Para Biarawati Cinta Kasih Bunda Teresa Berjuang Merawat Orang Sakit di Biara Kecil Dekat Rumah Sakit Gaza yang Dikepung

0
139
Anak-anak yang diselamatkan dari Rumah Sakit di Gaza. CNA

MUMBAI, Pena Katolik  – Di sebuah biara kecil dekat Rumah Sakit Al-Shifa di Gaza, tiga biarawati dari Misionaris Cinta Kasih Bunda Teresa saat ini berjuang untuk membantu sekitar 60 orang yang terjebak. Mereka termasuk orang lanjut usia dan orang cacat, dengan hanya melakukan kontak sebentar-sebentar dengan dunia luar. Informasi ini disampaikan seorang pendeta yang tinggal di India yang bisa berkomunikasi dengan mereka.

Pertempuran di sekitar rumah sakit sangat sengit, karena Israel menuduh Hamas menjalankan pusat komando di terowongan di bawah rumah sakit. Israel menuruh Hamas menggunakan dokter dan pasien sebagai tameng manusia. Pada hari Minggu, sekitar 30 bayi yang baru lahir dievakuasi dari rumah sakit oleh petugas medis dari Bulan Sabit Merah Palestina (PMI Palestina) dan Organisasi Kesehatan Dunia. bayi-bayi ini diizinkan menyeberang ke Mesir untuk mendapatkan perawatan.

Baru-baru ini Israel mengawal para jurnalis ke dalam terowongan untuk mendukung alasan mereka digunakan oleh Hamas, dan juga telah merilis video yang menunjukkan apa yang mereka klaim sebagai militan Hamas, yang memaksa sandera Israel masuk ke dalam terowongan tersebut. Hamas sendiri membantah membangun terowongan di bawah fasilitas medis.

Pastor Francis Xavier Rayappangari, Komisaris Tanah Suci di India mengatakan pertempuran sengit di wilayah tersebut tidak hanya berdampak pada Gereja Katolik Keluarga Kudus, satu-satunya paroki Katolik di Gaza, namun juga biara kecil Misionaris Cinta Kasih. Di biara itu, ada 3 suster dan 60 penghuni, termasuk anak-anak cacat dan cacat mental serta orang tua yang terbaring di tempat tidur karena luka. Mereka tidak memiliki makanan, air, obat-obatan, listrik, atau gas.

“Komunikasi dari luar terputus, dan seluruh wilayah dikepung oleh tentara Israel. Sesekali, telepon rumah mereka tersambung,” kata Pastor Rayappangari.

Pastor Rayappangari mengatakan bahwa baru-baru ini dia dapat berbicara singkat dengan seorang suster Misionaris Cinta Kasih di Yerusalem. Ia kemudian berbicara dengan para biarawati di biara Gaza, dan menjelaskan realitas yang mereka hadapi.

“Terkadang beberapa orang yang murah hati dan berani membawakan sesuatu untuk mereka makan. Apa pun yang mereka terima dari luar, suster melayani warga terlebih dahulu. Jika masih ada yang tersisa, mereka makan. Kadang-kadang mereka hanya makan satu kali sehari… seringkali hanya makan satu kali sehari,” kata Pastor Rayappangari.

Pastor Rayappangari mengatakan pasokan makanan menjadi tantangan yang semakin besar. Ia juga mengatakan menyaksikan kengerian perang telah menjadi kejadian sehari-hari tidak hanya di biara tetapi juga di paroki terdekat, di mana sekitar 700 orang mengungsi dari penembakan dan pertempuran.

“Seorang wanita ingin pulang ke rumah untuk mandi. Saat dia keluar dari kampus, dia ditembak dan meninggal karena pendarahan,” katanya.

Hamas, yang dilarang sebagai organisasi teroris di Amerika Serikat dan Eropa, melancarkan serangan mendadak pada 7 Oktober yang menurut Israel 1.200 orang terbunuh dan sekitar 240 lainnya diculik. Lebih dari 10 minggu serangan udara dan serangan darat Israel setelah serangan itu telah menewaskan lebih dari 13.000 warga Palestina dan membuat lebih dari 1,6 juta orang mengungsi di Jalur Gaza, menurut pejabat kesehatan di daerah kantong yang terkepung itu.

Salah satu narasi utama konflik sejauh ini adalah serangan Israel terhadap rumah sakit, yang seolah-olah menargetkan militan, namun pasien dan staf medis juga terbunuh. Israel mengklaim serangan-serangan itu diperlukan untuk memberantas infrastruktur teroris, sementara para kritikus mengecamnya sebagai kejahatan perang.

Tinggalkan Pesan

Please enter your comment!
Please enter your name here