Pena Katolik – Di tengah Gereja yang kaya dengan ragam karisma, ada satu panggilan yang sering kali berjalan dalam kesunyian yang khidmat: panggilan menjadi Bruder Biarawan Dominikan. Mereka bukanlah imam yang berdiri di mimbar, melainkan saudara yang hidup di jantung komunitas—melayani dalam doa, kerja tangan, dan persaudaraan yang erat.
Bruder Jacques Ambec, OP, adalah saksi hidup dari jalan sunyi ini. Hidupnya dibentuk oleh untaian doa Rosario, pewartaan para putra Santo Dominikus, dan teladan Santo Martinus de Porres—seorang bruder sederhana yang justru menjadi salah satu santo besar dalam sejarah Gereja. Dalam wawancara mendalam ini, ia berbagi tentang bagaimana ia menemukan “tempatnya” dalam Ordo Pewarta (OP).
Benih yang Tumbuh di Lourdes
Bagaimana sebenarnya awal mula panggilan Anda sebagai seorang Bruder Dominikan?
Semuanya bermula pada tahun 1960 di Lourdes, saat perayaan Ziarah Rosario. Waktu itu saya baru berusia 14 tahun, pergi mendampingi nenek saya. Di sana, saya mendengar para imam Dominikan berkhotbah. Cara mereka mewartakan Sabda Tuhan sangat menyentuh hati saya. Meski saat itu saya belum sepenuhnya paham apa yang bergejolak di dalam diri, saya tahu ada sesuatu yang mulai tumbuh.
Dua tahun kemudian, tepatnya tahun 1962, saya membaca edisi khusus La Revue du Rosaire tentang kanonisasi Martinus de Porres. Saya menemukan sosok bruder kudus yang bukan seorang imam. Hal itu menyentuh saya secara mendalam. Saya menyadari bahwa kekudusan tidak dimonopoli oleh para imam; seorang saudara biasa pun dapat menjadi kudus.
Puncaknya pada tahun 1966, saat berusia 20 tahun, saya membaca literatur lain mengenai para bruder di dalam Ordo. Saat itulah, di dalam batin, saya berkata: “Inilah tempat saya dalam Ordo Dominikan.” Saya pun memutuskan pergi ke biara di Toulouse untuk “datang dan melihat.” Saya memulai novisiat pada tahun 1968, dan sejak saat itu, perjalanan hidup religius saya dimulai.
Memilih “Tempat Terakhir”
Apa yang membuat Anda begitu yakin bahwa Tuhan memanggil Anda menjadi bruder, dan bukan seorang imam?
“Saya sangat mencintai kehidupan komunitas dan doa, khususnya Rosario. Saya ingin hidup dalam lingkaran pewartaan dan pelayanan, tetapi saya tidak pernah merasa dipanggil untuk memegang jabatan imamat. Saya ingin melayani dengan cara yang paling sederhana dan rendah hati—tanpa jabatan, tanpa sorotan.”
“Saya terinspirasi oleh Martinus de Porres yang memilih tempat terakhir. Bagi saya, menjadi bruder berarti tinggal di tempat yang telah Tuhan siapkan khusus bagi saya, dan berusaha setia di sana.”
Lalu, apa arti menjadi Bruder Dominikan bagi Anda di masa sekarang?
“Menjadi bruder adalah tentang hidup bersama saudara-saudara. Kami bangun pagi untuk ibadat bersama, bekerja untuk komunitas, dan hadir bagi mereka yang membutuhkan. Persaudaraan adalah inti hidup saya; sebuah hidup yang dibagikan dalam kasih.”
“Pewartaan tidak selalu dilakukan dengan kata-kata di atas mimbar. Kadang, pewartaan yang paling kuat justru dilakukan melalui kesetiaan pada tugas-tugas kecil setiap hari. Melayani tanpa perlu dikenal adalah bentuk pewartaan itu sendiri.”
Meneladani Santo Martinus de Porres
Anda sering membawa relikui Santo Martinus de Porres dalam pelayanan. Bagaimana pengalaman spiritual umat saat menjumpai sosok bruder kudus ini?
“Dalam setiap pertemuan, selalu ada doa dan pengajaran tentang hidup Santo Martinus. Umat sering kali sangat tersentuh. Mereka ingin menyentuh relikui itu, seolah ingin terhubung dengan kesederhanaannya. Pengalaman itu membuka hati banyak orang.”
“Martinus adalah teladan saya. Di biara, ia menjadi penjaga pintu dan perawat. Ia hadir bagi semua orang tanpa menarik perhatian pada dirinya sendiri. Namun lihatlah, hari ini di Lima (Peru), ia dihormati sebagai santo besar. Inilah Injil yang hidup: “Yang terakhir akan menjadi yang pertama.” Martinus membuktikan bahwa kesetiaan dalam hal-hal kecil memiliki nilai kekal di mata Allah.”
Mengapa menurut Anda panggilan bruder masih kurang dikenal dibandingkan imam?
“Banyak orang mengenal Dominikan sebagai pengkhotbah atau imam, tetapi belum mengenal para bruder yang melayani di balik layar. Namun, ketika umat mendengar kesaksian kami atau melihat kehidupan seorang bruder, mereka sering berkata, “Kami tidak tahu ada panggilan seindah ini.”
Kesaksian nyata adalah cara terbaik untuk membuka mata dan hati mereka.
Pesan untuk Kaum Muda
Apa pesan Anda bagi anak muda yang tertarik pada hidup religius namun ragu menjadi bruder?
“Saya akan mengatakan dengan sederhana: “Datang dan lihatlah.”
“Lihatlah bagaimana para bruder hidup dan melayani—ada yang menjadi sakristan, ekonom, pustakawan, arsiparis, hingga pelayan pastoral bagi orang sakit dan lansia. Setiap orang memiliki talenta unik. Dalam komunitas, setiap saudara memiliki tempatnya sendiri.”
Ingatlah, yang kita minta saat menerima jubah dan berkaul hanyalah satu: Belas kasih Allah. Jika Anda merasakan ketertarikan, jangan takut pada panggilan yang sederhana. Tuhan tidak selalu memanggil kita ke tempat yang terlihat besar di mata dunia. Kadang Ia memanggil ke tempat yang tersembunyi—dan di sanalah sukacita sejati sering kali ditemukan.”
Kisah Bruder Jacques mengingatkan kita bahwa panggilan sering kali tumbuh dalam keheningan doa dan teladan orang kudus. Tidak semua orang dipanggil untuk tampil di depan, tetapi setiap orang dipanggil untuk menjadi milik Tuhan sepenuhnya. Bagi Anda yang sedang bertanya, “Di mana tempat saya?”, mungkin jawabannya ada dalam doa sunyi hari ini, di mana Tuhan telah menyiapkan sebuah tempat bagi Anda sejak lama.
