Katekese tentang doa

Selama lebih dari satu tahun, mulai Mei 2020, Paus Fransiskus telah memberikan siklus pengajaran berkelanjutan tentang “doa” dalam Audiensi Umum mingguannya. Pada katekese tentang doa yang terakhir, 9 Juni, Bapa Suci merenungkan “ketekunan dalam doa,” dan apa artinya “berdoa terus-menerus,” ajakan dan perintah Kitab Suci yang diambil dari Surat Pertama Santo Paulus kepada Jemaat Tesalonika.

Ajakan ini ini menjadi inspirasi perjalanan peziarah Rusia dalam karya asketis abad ke-19 The Way of the Pilgrim. Paus Fransiskus mengingat bahwa peziarah itu belajar untuk mengucapkan doa Yesus, “sebuah doa yang, sedikit demi sedikit, menyesuaikan diri dengan ritme napas dan meluas sepanjang hari.”

Paus kemudian beralih ke beberapa bagian sejarah spiritualitas yang dikutip Katekismus Gereja Katolik, yang mengingatkan kita bahwa doa berfungsi sebagai “semangat dalam kehidupan Kristen, yang tidak boleh gagal,” seperti “api suci yang disimpan di kuil-kuil kuno.” Jadi, jelas Bapa Suci, “pasti ada api suci di dalam kita juga, yang terus menyala dan tidak ada yang bisa padam.”

Dari Santo John Chrysostom, Paus menunjukkan bahwa doa dapat menjadi bagian dari semua tindakan kita, dan mengatakan bahwa doa tidak mengganggu atau bertentangan dengan tugas kehidupan sehari-hari, tetapi memberi mereka makna dan perdamaian.

Tetapi doa terus-menerus tidaklah mudah, Paus mengakui. Ketika kita terjebak dalam kewajiban hidup sehari-hari, dan merasa sulit untuk memikirkan Allah, kita harus ingat bahwa meski Allah memperhatikan setiap aspek Ciptaan, Dia juga mengingat setiap secara pribadi. “Jadi kita juga harus selalu mengingat Dia,” kata Paus.

Menunjuk contoh para rahib, Paus menekankan pentingnya “keseimbangan batin” antara bekerja dan berdoa. Doa yang terlalu abstrak bisa kehilangan kontak dengan kenyataan, sedangkan pekerjaan bisa membuat kita tetap membumi. Kulit tangan-tangan rahib, yang disatukan dalam doa, kata Paus, menjadi keras karena kerja fisik.

Di samping itu, doa melengkapi pekerjaan, itulah “nafas” dari semua yang kita lakukan, tetap sebagai “latar hidup untuk bekerja,” bahkan ketika itu tidak eksplisit. “Tidak manusiawi,” kata Paus, untuk begitu asyik bekerja sehingga kalian tidak dapat lagi menemukan waktu untuk berdoa.”

Paus juga mengenang pengalaman Transfigurasi. Yesus tidak memperpanjang momen kontemplasi gembira, tetapi turun bersama para murid untuk melanjutkan perjalanan sehari-hari mereka. Pengalaman Gunung Tabor, kata Paus, tetap “di hati mereka sebagai cahaya dan kekuatan iman mereka.”

Paus menjelaskan bahwa dalam hubungan antara iman, kehidupan, dan doa, “seseorang terus menyalakan api kehidupan Kristen yang Allah harapkan dari setiap kita.”(PEN@ Katolik/paul c pati/Christopher Wells/Vatican News)

Katekese tentang doa1

Tinggalkan Pesan