VATIKAN, Pena Katolik – Paus Leo XIV secara resmi mengesahkan beatifikasi bagi Fr. Augusto Rafael Ramírez Monasterio OFM, seorang imam Fransiskan yang dibunuh di Guatemala pada tahun 1983. Dekret yang dikeluarkan Vatikan menegaskan bahwa Beato Augusto dibunuh “karena kebencian terhadap iman,” sehingga Gereja mengakui dirinya sebagai seorang martir.
Pengakuan sebagai martir merupakan langkah penting dalam proses beatifikasi dan kanonisasi, karena memperpendek tahapan yang harus dilalui. Meski demikian, tetap diperlukan mukjizat yang terjadi melalui perantaraan doa Fr. Augusto untuk melanjutkan proses menuju kanonisasi penuh.
Siapa Pater Augusto?
Pater Augusto lahir di Guatemala City pada 5 November 1937. Ia masuk Ordo Fransiskan pada 1958 dan ditahbiskan menjadi imam pada 18 Juni 1967. Ia dikenal sebagai imam yang suci dan penuh dedikasi, terutama dalam pelayanan sakramen tobat. Berjam-jam ia habiskan di ruang pengakuan dosa, melayani umat dengan kesetiaan.
Kesetiaan itu akhirnya menjadi jalan menuju kemartirannya. Seorang umat datang mengaku dosa sekaligus meminta amnesti dari pemerintah. Namun pemerintah berusaha memaksa Pater Augusto untuk membuka isi pengakuan tersebut. Ia menolak, demi menjaga rahasia sakramen.
Martir demi Sakramen
Kesaksian kemudian menunjukkan bahwa Pater Augusto ditangkap dan disiksa oleh aparat militer. Ia digantung dengan tangan terikat, dipukuli, dibakar, bahkan tulang rusuknya patah. Namun ia tetap teguh, tidak mengkhianati rahasia pengakuan dosa. Pada 7 November 1983, saat dibawa dengan mobil polisi khusus ke pinggiran Guatemala City, ia mencoba melarikan diri. Tentara segera mengejarnya dan menembaknya hingga tewas.
Dicasteri Penggelaran Kudus menegaskan bahwa pemerintah saat itu memang menargetkan dirinya sebagai imam Katolik yang berani mengecam ketidakadilan sosial dan berusaha membangun dialog.
Pater Augusto menjadi bagian dari deretan imam dan religius yang dibunuh di Guatemala pada dekade 1980-an, bersama Beato James Miller dan Beato Stanley Rother. Beatifikasinya diharapkan segera dilaksanakan dalam upacara resmi mendatang. Beato Augusto bergabung dalam barisan imam yang memilih mati demi menjaga kesucian sakramen pengakuan dosa, menjadi teladan iman dan keberanian bagi Gereja universal.
