VATIKAN, Pena Katolik – Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio dijadwalkan menemui Paus Leo XIV pada 7 Mei 2026, pasca ketengangan yang dipicu pernyataan Presiden AS, Donald Trump. Namun, Rubio mengatakan, kunjungannya merupakan agenda diplomatik yang telah lama direncanakan. Ia membantah anggapan, bahwa pertemuan tersebut bertujuan untuk meredakan ketegangan setelah Presiden Donald Trump melontarkan serangkaian pernyataan tajam terhadap Paus Leo XIV.
Dalam konferensi pers pada Selasa 5 Mei 2026, Rubio menanggapi pertanyaan wartawan mengenai apakah pertemuan ini merupakan upaya untuk “memperhalus situasi” pasca pernyataan Trump yang menyebut Paus “lemah” dalam hal kriminalitas dan kebijakan nuklir.
“Ini bukan alasan pertemuan tersebut. Ini adalah perjalanan yang sudah kami rencanakan dari sebelumnya,” tegas Rubio. Meskipun mengakui adanya “beberapa hal yang terjadi” (merujuk pada ketegangan di media sosial), Rubio menekankan bahwa agenda pembicaraan dengan Vatikan sangat luas dan mendalam.
Rubio memaparkan beberapa poin kunci yang akan dibahas dengan Paus Leo XIV, di antaranya perkembangan Gereja di Afrika dan membahas hasil kunjungan Paus baru-baru ini ke Afrika, di mana pertumbuhan umat sangat pesat. Rubio juga menyinggung bantuan kemanusiaan dari AS ke Kuba yang mana penyaluran bantuan sebesar $6 juta dilakukan melalui Gereja. Rubio juga menyatakan kesiapan AS untuk menambah bantuan.
Menanggapi Isu Nuklir Iran
Terkait tuduhan Trump bahwa Paus mendukung kepemilikan senjata nuklir oleh Iran, Rubio memberikan pembelaan terhadap posisi Presiden Trump. Ia menyatakan bahwa kekhawatiran Trump berakar pada potensi ancaman Iran terhadap umat Katolik dan Kristen jika mereka memiliki senjata nuklir. Ia juga menyoroti tindakan Iran yang saat ini mengancam akan memblokade Selat Hormuz.
“Apa yang menurut Anda akan mereka lakukan jika mereka memiliki senjata nuklir? Mereka akan menyandera dunia dengan senjata itu,” ujar Rubio.
Selama ini, Paus Leo XIV secara konsisten menyerukan diplomasi dan menentang proliferasi nuklir di Timur Tengah.
Rubio tetap menekankan pentingnya kewaspadaan terhadap ambisi nuklir Iran. Rubio menutup penjelasannya dengan mengakui peran ganda Paus Leo XIV. Selain sebagai pemimpin spiritual (Wakil Kristus), Paus juga merupakan kepala negara dengan jaringan diplomatik di 182 negara.
“Kami sering berhubungan dengan Vatikan karena mereka hadir di banyak tempat berbeda. Adalah hal yang normal bagi kami untuk menjalin keterlibatan ini, sebagaimana yang dilakukan oleh sekretaris negara sebelumnya,” pungkas Rubio.
Pertemuan yang dijadwalkan pada hari Kamis ini diharapkan tetap berjalan dalam koridor profesional demi kepentingan bersama, meski dibayangi oleh retorika politik dari Gedung Putih.



