NAPOLI, Pena Katolik — Menandai peringatan satu tahun terpilihnya sebagai Penerus Takhta Santo Petrus, Paus Leo XIV melakukan kunjungan pastoral yang sarat makna ke Napoli dan Pompeii pada Jumat 8 Mei 2026. Pada kesempatan ini, Paus Leo XIV menyempatkan diri untuk berdoa dan menghormati Relikui Darah St. Yanuarius, yang pada hari itu kembali mencair untuk menyambut kedatangan Paus. Kunjungan ini bertepatan dengan peringatan satu tahun kepausan Leo XIV yang terpilih pada 8 Mei 2025.
Selama perayaan tersebut, Paus mengangkat tinggi-tinggi relikui perak yang berisi relik darah santo pelindung Napoli setelah mencair. Momen ini menimbulkan suasana penghormatan yang mendalam dari umat beriman yang berkumpul di dalam katedral.
Momen ini mengingatkan kembali saat Paus Fransiskus mengunjungi Napoli pada 21 Maret 2015. Saat itu, relikui darah St. Yanuarius juga mencair saat kedatangan Paus.
Dalam pertemuan hangat di Katedral Napoli bersama para klerus, biarawan-biarawati, dan umat awam, Bapa Suci menyampaikan pesan kuat, Gereja harus menjadi saksi kasih Kristus yang nyata dan hadir langsung di tengah-tengah masyarakat yang sedang berjuang.
Paus menekankan, bahwa di tengah kota yang dibayangi oleh ketimpangan sosial, pengangguran kaum muda, angka putus sekolah yang tinggi, hingga ketidakstabilan keluarga, pewartaan Injil tidak boleh berjarak dari realitas sosial.
“Jangan lupa, Anda adalah bagian dari kisah cinta—kasih Tuhan untuk umat-Nya—yang dimulai sebelum Anda dan tidak akan berakhir pada Anda. Jadilah saksi Kristus dan penabur masa depan bagi Gereja dan kota ini,” pesan Paus Leo XIV.
Satu Tahun Kepausan
Perjalanan pastoral ini diawali pada pagi hari di Pompeii, di mana Paus memimpin Misa, bertemu dengan perwakilan lembaga amal yang berafiliasi dengan Katedral St. Maria Ratu Rosari Pompeii, dan berdoa di hadapan Bunda Maria Pompeii.
Pada sore hari, Paus bertolak menuju Napoli menggunakan helikopter. Setibanya di Katedral Napoli, didampingi oleh Uskup Agung Napoli, Kardinal Domenico Battaglia, Paus Leo XIV melakukan prosesi sarat tradisi. Ia berdoa di hadapan Sakramen Mahakudus di kapel yang didedikasikan untuk Santo Yanuarius (kapalan pelindung kota).
Paus Leo XIV menyoroti dualitas Napoli—sebuah kota yang indah, kaya akan budaya dan religiositas, namun di sisi lain menyimpan kerapuhan sosial yang mendalam. Dalam menghadapi situasi sulit ini, Paus mengingatkan para imam dan religius untuk tidak mengabaikan kesehatan batin mereka sendiri (inner care).
Paus mengakui bahwa beban pelayanan pastoral saat ini terasa jauh lebih berat. Para imam kerap dihadapkan pada rasa tidak berdaya saat mendengarkan keluh kesah keluarga yang lelah, anak muda yang kehilangan arah, serta kaum miskin.
Paus mengingat, ketika Yesus menampakkan diri kepada murid-murid di Emaus. Hidup kadang ada kekecewaan, namun penting untuk selalu berpegang pada kebenaran kasih.
“Seperti mereka, kita menjalani hidup kita tanpa mampu menafsirkan tanda-tanda sejarah, dikecewakan dan patah semangat oleh begitu banyak masalah atau oleh harapan pribadi dan pastoral yang tampaknya tidak terpenuhi,” ujarnya
Namun, Paus menegaskan, Yesus selalu berjalan di samping kita dan membimbing, karena “sikap-Nya adalah sikap seseorang yang peduli kepada kita.”
Untuk mengatasi kelelahan fisik dan mental serta rasa kesepian dalam pelayanan, Paus memberikan beberapa arahan penting untuk menjaga Hubungan dengan Tuhan, yang menutrisi kehidupan rohani agar tidak terjebak pada rutinitas administratif semata.
Di akhir arahannya, Paus Leo XIV mengajak seluruh elemen Gereja—termasuk kaum awam dan aktivis pastoral—untuk berjalan bersama (synodality). Beliau secara khusus mengapresiasi Sinode Keuskupan yang telah dijalankan oleh Keuskupan Agung Napoli. Paus menegaskan bahwa kaum awam bukanlah sekadar “pembantu” para klerus, melainkan bagian aktif yang setara dalam misi Gereja.




