Paus Fransiskus bersama Kardinal Reinhard Marx - foto arsip
Paus Fransiskus bersama Kardinal Reinhard Marx – foto arsip

“Jika Anda tergoda berpikir bahwa dengan menegaskan misi Anda dan tidak menerima pengunduran diri Anda, Uskup Roma ini (saudara Anda yang mengasihi Anda) tidak memahami Anda, pikirkan apa yang Petrus rasakan di hadapan Tuhan ketika, dengan caranya sendiri, dia menyampaikan pengunduran dirinya,” dengan menampilkan dirinya sebagai orang berdosa, dan menerima jawaban, “Gembalakanlah domba-dombaku.”

Dengan gambaran di atas Paus Fransiskus mengakhiri surat yang menolak pengunduran diri yang diajukan oleh Uskup Agung Munich dan Freising Kardinal Reinhard Marx. Dalam surat kepada Paus tertanggal 21 Mei, yang kemudian dipubliksikan, Kardinal Jerman itu menjelaskan alasan sikapnya. Dia mengatakan dia telah meminta Paus untuk mundur dari kepemimpinan Keuskupan Jerman karena skandal pelecehan di Jerman dan tanggapan dari keuskupan, yang dia anggap tidak cukup.

Paus menanggapi dengan suratnya sendiri, yang ditulis dalam bahasa Spanyol dan diterbitkan dalam bahasa Spanyol dan Jerman oleh Kantor Pers Takhta Suci hari Kamis, 19 Juni. Dalam surat itu, Paus berterima kasih kepada Kardinal Marx atas “keberanian Kristen yang tidak takut akan salib, yang tidak takut dipermalukan di hadapan realitas dosa yang luar biasa.” Paus ingat bahwa “seluruh Gereja berada dalam krisis karena masalah pelecehan,” dan mempertahankan bahwa “Gereja saat ini tidak dapat mengambil langkah maju tanpa mengatasi krisis ini” karena “politik burung unta tidak mengarah ke mana-mana, dan krisis harus ditangani dengan iman Paskah kita. Sosiologi dan psikologi tidak berguna.” Oleh karena itu, lanjut Paus, “menghadapi krisis, secara pribadi dan komunal, adalah satu-satunya cara yang bermanfaat, karena kita tidak keluar dari krisis sendirian tetapi dalam komunitas.”

Paus setuju dengan deskripsi krisis yang diusulkan Kardinal Marx dalam suratnya, “Saya setuju dengan Anda dalam menggambarkan sejarah menyedihkan dari pelecehan seksual, dan cara Gereja menanganinya sampai saat ini, sebagai sebuah malapetaka. Untuk menyadari kemunafikan ini dalam cara menjalani iman kita adalah sebuah anugerah, itu adalah langkah pertama yang harus kita ambil. Kita harus memiliki sejarah, baik secara pribadi maupun sebagai komunitas. Kita tidak bisa tetap acuh tak acuh terhadap kejahatan ini. Mengangkatnya berarti menempatkan diri kita dalam krisis.”

Memang benar, lanjut Paus, “bahwa situasi sejarah harus ditafsirkan dengan hermeneutika waktu terjadinya, tetapi ini tidak membebaskan kita dari mengambil kepemilikan atas mereka dan menganggapnya sebagai sejarah ‘dosa yang menimpa kita’.” karena itu, lanjut Paus, “menurut saya, setiap uskup Gereja harus menanggungnya sendiri dan bertanya pada dirinya sendiri: apa yang harus saya lakukan dalam menghadapi bencana ini?”

Paus mengenang “mea culpa” yang sudah berulang kali “dihadapkan dengan begitu banyak kesalahan sejarah masa lalu.” Hari ini, Paus menjelaskan, “Kami diminta untuk melakukan reformasi, yang dalam hal ini, tidak terdiri dari kata-kata tetapi dalam sikap yang memiliki keberanian untuk menghadapi krisis, untuk menerima kenyataan apa pun konsekuensinya. Dan setiap reformasi dimulai dari diri sendiri. Reformasi dalam Gereja dilakukan oleh pria dan wanita yang tidak takut memasuki krisis dan membiarkan diri mereka direformasi oleh Tuhan.”

Ini, kata Uskup Roma itu “adalah satu-satunya cara, jika tidak kita tidak lebih dari ‘ideolog reformasi’ yang tidak segera mempertaruhkan daging mereka sendiri,” seperti yang Yesus lakukan, “dengan hidup-Nya, dengan kisah-Nya, dengan daging-Nya di kayu salib.” Dan ini, Paus akui, “adalah cara, cara yang engkau sendiri, saudaraku, ambil dalam menyampaikan penolakanmu,” karena “mengubur masa lalu tidak membawa kita kemana-mana. Keheningan, kelalaian, memberikan terlalu banyak bobot pada prestise institusi hanya mengarah pada kegagalan pribadi dan sejarah.”

Paus Fransiskus mengatakan “mendesak” untuk mengizinkan “Roh Kudus membawa kita ke padang gurun kehancuran, ke Salib dan kebangkitan. Itulah cara Roh Kudus yang harus kita ikuti, dan titik awalnya adalah pengakuan yang rendah hati: Kita telah berbuat salah, kita telah berdosa.”

Dalam suratnya, Paus menegaskan, “Baik jajak pendapat maupun kekuatan institusi tidak akan menyelamatkan kita. Kita tidak akan diselamatkan oleh gengsi Gereja kita, yang cenderung menyembunyikan dosa-dosanya; kita tidak akan diselamatkan oleh kekuatan uang atau opini media (terlalu sering kita terlalu bergantung pada mereka). Kita akan diselamatkan dengan membuka pintu bagi satu-satunya yang dapat [menyelamatkan kita], dan dengan mengakui ketelanjangan kita: ‘Aku berdosa,’ ‘kita berdosa …’ dan dengan menangis, dan terbata-bata, semampu kita, ‘Tinggalkan aku, karena aku orang berdosa,’ warisan yang ditinggalkan Paus pertama kepada para Paus dan para Uskup Gereja.”

Dengan melakukan itu, jelas Paus, “kita akan merasakan bahwa rasa malu yang menyembuhkan yang membuka pintu belas kasih dan kelembutan Tuhan yang selalu dekat dengan kita,” Paus juga mengatakan bahwa dia menghargai akhir dari surat Marx dan kesediaannya untuk terus “menjadi imam dan uskup Gereja ini,” serta berkomitmen untuk pembaruan spiritual.

“Dan inilah jawaban saya, saudaraku yang terkasih,” Paus mengakhiri. “Lanjutkan seperti usul Anda, tetapi sebagai Uskup Agung Munich dan Freising. Seraya mengenang bahwa Uskup Roma, Penerus Petrus yang telah mengatakan kepada Yesus, ‘Pergilah daripadaku, karena aku orang berdosa,’ bisa memahaminya dengan baik, dan mengajaknya untuk mendengarkan jawaban yang diberikan orang Nazaret itu kepada Pangeran para Rasul, “Peliharalah domba-dombaku.”(PEN@ Katolik/paul c pati/Vatican News)

Tinggalkan Pesan