Sabtu, Desember 13, 2025

Dari Penumpang Menjadi Pengemudi: Leadership Camp Beasiswa Dominikan Indonesia 2025 – Anjongan

ANJONGAN, Pena Katolik – Sebanyak 73 mahasiswa penerima Beasiswa Dominikan Indonesia (BDI) dari Pontianak dan Ngabang berkumpul di Rumah Retret Santo Yohanes Paulus II, Anjongan, Kalimantan Barat, Pada 8–9 November 2025. Mereka masuk dalam sebuah pengalaman rohani dan formasi yang padat makna bertajuk: “From Passenger to Driver: Empowered to Lead, Transformed to Serve.” (Dari Penumpang Menjadi Pengemudi: Menjadi Pemimpin yang Berdoa, Melayani, dan Bertanggung Jawab.)

Program ini menegaskan satu hal penting: para penerima beasiswa bukan sekadar “ditolong” dan duduk sebagai penumpang, tetapi dipercaya Gereja menjadi calon pemimpin muda yang siap memikul salib, bertanggung jawab atas hidupnya, dan menuntun sesama ke jalan yang baik.

Jujur dan Syukur pada Rahmat

Sejak hari pertama, peserta diajak memasuki Jalan Salib kontekstual. Setiap perhentian dihubungkan dengan realitas hidup mereka. Pada Perhentian ke-2, ketika Yesus memikul salib-Nya, mereka merenungkan “salib” mereka sendiri: tekanan ekonomi keluarga, biaya studi yang besar, masalah komunikasi di rumah, kegagalan dalam studi, kekecewaan terhadap diri dan orang lain.

Mereka diajak untuk tidak melarikan diri, tetapi belajar dari Yesus: menerima beban dengan iman, percaya bahwa setiap salib yang dijalani bersama Tuhan dapat melahirkan kedewasaan, kerendahan hati, dan kekuatan baru.

Di akhir Jalan Salib, mereka menuliskan kelemahan dan kekuatan pribadi, lalu mempersembahkannya di hadapan Tuhan. Sebuah gerak sederhana, namun kuat:
“Saya mau dibentuk; bukan hanya hanyut.”

From Follower to Leader

Dalam sesi decision making dan problem solving yang dipandu Kak Sanjaya, peserta diajak melangkah lebih konkret. Pesan utamanya menyentuh: “Kalau mau ikut Kristus, jangan hanya duduk di bangku belakang. Pikullah salibmu, ikuti Dia, dan belajar mengambil keputusan yang benar.”

Melalui studi kasus, diskusi, dan refleksi, mereka diajak:

  • mencari jalan keluar kreatif dan jujur di tengah keterbatasan ekonomi keluarga,
  • membangun komunikasi yang sehat dengan orangtua dan teman,
  • mengubah budaya asrama yang melalaikan piket dan kebersihan menjadi budaya tanggung jawab dan saling mengingatkan,
  • memilah pertemanan yang tidak memilih-milih, namun justru saling menuntun ke arah yang baik, bukan menyeret pada kebiasaan buruk, menyadari dan mengolah talenta yang Tuhan percayakan,
  • bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi untuk menguatkan sesama.

Semuanya diarahkan pada perubahan cara pikir: dari sekadar pengikut yang pasif, menjadi pemimpin yang berani memikul salib, berinisiatif, dan menjaga komunitas.

Pendampingan ini dikuatkan oleh kehadiran penuh perhatian dari Ibu Retno, Sr. Roshelle, OP, Sr. Tresiah, OP, dan Sr. Apriyani, OP, yang menjadi telinga yang mendengar dan hati yang mendoakan para peserta.

Alumni: Buah yang Kembali Menjadi Berkat

Buah karya Beasiswa Dominikan Indonesia tampak nyata dalam peran para alumni. Valentinus Denny, sebagai Ketua Panitia sekaligus alumni, menyatakan kesiapannya untuk terus mendampingi dan melayani adik-adik sebagai ungkapan syukur atas kesempatan yang pernah ia terima.

Ia tidak berjalan sendiri. Bersamanya hadir para alumni: Rosinta, Jordy, Mia, Abednego, Christian, Ananta, Heriyadi, Suriaty, Tiara, Winda, Peggy, Abxy, Renando, serta sahabat alumni Cella dan Yantika sebagai panitia dan kakak pendamping.

Mereka adalah wajah nyata dari semangat ini: yang dulu menerima, kini kembali memberi. Sejumlah peserta—di antaranya Yosando, Ari, Angel, Yopita, dan Margareth—mengungkapkan betapa mereka merasa disentuh, dilihat, dan dikuatkan. Camp ini bagi mereka bukan sekadar acara, melainkan ajakan serius untuk menata hidup bersama Kristus.

Prosesi Bersama Maria & Para Kudus: Hujan, Rosario, Matahari Puncak rohani camp menjadi pengalaman yang sulit dilupakan.

Dalam prosesi Rosario menuju Goa Maria, langit mendung dan hujan mengguyur. Namun barisan tidak pecah. Dengan langkah perlahan, rosario dalam genggaman, mereka berjalan bagaikan berjalan bersama Bunda Maria sendiri.

Di depan, lukisan Bunda Maria Ratu Rosario dari Pompeii diarak, ditemani teladan Santo Bartolo Longo, Rasul Rosario, dan Santo Pier Giorgio Frassati yang dihadirkan dalam pesan dan semangat camp: Bartolo Longo—tanda bahwa hidup yang rapuh pun bisa diubah menjadi karya belas kasih melalui Rosario; Frassati—pemuda “Verso l’Alto” yang mengajak naik lebih tinggi dalam iman, pelayanan, dan persahabatan yang sehat.

Hujan yang membasahi menjadi seolah tanda pemurnian niat. Saat doa Rosario selesai dan peserta bersiap merayakan Perayaan Ekaristi penutup, hujan mereda dan matahari menembus awan. Banyak yang merasakannya sebagai tanda penghiburan: Tuhan menerima persembahan hati mereka dan meneguhkan langkah mereka.

Dalam Ekaristi itu, seluruh perjalanan dua hari—Jalan Salib, diskusi, tawa, air mata, hujan, Rosario—dipersembahkan di altar. Mereka diutus pulang sebagai:

  • Bait Allah yang hidup,
  • murid Kristus yang berani memikul salib,
  • bukan lagi penumpang yang pasif, tetapi pengemudi harapan bagi keluarga, Gereja, dan bangsa.

Dari Anjongan, Leadership Camp BDI 2025 memberi pesan jelas kepada kita semua: mendampingi kaum muda bukan hanya soal biaya studi, tetapi membentuk hati, karakter, dan iman—agar lahir generasi yang siap mengemudi hidupnya dalam terang Kristus.

Komentar

Tinggalkan Pesan

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terhubung ke Media Sosial Kami

45,030FansSuka
0PengikutMengikuti
75PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

Terkini