit, termasuk kegagalan, sakit, dan penjara, membawanya pada perenungan mendalam mengenai makna hidup.

Uskup Samuel menjelaskan bahwa proses menemukan kehendak Allah bukanlah sesuatu yang mudah.

“Mencari kehendak Allah bukanlah hal yang gampang. Menanggalkan diri, menemukan diri, dan meninggalkan diri bukanlah hal yang gampang,” katanya.

Dia mengatakan pertobatan Santo Fransiskus berlangsung secara perlahan melalui doa pribadi, pendampingan rohani, serta keberanian keluar dari ego demi menemukan kehendak Tuhan.

Menurutnya, perubahan itu menghasilkan sukacita dan kedamaian sejati karena Fransiskus tidak lagi melekat pada kemewahan dunia, melainkan pada kehendak Allah.

Berani meninggalkan kenyamanan

Uskup Samuel menjelaskan bahwa salah satu peristiwa paling simbolis dalam kehidupan Santo Fransiskus adalah ketika ia menanggalkan pakaiannya di hadapan ayah kandungnya sebagai tanda melepaskan seluruh harta duniawi.

Keputusan itu membuatnya dicemooh bahkan dianggap gila. Namun justru dari keberanian meninggalkan kenyamanan itulah ia menemukan kebebasan batin.

“Ia berani tampil apa adanya, tidak ada kemunafikan. Ia polos di hadapan Allah dan manusia, tulus, murni, dan suci,” tutur Uskup Samuel.

Menurutnya, seorang peziarah perdamaian adalah pribadi yang telah berdamai dengan Allah dan dirinya sendiri sehingga tidak lagi diperbudak rasa takut ataupun ambisi duniawi.

“Peziarah ini terlatih. Ia bebas melangkah tanpa dihantui ketakutan apa pun kecuali takut akan Allah,” ujarnya.

Kedamaian lahir dari hati yang bebas

Lebih lanjut, Uskup Samuel mengatakan bahwa kedamaian sejati hanya dapat dialami ketika seseorang telah bebas dari keterikatan terhadap harta, ego, maupun dendam.

Dia menegaskan bahwa orang yang benar-benar damai tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, bahkan mampu menerima perlakuan yang tidak adil tanpa menyimpan kebencian.

“Jika kita memiliki kedamaian, maka kita mampu menerima apa pun. Tidak membalas kejahatan dengan kejahatan,” katanya.

Menurutnya, kebebasan batin itu membuat Santo Fransiskus mampu memandang seluruh ciptaan sebagai saudara karena semuanya berasal dari Bapa yang sama.

Meski secara materi hidup miskin, Fransiskus justru menjadi pribadi yang paling kaya karena memiliki segala sesuatu di dalam Allah.

“Sukacita sejati itu tidak memiliki apa-apa, tidak terikat pada apa-apa, tetapi mengalami kedamaian dalam diri. Namun ia paling kaya karena memiliki segala-galanya dalam Allah,” jelasnya.

Relevan dengan tantangan zaman

Uskup Samuel menilai ajaran Santo Fransiskus sangat relevan dengan situasi dunia saat ini yang semakin diwarnai eksploitasi lingkungan dan budaya materialisme.

Menanggapi pertanyaan peserta mengenai kerusakan lingkungan di Kalimantan Barat, dia menegaskan bahwa semangat Fransiskan mengajarkan manusia untuk hidup secukupnya dan tidak dikuasai keserakahan.

“Ada orang yang tidak pernah puas dengan harta. Itulah dosa. Fransiskus mengajarkan semangat untuk puas,” tegasnya.

Dia mengatakan perjuangan menjaga lingkungan hidup merupakan bagian dari panggilan iman. Karena itu, umat perlu terus mendapatkan pendidikan iman melalui katekese agar semakin sadar bahwa merusak lingkungan merupakan tindakan yang bertentangan dengan kehendak Allah.

Menurut Uskup Samuel, semangat ekologis yang terus didorong Gereja melalui ajaran Laudato Si’ perlu diterjemahkan dalam tindakan nyata dan pendidikan berkelanjutan.

Menjawab pertanyaan mengenai hubungan antara pembangunan ekonomi dan pelestarian alam, dia menegaskan bahwa Gereja tidak melarang orang menjadi kaya. Namun kesejahteraan harus dicapai melalui cara-cara yang benar dan menghormati alam.

“Bukan tidak boleh kaya. Tuhan tidak melarang orang makan roti. Tetapi ada proses yang benar untuk mendapatkannya. Gunakan hati nurani dan pendidikan supaya kita memperoleh ‘emas’ dengan baik dan benar,” ujarnya.

Dia mengingatkan bahwa manusia perlu menghargai alam sebagai sesama ciptaan Tuhan.

“Hargailah alam. Alam memiliki jiwa. Jika terjadi pemberontakan dari alam, mari kita renungkan apa yang sudah kita buat.”

Transformasi menuju persaudaraan universal

Pada akhir seminar, Pastor Dr. Paulus Toni Tantiono, OFMCap, menyimpulkan bahwa perjalanan Santo Fransiskus merupakan kisah transformasi manusia yang meninggalkan ketergantungan pada kekayaan dunia menuju sukacita sejati dalam Allah.

Menurutnya, Santo Fransiskus mengajarkan keberanian bekerja dengan tangan sendiri, menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan, hidup sederhana tanpa kemunafikan, serta memandang semua orang sebagai saudara.

“St. Fransiskus menjadi contoh untuk hidup berdamai dalam kehidupan masa kini melalui semangat Injili, hidup sederhana, apa adanya, tidak munafik, dan menjadi saudara bagi semua,” kata Pastor Toni menutup seminar.*Samuel.

Komentar

Tinggalkan Pesan

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terhubung ke Media Sosial Kami

45,030FansSuka
0PengikutMengikuti
75PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

Terkini