Home BERITA TERKINI Santo Thomas Aquinas: “Pujangga Malaikat” dalam Gereja Katolik

Santo Thomas Aquinas: “Pujangga Malaikat” dalam Gereja Katolik

0

BOLOGNA, Pena Katolik – Salah satu santo yang paling dihormati dalam Gereja Katolik adalah Santo Thomas Aquinas, yang sering disebut sebagai “Pujangga Malaikat” (Angelic Doctor). Julukan ini unik, karena tidak pernah diberikan kepada santo lain sepanjang sejarah Gereja.

Alasannya mengapa St. Thomas mendapat julukan ini adalah uraiannya tentang “malaikat” dalam adi-karyanya Summa Theologiae (Prima Pars, QQ 50-64, 106-114). Santo Thomas mendefinisikan malaikat sebagai zat immaterial, intelektual, dan murni spiritual yang diciptakan oleh Tuhan. Mereka tidak berwujud, memiliki kecerdasan, dan kehendak bebas yang unggul. Malaikat bertindak sebagai pelayan penyelenggaraan ilahi di dunia materi.

St. Thomas membahas substansi, akal budi, kehendak, serta asal mula malaikat. Ia membangun ajarannya dengan merujuk pada teologi Pseudo-Dionysius Areopagita, seorang rahib Siria abad ke-5/6, dan dari Kitab Suci.

Ajaran St. Thomas memang sulit dipahami tanpa dasar filsafat yang ia gunakan. Ia mengadopsi bahasa dan logika Aristoteles, lalu mengintegrasikannya dengan wahyu Kristiani yang melampaui pengetahuan alami manusia, sehingga menghasilkan wawasan teologis yang sistematis.

Asal Mula Malaikat

Menurut St. Thomas, hanya Allah yang ada sejak kekal. Malaikat diciptakan oleh Allah dalam satu tindakan yang definitif, bersamaan dengan penciptaan alam semesta. Sebagian malaikat ditugaskan untuk mengatur dunia fisik dan melayani manusia dalam perjalanan hidup mereka.

Katekismus Gereja Katolik menegaskan: “Keberadaan makhluk rohani tanpa tubuh yang disebut ‘malaikat’ adalah kebenaran iman. Kesaksian Kitab Suci sejelas kesepakatan Tradisi” (KGK 328).

Malaikat diciptakan dalam keadaan rahmat pengudusan di “surga tertinggi” (Empyrean Heaven). Namun, mereka tidak langsung melihat Beatific Vision (penglihatan bahagia akan Allah). Hanya mereka yang menanggapi rahmat dengan kasih kepada Allah yang segera memperoleh penglihatan itu, sehingga kehendak mereka selamanya selaras dengan kehendak Allah.

Setiap malaikat diciptakan untuk mengambil bagian dalam kemuliaan Allah dengan tingkat kejelasan dan intensitas yang berbeda. Mereka bahagia sempurna, tidak dapat berdosa, dan selamanya terarah kepada Allah.

Namun, sepertiga malaikat menolak kasih Allah dalam pilihan pertama mereka. Mereka kehilangan rahmat pengudusan dan diusir dari surga, tetapi tetap memiliki kekuatan alami tanpa bantuan rahmat. Kitab Wahyu (12) menggambarkan mereka sebagai setan, yang tenggelam dalam dua dosa rohani: kesombongan dan iri hati.

Ini yang terjadi pada Lucifer, yang berarti “pembawa cahaya”. Ia kemungkinan adalah seorang Serafim. Ia ingin menjadi “seperti Allah”, menciptakan dengan kekuatannya sendiri, mencapai kebahagiaan abadi tanpa Allah, dan memerintah malaikat lain menurut kehendaknya. Namun saat ia menolak Allah, ia menolak rahmat pengudusan.

Ajaran St. Thomas tentang malaikat menegaskan bahwa mereka adalah makhluk rohani ciptaan Allah, yang sebagian tetap setia dan menikmati kebahagiaan abadi, sementara sebagian lain jatuh dalam dosa dan menjadi setan. St. Thomas memperlihatkan bagaimana rahmat, kehendak bebas, dan kasih kepada Allah menentukan nasib kekal para malaikat

Kejernihan Rohani dan Spiritual

Dalam tradisi Gereja Katolik, selain mengakui seseorang sebagai santo karena keutamaan hidupnya, Paus sepanjang abad juga menetapkan sejumlah santo sebagai “Pujangga Gereja”. Gelar ini diberikan kepada mereka yang menjadi pemikir, guru, dan teladan dalam bidang teologi maupun spiritualitas. Kata “pujangga” mengacu pada kata dalam bahasa Inggris “doctor” yang memiliki akar kata bahasa Latin “docere”, yang berarti “mengajar”.

St. Thomas menulis secara luas sepanjang hidupnya, menghasilkan karya monumental Summa Theologiae, salah satu teks paling mendasar dalam teologi Katolik. Di dalamnya, ia menjawab berbagai pertanyaan yang muncul pada zamannya, dan jawaban tersebut tetap digunakan hingga kini untuk membela ajaran Gereja.

Namun ada penjelasan lain yang mendasari mengapa St. Thomas mendapat julukan Pujangga Malaikat. Paus Benediktus XVI dalam audiensi umum tahun 2010: Thomas disebut demikian karena keutamaan hidupnya, kejernihan pikirannya, serta kemurnian hidupnya.

Ensiklopedia Katolik memberikan penjelasan serupa: kemurnian pikiran dan tubuh membuat penglihatannya jernih. Dalam catatan kanonisasinya, dikisahkan bahwa dua malaikat turun dari surga dan mengikatkan sabuk di pinggangnya sambil berkata, “Atas nama Allah, kami mengenakan sabuk kemurnian yang tidak akan pernah dapat dihancurkan.”

Karena kedalaman pemikiran, kemurnian hidup, serta kontribusinya yang luar biasa bagi teologi Gereja, Santo Thomas Aquinas dikenang dan dihormati sebagai “Pujangga Malaikat”—seorang guru besar yang hidupnya mencerminkan kejernihan dan kebijaksanaan surgawi.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Pesan

Please enter your comment!
Please enter your name here

Exit mobile version