Kalender Liturgi, Kapan Dimulai?

0
1220
Paus Fransiskus saat memimpin Misa. IST

Pena Katolik – Kalender Liturgi Katolik dimulai pada hari Minggu pertama dalam Adven, yang merupakan hari Minggu keempat sebelum Natal. Sampai tahun 1969, setelah Adven dan Natal, diikuti dengan Epifani, Prapaskah, Paskah, Kenaikan, dan Pentakosta. Hari pertama Prapaskah adalah Rabu Abu, menjadi hari ke-40 (tidak termasuk hari Minggu) sebelum Paskah.

Fitur terpenting dari kalender baru adalah pemulihan semua hari Minggu sebagai hari raya Kristus. Tidak ada hari-hari suci, bahkan Hari Perawan Maria, yang statusnya didahulukan dari hari Minggu.

Peraturan mengenai hari-hari suci/khusus dalam Kalender Liturgi diatur oleh Kongregasi untuk Ibadah Ilahi. Perayaan-perayaan tertentu, selain semua hari Minggu, ditetapkan sebagai “hari-hari suci waji, di mana setiap umat beriman didorong untuk wajib menghadiri misa.

Hari-hari Raya yang mewajibkan umat menghadiri Misa di antarnaya, Hari Natal (25 Desember), Pesta St. Mary (Tahun Baru), Hari Raya Kenaikan, Kenaikan Santa Perawan Maria (15 Agustus), Hari Semua Orang Kudus (1 November), dan Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda (8 Desember).

Humas KAJ

Sejarah

Gereja Katolik membedakan hari dan musim tertentu setiap tahun, untuk mengenang dan merayakan berbagai peristiwa dalam kehidupan Kristus. Dalam Ritus Romawi, Tahun Liturgi dimulai dengan Masa Adven. Masa ini merupakan waktu persiapan untuk Perayaan Kelahiran Yesus (Natal) dan kedatangan-Nya yang kedua pada akhir zaman. Dimulai 4 Minggu sebelum Natal, Masa Adven berlangsung hingga Malam Natal pada 24 Desember.

Menjelang Paskah, umat Katolik masuk Masa Prapaskah. Masa ini adalah periode pemurnian dan penebusan dosa yang dimulai pada Rabu Abu dan berakhir pada Kamis Putih, pada Perjamuan Kudus menandai dimulainya Triduum Paskah (Tri Hari Suci), yang meliputi Jumat Agung, Sabtu Suci, dan Minggu Paskah.

Tri hari Suci ini menjadi puncak dari Tahun Liturgi. Tri Hari Suci ini mengenang Perjamuan Terakhir Yesus dengan murid-murid-Nya (Kamis Putih), kematian di kayu salib (Jumat Agung), dan kebangkitan (Paskah).

Selanjutnya, Tahun Liturgi memasuki Masa Paskah yang berlangsung tujuh minggu. Puncak dari Masa Paskah adalah Pentakosta, pesta terakhir ini mengingatkan turunnya Roh Kudus atas murid-murid Yesus.

Di luar masa itu, ada Minggu Biasa yang ditandai dengan warna liturgi hijau. Setiap hari Minggu pada masa biasa ini dalam Liturgi memiliki tingkatan yang sama dengan Hari Raya. Disamping beberapa tingkatan perayaan yang silih berganti mewarnai Tahun Liturgi.

Tiga Tahun

Gereja Katolik juga mengenal tiga Tahun Liturgi yang biasa diidentifikasi sebagai Tahun A, Tahun B, dan Tahun C. Pembedaan ini ditentukan berdasar bagian Injil yang dibacakan sepanjang tahun; Tahun A (Injil Matius), Tahun B (Markus), dan Tahun C (Lukas). Sedangkan Injil Yohanes tersebar di keseluruhan tahun ini.

Ketiga tahun ini dijalankan silig berganti. Sebagai cara identfikasi, apabila tahun berjalan dibagi 3 dan menyisakan bilangan 1 maka itu adalah Tahun A, Tahun B sisa 2 dan Tahun C tidak ada sisa. Sebagai contoh, tahun 2022 ketika dibagi 3 adalah 674 dan tidak ada sisa. Ini berarti tahun 2022 adalah Tahun C.

Dengan pembagian ini, maka Liturgi harian dalam Gereja Katolik apabila diikuti selam tiga tahun berarti telah “membaca” keseluruhan empat Injil. Akhir dari tahun Liturgi adalah Hari Raya Kristus Raja.

Tinggalkan Pesan

Please enter your comment!
Please enter your name here