Orang Samaria: Jejak Sejarah dan Budayanya

YERUSALEM, Pena Katolik – Orang Samaria (/səˈmærɪtənz; romanisasi: Šomronim; Bahasa Arab: السامريون, romanisasi: as-Sāmiriyyūn), yang sering disebut sebagai orang Samaria Israel, adalah kelompok etnoreligius yang berasal dari bangsa Ibrani dan Israel di Timur Dekat kuno. Mereka adalah penduduk asli Samaria, wilayah bersejarah Israel dan Yehuda kuno. Mereka menganut agama Samaria, sebuah agama monoteistik Abrahamik yang berkembang bersamaan dengan Yudaisme.

Orang Samaria merupakan kelompok etnoreligius kuno di Timur Dekat yang memiliki keterikatan sejarah sangat erat sekaligus penuh ketegangan dengan orang Yahudi. Sebagai penduduk asli Samaria—wilayah pegunungan di bekas Kerajaan Israel Utara—mereka mengidentifikasi diri sebagai keturunan murni dari suku-suku Israel kuno, yaitu Efraim, Manasye, dan suku imam Lewi.

Dalam catatan sejarah, identitas unik mereka mulai mengkristal pada periode Persia dan Helenistik, pasca-penaklukan Kerajaan Utara oleh bangsa Asyur. Sisa-sisa populasi yang bertahan di wilayah tersebut kemudian membentuk komunitas tersendiri yang mengklaim sebagai pemelihara paling otentik dari perjanjian Musa.

Perbedaan dengan Yahudi

Perbedaan fundamental antara orang Samaria dan orang Yahudi terletak pada aspek teologis dan kultus keagamaan. Orang Samaria menganut agama monoteistik yang berkembang seiring dengan Yudaisme, namun mereka hanya mengakui Taurat Samaria (lima kitab pertama Musa) sebagai kitab suci. Mereka menolak keras seluruh kanon nabi-nabi Yahudi berikutnya serta tradisi rabbinik.

Titik perselisihan paling tajam yang terekam dalam narasi Kitab Suci adalah mengenai tempat ibadah yang sah. Bagi orang Samaria, Gunung Gerizim di dekat Sikhem (Nablus modern) adalah satu-satunya tempat kudus yang dipilih Allah, bukan Bukit Bait Suci di Yerusalem sebagaimana yang diyakini orang Yahudi.

Identitas Samaria

Berdasarkan Tawarikh 36:22–23, Kaisar Persia, Koresh yang Agung, mengizinkan kaum buangan kembali ke tanah air mereka dan memerintahkan pembangunan kembali Bait Suci di Sion. Karena pembuangan Babel sebelumnya terutama berdampak pada wilayah dataran rendah Yudea, penduduk Samaria kemungkinan besar terhindar dari krisis tersebut dan justru menunjukkan tanda-tanda kemakmuran yang luas.

Kitab Ezra-Nehemia mencatat pergolakan politik panjang antara Nehemia, gubernur provinsi Persia Yehud Medinata, dan Sanbalat orang Horon (Gubernur Samaria), terkait pembenteng kembali Yerusalem. Kendati ada perselisihan politik, teks tersebut mengindikasikan bahwa hubungan sosial antara orang Yahudi dan Samaria sebenarnya cukup rukun.

Pernikahan campur adalah hal yang lumrah, bahkan putra Imam Agung Yoyada menikahi putri Sanbalat. Beberapa teolog juga meyakini bahwa Nehemia 11:3 menggambarkan suku-suku Israel lain yang turut kembali ke Yudea bersama orang-orang Yudea.

Selama pemerintahan Akhaemenia (Persia), bukti material menunjukkan tumpang tindih yang signifikan antara orang Yahudi dan proto-Samaria. Kedua kelompok ini berbagi bahasa dan aksara yang sama, sehingga menyangkal teori bahwa perpecahan telah terjadi pada masa ini. Unsur budaya Utara yang khas terlihat dari nama-nama berunsur Israel (theophoric) pada dokumen Wadi Daliyeh dan koin Samaria, seperti nama putra Sanbalat (Delaya dan Selemya) serta nama “Yerobeam”.

Komentar

Tinggalkan Pesan

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terhubung ke Media Sosial Kami

45,030FansSuka
0PengikutMengikuti
75PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

Terkini