PenaKatolik.Com, Kuta-Bali | Usia lanjut tidak menjadi alasan untuk berhenti berkarya dan memberi arti bagi orang lain. Pesan itulah yang mengemuka dalam Misa Jumat Pertama yang berlangsung di Kapel Societas Sancta Clara (SSC), Kuta, Bali, Jumat (5/6/2026), yang diikuti para oma dan opa anggota Komunitas SSC.
Di usia yang tidak lagi muda, mereka tetap dipanggil untuk menjadi berkat—bukan karena kekuatan fisik yang dimiliki, tetapi karena kebijaksanaan, kasih, dan kepedulian yang terus mereka bagikan kepada sesama.
Dalam suasana hangat RD. Antonius Gede Ekadana Putra atau Romo Toni mengajak para peserta untuk melihat kembali nilai pengalaman hidup yang mereka miliki serta bagaimana pengalaman tersebut dapat menjadi berkat bagi keluarga, komunitas, dan lingkungan sekitar.
Melalui sebuah sibori yang digunakan dalam perayaan Ekaristi, Romo Toni mengawali refleksinya tentang pentingnya menghargai proses kehidupan. Menurut dia, banyak orang hanya melihat hasil akhir yang indah tanpa mengetahui perjuangan panjang yang terjadi di baliknya.
“Kita melihat sibori ini indah, bagus, dan mungkin mahal. Tetapi kita tidak tahu bagaimana proses panjang yang harus dilalui hingga menjadi seperti ini,” kata Romo Toni.
Menurutnya, kehidupan manusia juga mengalami proses yang serupa. menariknya setiap orang melewati berbagai pengalaman, tantangan, kegagalan, sukacita, dan perjuangan yang membentuk dirinya hingga menjadi pribadi yang lebih matang.
Pesan tersebut terasa dekat dengan kehidupan lansia (oma dan opa) dalam komunitas SSC. Sebagian besar telah melewati perjalanan panjang dalam membangun keluarga, membesarkan anak-anak, menghadapi berbagai perubahan zaman, serta tetap menjaga iman di tengah berbagai tantangan hidup.
Romo Toni mengingatkan bahwa pengalaman hidup yang panjang bukan sekadar kenangan pribadi, melainkan juga modal sosial yang berharga bagi masyarakat. Melalui pengalaman tersebut, para lansia dapat menjadi sumber kebijaksanaan, penghiburan, dan teladan bagi generasi yang lebih muda.

Dalam homilinya, dia juga mengangkat kisah Santo Bonifasius, seorang misionaris yang mewartakan Injil hingga akhirnya wafat sebagai martir. Kisah itu, menurut Romo Toni, menunjukkan bahwa hidup yang bermakna adalah hidup yang dipersembahkan untuk melayani sesama.
“Kasih yang paling besar adalah kasih yang rela memberikan nyawanya bagi sahabat-sahabatnya,” ujarnya mengutip sabda Yesus.
Meski tidak semua orang dipanggil menjadi martir seperti Santo Bonifasius, Romo Toni menegaskan bahwa semangat pengorbanan dapat diwujudkan dalam bentuk yang sederhana. Kepedulian kepada sesama, kesediaan mendoakan orang lain, mengunjungi teman yang sakit, atau memberikan dukungan kepada mereka yang sedang mengalami kesulitan merupakan bentuk kasih yang nyata.
Pesan tersebut sejalan dengan semangat yang selama ini dibangun dalam Komunitas SSC. Kehadiran komunitas menjadi ruang bagi para oma dan opa untuk saling mendukung, berbagi pengalaman, dan menjaga semangat hidup bersama.
Di tengah masyarakat yang semakin individualistis, keberadaan komunitas lansia seperti SSC menunjukkan bahwa relasi sosial tetap menjadi kebutuhan penting di setiap tahap kehidupan. Pertemuan rutin, doa bersama, dan berbagai kegiatan komunitas membantu para anggota tetap terhubung satu sama lain.
Romo Toni mengajak oma dan opa untuk terus menjaga semangat tersebut, baginya pewartaan iman tidak selalu dilakukan melalui kata-kata, tetapi juga melalui perhatian dan kepedulian yang ditunjukkan kepada sesama.
“Wartakan Kristus di rumah, di keluarga, dan di komunitas. Ketika kita mendoakan orang sakit, menghibur yang sedih, dan membantu sesama, saat itulah kita sedang mewartakan Kristus,” katanya, (05/06).
Misa Jumat Pertama Juni, oma dan opa SSC kembali diingatkan bahwa masa lanjut usia tetap memiliki peran penting dalam kehidupan Gereja dan masyarakat. Pengalaman hidup yang mereka miliki dapat menjadi cahaya dan harapan bagi orang-orang di sekitar mereka.*Samuel – SSC.