PenaKatolik.Com | Perayaan Yubileum 800 Tahun Santo Fransiskus Assisi (1226–2026) bukan sekadar mengenang seorang kudus yang hidup delapan abad silam. Yubileum adalah undangan untuk menengok kembali arah hidup, sekaligus menguji apakah semangat Fransiskus masih berdenyut dalam pilihan-pilihan kita hari ini.
Semangat itulah yang terasa dalam seminar ilmiah-spiritual bertajuk Menjadi Peziarah Perdamaian dengan Semangat St. Fransiskus Assisi yang diselenggarakan Universitas Widya Dharma Pontianak pada 29 Juni 2026. Seminar menghadirkan Mgr. Dr. Samuel Oton Sidin, OFM.Cap., dengan moderator P. Dr. Paulus Toni Tantiono, OFM.Cap., serta diikuti oleh dosen, mahasiswa, tenaga kependidikan, para biarawan-biarawati, dan tamu akademik dari berbagai lembaga pendidikan.
Di penghujung pemaparannya, Mgr. Samuel menyampaikan pesan yang sederhana, tetapi menghunjam.
“Menerima semua orang sebagai saudara, terlebih mereka yang paling membutuhkan. Sehina apa pun seseorang, semiskin apa pun seseorang, ia tetap manusia dan harus dihormati, bukan karena status sosialnya, melainkan karena martabatnya sebagai manusia.”
Kalimat itu tidak berhenti sebagai ajakan moral tentang kepedulian sosial. Bagi saya, ia justru membuka ruang refleksi yang lebih luas, terutama terhadap dunia pendidikan tinggi yang sedang kita bangun.
Siapa Orang Miskin Hari Ini?
Delapan abad lalu, Fransiskus Assisi meninggalkan kemapanan keluarganya dan memilih hidup bersama mereka yang dipinggirkan. Ia memahami bahwa keberpihakan kepada yang lemah bukan sekadar tindakan belas kasih, melainkan cara memandang manusia.
Jika semangat itu hendak dihidupi oleh perguruan tinggi Katolik yang berakar pada spiritualitas Fransiskan, pertanyaannya menjadi sangat sederhana sekaligus mendasar: siapakah “orang miskin” yang sedang mengetuk pintu kampus kita hari ini?
Boleh jadi mereka bukan hanya mereka yang miskin secara ekonomi.
Mereka juga adalah anak-anak muda yang datang dari sekolah-sekolah sederhana, dari pelosok yang minim fasilitas, dengan nilai akademik yang kalah bersaing dibandingkan mereka yang sejak awal memperoleh berbagai privilese pendidikan. Di atas kertas mereka tampak biasa saja, bahkan dianggap tidak memenuhi standar. Namun sesungguhnya mereka hanya lahir dari titik awal yang berbeda.
Mereka mengalami apa yang saya sebut sebagai kemiskinan akademik.
Ketika Pendidikan Memilih yang Sudah Unggul
Beberapa tahun lalu saya berbincang dengan seorang asesor akreditasi dari sebuah perguruan tinggi negeri ternama. Dengan penuh kebanggaan ia menjelaskan betapa ketatnya proses seleksi mahasiswa baru di kampusnya. Hanya sedikit yang diterima, sementara sebagian besar harus tersingkir.
Di satu sisi, seleksi memang diperlukan. Namun di sisi lain, saya justru melihat sebuah ironi.
Bila perguruan tinggi hanya berlomba menerima mereka yang sejak awal telah unggul—yang menikmati sekolah terbaik, bimbingan belajar mahal, lingkungan belajar kondusif, dan dukungan ekonomi yang memadai—maka pendidikan kehilangan salah satu fungsi terdalamnya sebagai jalan mobilitas sosial.
Akibatnya, mereka yang berasal dari daerah tertinggal semakin sulit mengejar ketertinggalan. Kesempatan untuk mengubah masa depan menjadi semakin sempit, bukan karena mereka tidak memiliki kemampuan untuk berkembang, tetapi karena mereka tidak pernah diberi kesempatan.
Kampus Bukan Ruang Pamer Prestasi
Fenomena ini mengingatkan saya pada kecenderungan pendidikan tinggi yang semakin menyerupai ruang pamer.
Perguruan tinggi berlomba mempercantik statistik penerimaan mahasiswa, mengejar akreditasi, dan membangun reputasi berdasarkan kualitas input. Akhirnya kampus lebih sibuk memilih mereka yang sudah cemerlang daripada membentuk mereka yang masih memerlukan proses.
Padahal, ukuran keberhasilan sebuah universitas semestinya tidak terletak pada banyaknya calon mahasiswa yang berhasil ditolak.
Keberhasilan sejati justru tampak pada kemampuan sebuah institusi mengubah potensi yang tersembunyi menjadi prestasi yang nyata.
Jauh lebih bermakna membentuk tanah liat menjadi karya yang bernilai daripada sekadar memoles emas yang sejak awal sudah berkilau.
Preferensi kepada yang Terpinggirkan
Yubileum Fransiskus Assisi mengingatkan bahwa keberpihakan kepada mereka yang kecil bukanlah slogan, melainkan pilihan moral. Pilihan itu tetap relevan bagi dunia pendidikan.
Perguruan tinggi Katolik tidak cukup menjadi institusi yang mengejar angka, peringkat, atau akreditasi semata. Kampus dipanggil menjadi ruang pembentukan manusia; tempat di mana harapan dirawat, potensi diasah, dan martabat setiap pribadi dipulihkan.
Anak-anak dari daerah yang mengalami “kemiskinan akademik” bukanlah beban yang harus dihindari. Mereka justru menjadi alasan mengapa pendidikan itu ada.
Di tangan para pendidik yang sabar, mereka dapat bertumbuh menjadi pribadi-pribadi yang melampaui angka-angka yang pernah memberi label pada dirinya.
Menjaga Gerbang Harapan
Pada akhirnya, perguruan tinggi harus tetap menjadi gerbang harapan.
Jangan sampai ada anak-anak muda yang pulang ke kampung halamannya dengan membawa keyakinan bahwa masa depannya telah selesai hanya karena selembar nilai tidak memenuhi standar tertentu.
Semangat Fransiskus mengajarkan bahwa manusia selalu lebih besar daripada ukuran-ukuran dunia. Martabat tidak pernah ditentukan oleh angka, melainkan oleh kemanusiaannya.
Mungkin di situlah makna terdalam merayakan delapan abad Fransiskus Assisi: menjaga agar api keberpihakan kepada mereka yang terlupakan tetap menyala, terutama ketika dunia semakin sibuk mengagumi mereka yang sudah bersinar.
Pace e Bene.
By. Lianto (Universitas Widya Dharma Pontianak).
