PenaKatolik.Com | Di tengah dunia yang terus diguncang konflik, kebencian, dan perebutan kepentingan, manusia semakin sulit menemukan ruang untuk saling mendengar dan memandang sesamanya sebagai saudara. Kemajuan zaman memang bergerak cepat, tetapi banyak orang justru tenggelam dalam rasa sepi, cemas, dan kehilangan arah hidup.
Dalam situasi seperti ini, kehadiran Paus Leo XIV menghadirkan nuansa Gereja yang menenangkan dan penuh kesederhanaan. Ia tidak datang dengan simbol kekuasaan yang mencolok atau pidato-pidato yang keras, melainkan tampil sebagai seorang gembala yang berjalan bersama umatnya—mendengarkan, merangkul, dan memastikan tidak ada seorang pun merasa sendirian.
Memasuki satu tahun masa penggembalaannya, Paus Leo XIV menunjukkan bahwa spiritualitas Augustinian tetap memiliki tempat penting di tengah dunia modern yang semakin bising dan mudah terpecah. Sebagai anggota Ordo Santo Augustinus, ia menghidupi semangat sehati sejiwa menuju Allah. Spiritualitas ini bertolak dari keyakinan bahwa manusia dipanggil untuk hidup dalam persaudaraan, saling menguatkan, dan bersama-sama mencari Tuhan dalam keseharian hidup.

Karena itu, arah kepemimpinannya senantiasa berpijak pada tiga nilai utama: unitas, veritas, dan caritas—persatuan, kebenaran, dan kasih. Di tengah masyarakat yang dipenuhi pertentangan dan kepentingan pribadi, Paus Leo XIV mengingatkan bahwa Gereja seharusnya menjadi rumah yang menyatukan, bukan memperlebar jarak antarmanusia.
Komitmen itu tampak jelas dari keberaniannya menyerukan perdamaian di tengah berbagai konflik global. Ketika banyak pihak sibuk mempertahankan kepentingan masing-masing, ia tetap berbicara tentang martabat manusia. Namun, semua itu disampaikannya tanpa kemarahan dan tanpa sikap menghakimi. Ia memilih berbicara dengan kelembutan dan kerendahan hati, bahkan ketika menghadapi kritik.
Kesederhanaan itu semakin terasa ketika Paus Leo XIV memilih Afrika sebagai tujuan kunjungan pertamanya di luar Eropa. Pilihan tersebut menjadi simbol yang sangat kuat, terutama bagi keluarga besar Augustinian. Perjalanannya ke Algeria bukan sekadar kunjungan apostolik biasa, melainkan seperti sebuah perjalanan kembali ke akar spiritualitas Santo Augustinus—tanah tempat sang santo bertumbuh, bergumul dengan pencarian hidup, hingga akhirnya menemukan belas kasih Allah yang mengubah dirinya.
Melalui kunjungan itu, Paus Leo XIV seakan ingin menegaskan bahwa tidak ada bangsa yang terlalu kecil untuk diperhatikan. Afrika bukan wilayah pinggiran yang pantas dilupakan, tetapi bagian penting dari perjalanan Gereja universal. Kehadirannya di sana menjadi tanda bahwa Gereja harus berjalan bersama semua bangsa, terutama mereka yang sering diabaikan dunia.
Di tengah situasi global yang penuh persaingan politik dan kepentingan kekuasaan, Paus Leo XIV menghadirkan corak kepemimpinan yang berbeda. Ia tidak membangun jarak dengan umatnya. Sebaliknya, ia ingin mengenal mereka secara dekat dan memastikan tidak ada yang tertinggal.
Sikap kebapaannya tampak dari cara ia menyapa umat, mendengarkan suara kaum kecil, dan memberi perhatian kepada mereka yang menderita akibat perang, kemiskinan, maupun ketidakadilan. Bahkan saat kritik datang dari berbagai arah, ia tetap konsisten menyuarakan perdamaian dan nilai kemanusiaan tanpa kehilangan kelembutan hatinya.
Bagi Paus Leo XIV, Gereja tidak boleh tinggal diam ketika manusia kehilangan harapan. Karena itu, ia terus mengajak umat kembali pada inti Injil: mencintai Allah melalui kasih kepada sesama.
Melalui dokumen Dilexi Te, ia mengingatkan dunia agar tidak menutup mata terhadap kaum miskin. Dalam diri mereka, katanya, hadir Kristus yang menderita. Ia mengajak umat beriman untuk lebih peka terhadap luka-luka kemanusiaan, berbagi dengan mereka yang berkekurangan, dan menghadirkan Gereja sebagai rumah yang terbuka bagi siapa saja.
Seruan itu kembali tampak ketika ia berbicara mengenai persoalan kelaparan dunia. Ia mengajak umat belajar hidup sederhana—menghargai makanan, mengonsumsi secukupnya, dan menyadari bahwa masih banyak saudara yang hidup dalam kekurangan.

Sebagai religius Augustinian yang menghayati kaul kemiskinan, Paus Leo XIV memperlihatkan bahwa kemiskinan bukan hanya soal meninggalkan harta benda. Lebih dari itu, kemiskinan berarti keberanian mengosongkan diri agar hati memiliki ruang bagi sesama yang membutuhkan pertolongan.
Meski begitu, di balik seluruh perhatian sosialnya, pusat kehidupan Paus Leo XIV tetaplah Kristus. Dalam salah satu pesannya kepada umat di Afrika, ia berkata, “Terpujilah nama Kristus, yang menjadi segalanya bagi kita.” Kalimat sederhana itu mengandung kedalaman iman yang besar. Di tengah dunia yang diliputi perang, kebencian, dan kerakusan, ia mengingatkan bahwa hanya Kristus yang dapat menjadi terang dan harapan manusia.

Satu tahun penggembalaannya memang belum panjang. Namun, Paus Leo XIV telah menunjukkan bahwa Gereja tetap memiliki harapan ketika dipimpin oleh seorang gembala yang rendah hati, mau mendengar, setia menjaga warisan iman, dan tidak lelah berjalan bersama umatnya.
Mungkin, di tengah dunia yang semakin gaduh, manusia tidak selalu membutuhkan pemimpin dengan suara paling keras. Dunia justru membutuhkan lebih banyak pribadi yang mampu menghadirkan damai, merangkul mereka yang terluka, dan mengingatkan bahwa kasih masih mungkin diperjuangkan.
Melalui kesederhanaan hidup dan penggembalaannya, Paus Leo XIV sedang menunjukkan jalan itu berjalan sehati sejiwa menuju Allah sambil menggandeng sesama agar tidak ada seorang pun tertinggal dalam perjalanan hidupnya.*Sr. Felisitas N. Saptari, OSA.



