JAKARTA, Pena Katolik – Mengenang Romo Adrianus Andy Gunardi, Pr, imam yang percaya bahwa formasi bukan sekadar mendidik, melainkan berjalan bersama dan mengantar seseorang menemukan panggilannya.
Ada orang yang kita kenang karena kata-katanya. Ada yang dikenang karena jabatan dan karya besarnya. Namun ada pula orang yang justru paling dirindukan karena hal-hal sederhana yang pernah dilakukannya: makan bersama, menemani perjalanan, berbelanja kebutuhan rumah, mendengarkan cerita, atau mengantar seseorang sampai ke bandara.
Begitulah sejumlah kenangan tentang Rm. Adrianus Andy Gunardi, Pr. Selasa, 11 Agustus 2026, pukul 01.24, Romo Andy berpulang dalam usia 50 tahun. Ia lahir di Jakarta, 17 September 1975. Kepergiannya menyisakan duka bagi keluarga, para imam, seminaris, umat, serta begitu banyak orang yang pernah mengalami pendampingannya.
Kabar duka tentang dirinya menyertakan kata-kata Rasul Paulus yang kini terasa begitu dekat dengan perjalanan hidupnya: “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.” 2 Timotius 4:7
Namun untuk mengenal Romo Andy, mungkin kita tidak perlu memulai dari saat hidupnya berakhir. Kita dapat memulainya dari sebuah kata yang pernah menjadi bagian penting dari pemikirannya: terang.
Membentuk Manusia, Bukan Sekadar Calon Imam
Nama Romo Andy tidak dapat dilepaskan dari karya pembinaan calon imam, khususnya di Seminari Menengah Wacana Bhakti Jakarta. Ketika seminari itu merayakan 30 tahun perjalanannya pada 2017, Romo Andy berbicara kepada HIDUP Katolik tentang cara memandang formasi. Baginya, pendidikan seminari tidak sekadar mempertahankan rutinitas atau menghasilkan sebanyak mungkin calon imam. Ia berbicara tentang pembentukan manusia yang utuh.
Romo Andy melihat perlunya model pembinaan yang mampu menjawab perubahan zaman. Ia menekankan empat dimensi: Sanctitas, Scientia, Sanitas, dan Societas—kehidupan rohani, pengetahuan dan daya juang, kemampuan merawat diri, serta kemampuan hidup bersama orang lain.
Karena itu, seorang seminaris tidak cukup hanya pandai berdoa atau memperoleh nilai akademik yang baik. Ia perlu mengenal dirinya, belajar hidup bersama orang lain, bertumbuh dalam kedewasaan, dan menemukan kegembiraan dalam panggilannya.
Bahkan terhadap anak muda yang melakukan kesalahan, Romo Andy mempunyai pendekatan yang menarik. Pembinaan, menurutnya, perlu membantu seseorang melihat nilai positif dalam dirinya. Ia lebih menekankan apresiasi daripada sekadar hukuman.
Tetapi ada satu perkataannya yang kini, sembilan tahun kemudian, terdengar seperti sebuah eulogi bagi kehidupannya sendiri. Romo Andy mengatakan bahwa semangat pembinaan calon imam adalah bagaimana mereka bersedia “memberikan diri bagi orang lain dan rela berkorban bagi orang lain.”
Dahulu, kalimat itu ditujukan kepada para seminaris. Hari ini, kalimat tersebut seperti kembali kepada orang yang mengucapkannya. Sebab itulah yang selama ini berusaha dijalani Romo Andy sendiri.
Makan Seafood dan Kenangan Seorang Seminaris
Teori tentang formasi terkadang terdengar besar. Namun mereka yang pernah hidup bersama seorang formator biasanya justru mengingat perkara-perkara kecil. Salah satunya Romo Samuel Sonny Gunawan OP (Romo Elson) yang pernah mengalami pendampingan Romo Andy.
Ada satu kenangan sederhana, ketika ia dan teman-temannya menyelesaikan pendidikan SMA. Romo Andy mengajak mereka pergi bersama ke Kelapa Gading. Tidak ada acara resmi, mereka menonton film di Mal Kelapa Gading, lalu makan seafood bersama.
“Saya sering pergi bareng dengan dia dulu, kalau belanja kebutuhan seminari,” kenang Romo Elson.
Bagi orang lain, kenangan itu mungkin terdengar biasa, namun justru dari cerita kecil tersebut tampak wajah lain seorang rektor seminari.
Romo Andy tidak selalu hadir sebagai “Romo Rektor” yang berbicara dari depan ruang pembinaan. Ia juga hadir sebagai imam yang berjalan bersama anak-anak muda yang dipercayakan kepadanya: “ada perjalanan dengan mobil”; “ada belanja kebutuhan seminari; “ada makan Bersama”. Ada percakapan yang mungkin sekarang bahkan tidak seluruhnya dapat diingat. Tetapi terkadang, justru pengalaman-pengalaman sederhana seperti itulah yang membuat seorang anak muda merasa bahwa perjalanan panggilannya tidak dijalani sendirian.
Mengantar Sampai Bandara
Romo Elson masih menyimpan satu kenangan lain. Pada 2013, ketika tiba waktunya untuk meninggalkan Indonesia dan melanjutkan perjalanan formasi ke Filipina, Romo Andy mengantarnya ke bandara.
Hanya sebuah perjalanan menuju bandara, namun bertahun-tahun kemudian, adegan sederhana itu mendapatkan makna yang berbeda. Seorang formator sedang mengantar seorang anak muda menuju tahap berikutnya dari sebuah perjalanan yang belum diketahui ujungnya. Romo Andy mengantar. Lalu, ia harus melepaskan anak muda itu melanjutkan perjalanan.
Bertahun-tahun kemudian, Elson menjadi seorang Imam Dominikan dan dipanggil Romo Elson. Barangkali, di sinilah kita menemukan salah satu gambaran paling indah mengenai seorang formator, “formator adalah orang yang mengantar, tetapi tidak harus ikut sampai tujuan”. Ia berjalan bersama seseorang untuk sebagian perjalanan. Ia membantu orang muda mengenali jalan. Kadang, ia mengoreksi. Kadang, ia mendengarkan. Kadang hanya hadir.
Lalu pada waktunya ia berdiri di belakang dan berkata tanpa banyak kata, “sekarang, lanjutkan perjalananmu.” Buah kehidupan seorang formator karena itu sering kali baru terlihat bertahun-tahun kemudian. Ketika seminaris yang dahulu dibimbingnya menjadi imam. Ketika orang muda yang dahulu penuh keraguan menemukan panggilannya. Ketika seseorang yang pernah dibentuknya kemudian mulai membentuk orang lain.
Menjadi Terang Sampai Ujung Bumi
Ketika Wacana Bhakti merayakan perjalanannya selama 30 tahun, Romo Andy dalam wawancaranya dengan Majalah HIDUP. Ia mengutip Yesaya 49:6: “Aku akan membuat engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa.” Ia melihat para alumni yang tersebar di berbagai tempat sebagai terang yang bergerak keluar dari tempat mereka pernah dibentuk.
Kini kata terang itu mempunyai arti yang jauh lebih personal. Sebab sang formator sendiri telah pergi. Tetapi seorang formator mempunyai cara yang unik untuk tetap hidup. Ketika seorang imam yang dahulu pernah dibimbingnya berdiri di altar, sedikit dari kehidupan formatornya ikut berdiri bersamanya.
Ketika imam itu mendengarkan umat yang sedang terluka, mungkin ada sesuatu dari cara dahulu ia sendiri pernah didengarkan. Ketika ia mengunjungi orang sakit, menemani keluarga yang berduka atau bertahan dalam tugas yang sulit, mungkin ada satu-dua kalimat seorang formator yang dahulu pernah meneguhkannya.
Seorang formator hidup lebih lama daripada usianya. Ia hidup dalam orang-orang yang pernah dibentuknya. Perjalanan Romo Andy akhirnya memang kembali membawanya kepada dunia tersebut.
Sejak tahun 2023, ia bertugas sebagai formator dan Direktur Unit Wisma TOR Seminari Tinggi St. Yohanes Paulus II KAJ. Seakan Tuhan membawanya kembali kepada pelayanan yang begitu dekat dengan kehidupannya: menemani orang muda menemukan ke mana Tuhan memanggil mereka.
Homili yang Baru Dimengerti Setelah Ia Pergi
Setiap imam meninggalkan banyak homili. Ada homili yang dipersiapkan berjam-jam. Ada yang ditulis. Ada yang disampaikan sederhana dari altar. Sebagian diingat umat, sebagian mungkin terlupakan beberapa jam setelah Misa selesai.
Namun ada satu homili yang tidak pernah dapat dipersiapkan seorang imam, “homili kehidupannya sendiri”. Homili itu baru dapat dibaca secara utuh ketika perjalanan hidupnya selesai. Dan apabila kehidupan Romo Andy dibaca sebagai sebuah homili, mungkin pesannya tidak rumit, “hidup menjadi berarti ketika berani diberikan”.
Ia pernah meminta para seminaris belajar memberikan diri dan rela berkorban bagi orang lain. Ternyata, ia tidak hanya mengajarkannya, ia berusaha menjalaninya dalam pelayanan, dalam pembinaan, dan dalam perjumpaan. Bahkan dalam hal sesederhana mengajak anak-anak seminari makan seafood, menemani berbelanja, atau mengantar seorang seminaris ke bandara. Hal-hal yang dahulu terasa biasa, setelah seseorang pergi, terkadang berubah menjadi kenangan yang sangat berharga.
Giliran Kita Mengantar
Tahun 2013, Romo Andy pernah mengantar seorang seminaris menuju bandara untuk meneruskan perjalanan panggilannya. Hari ini, situasinya seperti berbalik. Orang-orang yang pernah didampingi, dibentuk, diteguhkan, dan dikasihinya kini berdiri dalam doa untuk mengantar perjalanan Romo Andy sendiri.
Kali ini bukan menuju seminari tinggi, bukan menuju tempat tugas baru, kita mengantarnya ke Rumah Bapa.
Kasula akan dilipat. Kursi yang biasa ditempatinya akan kosong. Suara yang dahulu memberikan nasihat dan homili tidak lagi terdengar. Tetapi, ada sesuatu yang tidak dapat ikut dikuburkan: “kebaikan tidak dapat dikuburkan, kasih tidak dapat dimakamkan, dan “terang yang pernah dinyalakan dalam kehidupan orang lain tidak padam hanya karena orang yang menyalakannya telah pergi”.
Karena itu, mungkin cara paling indah untuk mengenang Romo Andy bukan hanya dengan menceritakan semua karya dan jabatannya. Tetapi dengan mendoakannya.
Semoga Tuhan yang dahulu memanggilnya untuk berdiri di altar, kini menerimanya dalam perjamuan abadi. Semoga segala kelemahan manusiawinya diampuni, segala kebaikannya disempurnakan, dan benih-benih yang pernah ditanamnya terus bertumbuh dalam kehidupan mereka yang pernah didampinginya.
Selamat jalan, Rm. Adrianus Andy Gunardi, Pr. Dahulu Romo mengantar begitu banyak orang untuk melanjutkan perjalanan mereka. Hari ini, giliran kami mengantar Romo dengan doa.
“Sang formator telah pulang. Tetapi terang yang pernah dinyalakannya tetap menyala. Requiescat in pace. Tuhan, berilah dia istirahat kekal, dan semoga terang abadi menyinarinya. Amin.” (Romo Andreas Kurniawan OP)



