PenaKatolik.Com | Kesempatan sering kali datang dalam bentuk yang sederhana: sebuah uluran tangan, sebuah kepercayaan, atau sebuah beasiswa yang membuka pintu menuju masa depan yang lebih baik. Namun bagi para penerima Beasiswa Dominikan Indonesia (BDI), kesempatan itu bukan sekadar bantuan pendidikan, melainkan sebuah perjalanan untuk menemukan jati diri dan mengubah hidup.
Dikelola oleh Yayasan Martinus De Porres (YMDP), Beasiswa Dominikan Indonesia hadir sebagai program pendampingan bagi mahasiswa berprestasi dari keluarga kurang mampu. Lebih dari sekadar bantuan finansial, program ini berupaya membentuk manusia seutuhnya melalui pendidikan, pembinaan karakter, pengembangan kepemimpinan, dan pendalaman nilai-nilai spiritual dalam semangat Keluarga Dominikan.
BDI percaya bahwa perubahan besar sering kali lahir dari mereka yang selama ini luput dari perhatian, namun menyimpan potensi yang luar biasa. Karena itu, setiap penerima beasiswa didorong untuk tidak berhenti menjadi pribadi yang ditolong, melainkan bertumbuh menjadi pribadi yang siap menolong, melayani, dan membawa terang bagi sesama.
Semangat itulah yang terasa dalam pertemuan sharing bersama para penerima BDI yang tinggal di wilayah Pontianak pada Rabu, 24 Juni 2026. Bertempat di Kapel Biara Santo Dominikus Pontianak, para mahasiswa berkumpul bersama Romo Andreas Kurniawan, OP, Ko Welly, dan Ibu Santi, salah seorang relawan sekaligus donatur BDI.
Suasana pertemuan berlangsung hangat dan penuh keterbukaan. Satu per satu peserta membagikan perjalanan hidup, pergumulan, serta impian yang mereka bawa sejak menjadi bagian dari keluarga besar Beasiswa Dominikan Indonesia.
Roy, salah seorang peserta, bercerita tentang perjuangannya membagi waktu antara kuliah dan pekerjaan. Kesulitan mengelola dua tanggung jawab tersebut akhirnya membuatnya mengambil keputusan untuk berhenti bekerja agar dapat fokus menyelesaikan pendidikan.
“Setelah lulus, saya ingin membuka usaha sendiri, seperti barbershop dan usaha sablon atau pakaian,” ujarnya penuh harapan.
Di sudut lain, Patricia mengisahkan pilihannya untuk menempuh Program Studi Arsitektur, sebuah bidang yang sejak lama menjadi cita-citanya.
Berbeda dengan Patricia, Cenny justru mengalami perubahan arah hidup. Ketika kecil ia bercita-cita menjadi dokter, namun seiring waktu ketertarikannya beralih ke dunia pertambangan.
Perjuangan lain datang dari Putri, yang menjalani kuliah sambil bekerja sebagai kasir di sebuah toko roti. Baginya, pendidikan dan pekerjaan sama-sama penting sehingga ia berusaha mengatur jadwal kerja agar tidak mengganggu kuliah.
Sementara itu, Evan memilih Program Studi Ilmu Pertanian dengan harapan suatu hari dapat mengembangkan lahan milik keluarganya di kampung halaman. Ia bermimpi agar masyarakat tidak hanya bergantung pada perkebunan kelapa sawit, tetapi juga mampu mengembangkan berbagai jenis tanaman lain yang bernilai ekonomi.
Ketertarikan serupa juga dimiliki Niko. Kecintaannya terhadap dunia pertanian membawanya memilih Program Studi Agribisnis. Ia bahkan telah memiliki cita-cita yang sangat spesifik: menjadi peternak babi yang berhasil dan mampu membuka lapangan pekerjaan bagi banyak orang.
Pertemuan itu tidak hanya menjadi ruang berbagi bagi para mahasiswa, tetapi juga kesempatan untuk mendengarkan kisah perjuangan dari para pendamping mereka.
Ko Welly, yang selama ini menjadi tutor kelas Website bagi para penerima BDI, membagikan perjalanan hidupnya yang penuh tantangan. Ia pernah menjalani kuliah sambil bekerja di Universitas Widya Dharma. Karena kesibukan pekerjaan, ia sempat menghentikan perkuliahannya. Namun semangat untuk terus belajar membuatnya bangkit dan melanjutkan pendidikan di Universitas Bina Nusantara (Binus) pada Program Studi Bisnis.
Perjalanan itu tidak selalu mudah. Ia harus berjuang membagi waktu antara pekerjaan dan perkuliahan. Namun kegigihan dan keinginannya untuk terus berkembang membuahkan hasil. Berbagai kesempatan beasiswa ia ikuti, hingga akhirnya memperoleh kesempatan untuk melanjutkan studi di salah satu perguruan tinggi di Thailand.
Kisah-kisah tersebut menjadi semakin bermakna ketika Romo Andreas Kurniawan, OP, mengajak para peserta melihat setiap pengalaman hidup dalam terang iman.
“Setiap orang memiliki perjalanan yang berbeda. Tidak ada satu pun yang terjadi secara kebetulan. Tuhan selalu punya rencana. Meskipun hidup kadang seperti ditiup angin ke berbagai arah, ingatlah bahwa Tuhan mempunyai rencana melalui setiap pilihan yang kita ambil,” ungkap Romo Andre.
Ia juga mengajak para peserta untuk mensyukuri berbagai berkat yang telah diterima melalui Beasiswa Dominikan Indonesia serta menghargai setiap perjumpaan yang terjadi dalam hidup. Menurutnya, banyak perjumpaan yang tampak biasa justru menjadi titik penting yang mengubah arah kehidupan seseorang.
Pertemuan di Kapel Biara Santo Dominikus itu menjadi cermin bahwa perjalanan menuju masa depan tidak pernah berjalan lurus. Ada yang harus meninggalkan pekerjaan demi pendidikan, ada yang bekerja sambil kuliah, ada pula yang kembali melanjutkan pendidikan setelah sempat berhenti.
Meski datang dari latar belakang yang berbeda, seluruh kisah tersebut memiliki benang merah yang sama: ketekunan, keberanian mengambil keputusan, dan kesediaan untuk terus belajar.
Pada akhirnya, Beasiswa Dominikan Indonesia tidak hanya membantu mahasiswa meraih gelar akademik. Lebih dari itu, program ini menjadi ruang pembentukan manusia, tempat mimpi-mimpi dipelihara, karakter dibentuk, dan harapan dipupuk.
Karena sesungguhnya pendidikan bukan hanya tentang memperoleh pengetahuan, melainkan tentang menemukan makna hidup, mengenali panggilan, dan bertumbuh menjadi pribadi yang mampu membawa terang bagi sesama. (Abxy)
