Home BERITA TERKINI “St. Agustinus Hippo: Dari Pendosa Menjadi Setia”

“St. Agustinus Hippo: Dari Pendosa Menjadi Setia”

0

Lahir pada 13 November 354 di sebuah kota kecil bernama Tagaste (sekarang di Aljazair, Afrika), Agustinus adalah anak yang sangat cerdas. Orang tuanya rela meminjam uang agar Agustinus bisa sekolah di tempat terbaik. Karena kecerdasannya, ia dikirim belajar ke kota besar, Kartago.

Di sana, ia belajar ilmu Retorika—yaitu seni berbicara untuk meyakinkan orang lain. Agustinus sangat jago dalam hal ini. Boleh dikata, ia menjadi “superstar” di kampusnya. Tapi, meskipun pintar dan populer, hatinya merasa ada yang kurang. Ia mencoba mencari kebahagiaan dengan mengejar jabatan tinggi, uang, dan kesenangan duniawi, tapi hatinya tetap saja merasa kosong.

Petualangan Mencari Jawaban

Agustinus orangnya tidak bisa diam. Ia merasa di Afrika kurang menantang, jadi ia pindah ke Roma, lalu ke Milan di Italia. Di Milan, ia mendapat jabatan keren sebagai Profesor Retorika Kerajaan. Ini adalah jabatan impian bagi banyak orang saat itu.

Di Milan, ia bertemu dengan seorang uskup pintar bernama Ambrosius (Santo Ambrosius). Awalnya, Agustinus datang hanya untuk mendengarkan gaya bicara Ambrosius yang hebat. Tapi lama-lama, isi khotbah Ambrosius tentang iman mulai masuk ke hatinya. Agustinus mulai sadar bahwa Alkitab itu masuk akal dan luar biasa.

Momen di Taman

Meskipun sudah tahu tentang Tuhan, Agustinus masih merasa sulit untuk berubah. Ia masih ingin hidup bebas sesuka hatinya. Kesehariannya diisi dengan pesta pora bersama teman-temannya.

Meski Agustinus hidup dalam dunia yang gelap, ia memiliki seorang ibu yang taat beragama dan dekat dengan Tuhan. St. Monika, adalah ibu Agustinus. Ia adalah wanita Kristen yang menikah dengan seorang pria yang tidak mengenal Tuhan (seorang pagan). Hidupnya tidak selalu mudah. Apalagi ketika putranya, Agustinus, tumbuh menjadi pemuda yang sangat pintar tapi nakal.

Agustinus lebih suka bersenang-senang dan mengejar kemauan sendiri daripada beribadah. Di usia 19 tahun, ia bahkan sudah memiliki anak di luar nikah. Bayangkan betapa sedihnya hati Monika melihat anaknya yang jenius itu malah menjauh dari Tuhan.

Namun, Monika tidak memarahi Agustinus setiap hari atau mengusirnya. Senjata utamanya adalah doa yang setia. Selama bertahun-tahun, Monika terus berdoa dan berpuasa. Ia memohon satu hal saja: agar hati dan pikiran Agustinus terbuka untuk bertemu dengan Yesus secara pribadi. Setiap kali ia merasa putus asa melihat anaknya semakin jauh, ia kembali berdoa. Ia percaya bahwa tidak ada anak yang terlalu “hilang” bagi Tuhan jika didoakan dengan sungguh-sungguh.

Kesabaran Monika akhirnya membuahkan hasil yang manis. Agustinus akhirnya bertobat dan menjadi seorang Kristen Katolik yang luar biasa.

Suatu hari di tahun 386, saat ia sedang merasa sangat sedih dan bingung di sebuah taman di Milan, ia mendengar suara anak kecil bernyanyi: “Tolle, Lege! Tolle, Lege!”, ‘Ambil dan bacalah! Ambil dan bacalah!’

Agustinus merasa itu adalah pesan dari Tuhan. Ia segera mengambil kitab surat-surat Santo Paulus dan membukanya secara acak. Matanya tertuju pada sebuah ayat yang memintanya untuk meninggalkan hidup gelap dan mulai mengikuti terang Tuhan.

Seketika, hatinya merasa tenang. Kegelisahan yang selama bertahun-tahun ia rasakan tiba-tiba hilang. Ia memutuskan untuk dibaptis dan memberikan seluruh hidupnya untuk Tuhan.

Suatu hari, saat mereka sedang berada di sebuah kota bernama Ostia, Monika berkata kepada Agustinus dengan penuh rasa syukur:

“Nak, bagi ibu, tidak ada lagi hal di dunia ini yang membuat ibu tertarik. Ibu tidak tahu lagi kenapa ibu masih hidup di sini, karena harapan ibu sudah terkabul. Harapan terbesar ibu adalah melihatmu menjadi seorang Kristen sebelum ibu meninggal. Tuhan sudah memberikan kado yang jauh lebih indah dari itu.”

Hanya beberapa hari setelah percakapan indah itu, Monika jatuh sakit. Sebelum meninggal, ia memberikan pesan terakhir yang sangat menyentuh kepada Agustinus: “Jangan cemaskan di mana jenazah ibu dikubur, tapi ingatlah ibu di altar Tuhan (dalam Misa Kudus) di mana pun kamu berada.”

Menjadi Pemimpin yang Setia

Setelah bertobat, hidup Agustinus berubah total. Ia pulang ke Afrika dan membagikan hartanya kepada orang miskin. Ia menjadi seorang yang setia kepada Tuhan. Ia menjadi Imam, lalu menjadi Uskup di kota Hippo.

Ksetiaan Agustinus pada kasih Tuhan, ia tunjukkan dalam karya-karya besarnya. Ia menjadi imam dan uskup yang meletakkan dasar-dasar ajaran Kristiani. Ia menulis buku-buku hebat seperti Confessiones (Pengakuan) dan The City of God (Kota Allah). Agustinus yang dulunya sombong dan hanya mengejar jabatan, kini menjadi pelayan umat yang rendah hati sampai ia meninggal pada 28 Agustus 430. Karena tulisannya yang sangat jenius dan imannya yang kuat, Gereja Katolik mengangkatnya sebagai Pujangga Gereja. Gereja Katolik mengenang kekudusannya setiap tanggal 28 Agustus.

Pesan Agustinus untuk kita: “Tuhan, Engkau telah menciptakan kami bagi-Mu, dan hati kami tidak akan tenang sebelum beristirahat di dalam-Mu.”

Video St. Agustinus Hippo: https://www.youtube.com/watch?v=xdRRy0qicUY&t=23s

Tidak ada komentar

Tinggalkan Pesan

Please enter your comment!
Please enter your name here

Exit mobile version