Umat ​​Katolik Myanmar  berpartisipasi dalam protes damai, 22 Februari 2021.
Umat ​​Katolik Myanmar berpartisipasi dalam protes damai, 22 Februari 2021.

Sebuah gereja Katolik lain ditembaki oleh militer di Myanmar. Ironisnya, gereja ini bernama Maria Ratu Perdamaian di Daw Ngan Kha, Negara Bagian Kayah. Gereja itu diserang hari Minggu, 6 Juni, tetapi dilaporkan tidak ada korban atau cedera karena umat paroki yang berlindung di dalam dan melarikan diri ke kerabat mereka atau ke hutan. Namun, dinding gereja rusak parah dan jendela pecah. Serangan itu tampaknya disengaja karena kompleks gereja cukup besar dan terlihat jelas di jalan ramai. Beberapa rumah di dekatnya juga rusak akibat penembakan tersebut.

Gereja Maria Ratu Perdamaian itu adalah gereja ketiga yang diserang militer dalam dua minggu di Kayah. Gereja Hati Kudus di desa Kayanthayar dekat Loikaw terkena tembakan artileri yang menewaskan empat umat Katolik dan melukai sedikitnya delapan lainnya tanggal 23 Mei malam. Gereja Santo Yosef di kota Demoso, salah satu daerah utama pertempuran, dihantam artileri militer 26 Mei malam. Namun, serangan militer lain yang dilaporkan terjadi di Tempat Ziarah Maria Jeroblou di Pekhon dekat Loikaw di Kayah, 6 Juni, tidak bisa dikonfirmasi secara independen.

Menurut kantor berita Fides dari Vatikan, 75 persen penduduk Kayah termasuk kelompok etnis minoritas dan merupakan negara bagian dengan persentase Kristen tertinggi. Ada lebih dari 90.000 umat Katolik, hampir sepertiga dari 355.000 penduduk negara bagian itu. Caritas bekerja dengan berbagai mitra dan donor untuk membantu sekitar 300.000 orang yang terlantar akibat kekerasan tanpa pandang bulu itu.

Negara miskin di Asia Tenggara itu telah terjerumus ke dalam kekacauan sejak kudeta militer 1 Februari yang menggulingkan pemerintah terpilih dan menahan pemimpinnya, Aung San Suu Kyi. Protes dan pemogokan terhadap kudeta itu telah melumpuhkan sebagian perekonomian.

Orang Kristen adalah minoritas di negara yang mayoritas beragama Buddha itu, terhitung 6,2 persen dari 54 juta penduduknya. Umat ​​Katolik Myanmar mewakili sekitar 1,5 persen dari populasi.

Krisis itu juga telah menyalakan kembali konflik lama Myanmar antara militer dan beberapa organisasi etnis bersenjata. Daerah yang diduduki oleh kelompok etnis Kachin, Chin, Karen dan Kayah, yang telah menghadapi penindasan dan penganiayaan di tangan militer selama beberapa dekade, sebagian besar adalah Kristen. Diperkirakan sepertiga wilayah Myanmar, sebagian besar wilayah perbatasan, saat ini dikendalikan oleh 20 kelompok pemberontak bersenjata. Militer telah meningkatkan serangannya terhadap gerilyawan etnis dan kelompok-kelompok perlawanan anti-kudeta dengan mengerahkan jet tempur dan artileri berat.

Lebih dari 175.000 orang telah mengungsi di negara bagian Kachin, Karen, Chin, Kayah dan Shan sejak kudeta, menurut Kantor Komisaris Tinggi PBB untuk Pengungsi. Banyak warga sipil yang terperangkap konflik ini mencari perlindungan di negara-negara tetangga, sementara sejumlah besar mengungsi di dalam negeri, banyak dari mereka mencari perlindungan di lembaga-lembaga Gereja, biara-biara Buddha dan kuil-kuil. Tetapi gereja-gereja pun, yang dianggap aman bagi warga sipil, tidak luput dari serangan militer.

Serangan hari Minggu terhadap Gereja Maria Ratu Perdamaian terjadi meskipun ada seruan dari Kardinal Charles Bo dari Yangon, presiden Konferensi Waligereja Myanmar, yang mendesak semua pihak yang berkonflik untuk menjauhi tempat-tempat ibadah sesuai protokol dan konvensi internasional.

Militer Myanmar tidak hanya menargetkan organisasi kemanusiaan. Beberapa pengamat mengatakan junta mencoba mengubah konflik dengan gerakan perlawanan menjadi perang agama.

Hari Sabtu, pasukan keamanan menewaskan sedikitnya 20 warga sipil di wilayah Ayeyarwady. Penduduk desa Hlayswe bersenjatakan ketapel dan busur silang bentrok dengan pasukan keamanan yang mencari senjata, mengakibatkan korban tewas terberat dalam beberapa bulan terakhir.

Dalam hitungan terakhir pada hari Senin, Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik, yang mendokumentasikan dan mengumpulkan korban dari protes anti-kudeta, sejauh ini telah dipastikan 857 orang tewas oleh junta.

Junta militer tidak terlalu mengindahkan tuntutan dari Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) untuk menghormati “konsensus” yang disepakati akhir April untuk mengakhiri kekerasan dan mengadakan pembicaraan politik dengan lawan-lawannya. Para menteri luar negeri Asia Tenggara menyatakan kekecewaannya pada pertemuan di Cina hari Senin atas kemajuan “sangat lambat” yang dibuat oleh Myanmar dalam proposalnya untuk mengakhiri kekacauan.

Hari Minggu, Paus Fransiskus mendesak umat beriman dari berbagai agama untuk menyisihkan satu menit pada pukul 1 siang pada hari Selasa, 8 Juni, untuk berdoa bagi perdamaian Tanah Suci dan Myanmar. Inisiatif perdamaian dari International Forum of Catholic Action (IFCA) yang didukung oleh Catholic Action lokal, Persatuan Organisasi-Organisasi Wanita Katolik se-Dunia dan entitas lainnya. (PEN@ Katolik/paul c pati/Robin Gomes/Vatican News)

Tinggalkan Pesan