CARACAS, Pena Katolik — Dua gempa bumi dahsyat mengguncang Venezuela hanya dalam selang waktu 40 detik. Ironisnya, bencana ini terjadi tepat pada hari libur nasional memperingati pesta Santo Yohanes Pembaptis dan Pertempuran Carabobo.
Gempa pertama berkekuatan Magnitudo 7,2 mengguncang wilayah dekat San Felipe, barat laut Venezuela, pada pukul 18.04 waktu setempat. Hanya 39 detik kemudian, gempa susulan berkekuatan Magnitudo 7,5—gempa terbesar yang melanda Venezuela sejak tahun 1900—kembali menghantam wilayah yang sama.
Karena bertepatan dengan hari libur nasional, seluruh sekolah, kantor, dan pusat perbelanjaan sedang tutup. Uskup Agung Caracas, Mgr. Raúl Biord Castillo, menyebutkan bahwa faktor momentum libur inilah yang berhasil menekan jumlah korban jiwa agar tidak jauh lebih besar.
Hingga saat ini, laporan resmi mencatat sedikitnya 188 orang tewas dan lebih dari 1.500 lainnya luka-luka. Sementara itu, ratusan warga diperkirakan masih terjebak di bawah reruntuhan bangunan. Badan Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) bahkan memperingatkan bahwa jumlah korban tewas akhir bisa membengkak hingga ribuan jiwa.
Darurat Nasional
Negara bagian La Guaira, yang terletak di utara ibu kota Caracas, menjadi wilayah yang terdampak paling parah. Penjabat Presiden Delcy Rodríguez segera mendeklarasikan status darurat nasional dan menggambarkan situasi ini sebagai “tragedi yang nyata” serta menetapkan wilayah tersebut sebagai “zona bencana”.
Di Caracas, puluhan bangunan runtuh, termasuk di kawasan padat Los Palos Grandes dan Altamira. Bandara Internasional Simón Bolívar pun terpaksa ditutup total. Lebih dari 138 gempa susulan terus mengguncang, dan para ahli seismologi memperingatkan kemungkinan adanya guncangan besar berikutnya dalam beberapa hari ke depan.
Di Catia La Mar, La Guaira, pemandangan pilu terlihat jelas saat warga berkendara melewati gedung-gedung apartemen yang fasadnya robek terbuka. Warga lokal terus menyisir puing-puing, mencari anggota keluarga mereka yang hilang secara mandiri maupun dibantu petugas.
Gereja Yang Pertama Merespons
Gereja Katolik setempat turut menjadi korban parah dalam bencana ini, sekaligus menjadi pihak pertama yang bergerak melakukan aksi kemanusiaan.
Katedral Caracas mengalami kerusakan struktural yang serius, bersama dengan belasan paroki lain di zona bencana. Mgr. Raúl Biord Castillo meninjau langsung lokasi-lokasi reruntuhan. Berdiri di antara puing-puing Gereja San José de Ñaúralí, ia membagikan kesaksiannya:
“Di Ñaúralí, atap bagian tengah sebelah kanan runtuh. Gereja dan rumah paroki Pagüita juga hancur total. Pastor parokinya selamat secara mukjizat.”
Sementara itu di La Guaira, seminari keuskupan yang dibangun atas bantuan lembaga Aid to the Church in Need (ACN) mengalami runtuh tembok, memaksa para romo dan seminaris mengungsi ke tempat parkir stadion terdekat. Uskup La Guaira, Mgr. Pablo Modesto González Pérez, melaporkan bahwa wilayah keuskupannya mengalami pemadaman listrik total, namun ia bersyukur tidak ada korban jiwa dari kalangan klerus maupun seminaris.
Prioritas Nyawa
Meski bangunan-bangunan mereka hancur, Gereja tidak tinggal diam. Paroki-paroki di seluruh zona terdampak langsung membuka pintu mereka semalaman sebagai tempat penampungan darurat bagi keluarga yang kehilangan tempat tinggal. Jaringan solidaritas kemanusiaan Caritas juga langsung diaktifkan seketika.
Melalui video di akun Instagram resminya, Uskup Agung Biord menyerukan persatuan dan doa bagi seluruh bangsa:
“Kita memohon kepada Allah agar kita semua dapat menghadapi momen ini bersama-sama. Di dalam Tuhan ada penghiburan, dan di dalam sesama ada solidaritas serta kasih. Hal terpenting saat ini adalah kita sebagai satu bangsa merasa bersatu untuk melihat bagaimana kita dapat membantu mereka yang terlantar dan kehilangan rumah.”
“Kerusakan material, hancurnya gereja-gereja, memang membawa rasa sakit bagi kami—tetapi hal itu bisa dibangun kembali. Nyawa manusialah yang paling berharga dan utama saat ini.”
Respons cepat datang dari Vatikan. Paus Leo XIV melalui Kantor Penasihat Apostolik, yang berkoordinasi dengan Nuncio Apostolik untuk Venezuela, Mgr. Alberto Ortega Martín, serta Mgr. Biord, langsung mengirimkan bantuan darurat tahap awal sebesar €100.000 (sekitar Rp1,75 miliar). Takhta Suci menegaskan bantuan lanjutan akan segera menyusul setelah penilaian kebutuhan di lapangan selesai dilakukan.
Yayasan pontifikal Aid to the Church in Need (ACN), yang selama ini menempatkan Venezuela sebagai negara prioritas, juga bergerak cepat. Selama bertahun-tahun, ACN telah mendanai berbagai proyek di sana, termasuk pembangunan seminari La Guaira dan gereja di Ciudad Chávez yang melayani 20.000 umat.
“Gereja melakukan apa yang selalu dilakukannya di masa-masa krisis,” ujar Marco Mencaglia, Direktur Proyek ACN. “Membuka pintunya, mendampingi mereka yang telah kehilangan segalanya, dan membawa harapan di tempat di mana ketakutan mulai melanda.”
Amerika Serikat telah mengumumkan bantuan kemanusiaan sebesar $150 juta, dan tim penyelamat dari berbagai negara di kawasan Amerika mulai mendarat di Venezuela untuk membantu evakuasi.



