Pastor Johanes Robini Marianto OP
Pastor Johanes Robini Marianto OP

Keinginan untuk mencerdaskan masyarakat di kampung agar mampu bersaing dengan orang lain dan untuk menjawab klaim masyarakat yang mengatakan ‘mana ada orang kita hebat’ dan ‘orang hebat itu berasal dari Eropa’, Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus dan Pastor Johanes Robini Marianto OP memberanikan diri mengambil sebuah langkah besar, khususnya dalam dunia pendidikan, di pinggiran kota.

“Kalau tidak berani menantang arus, kapan lagi kita bisa maju?” kata Mgr Agus seraya mengungkapkan fakta, “bahwa sampai detik ini nyatanya bisa berdiri gedung seperti ini.” Dan, aplaus umat yang hadir terdengar dalam sebuah Misa di STKIP Pamane Talino Ngabang, Kalimantan Barat.

Misa yang berlangsung 19 April itu dihadiri juga Bupati Landak Karolin Margret Natasa, Sekda Landak Visensius, Pastor Yulianus Astanto Adi CM, Pastor Orlando Morales OSM, Pastor Gregorius Sabinus CP, dan Pastor Adreas Kurniawan OP, para suster, frater, dan tamu undangan baik yang hadir secara offline maupun secara online.

Mgr Agus mengakui, semua karya dan usaha yang dilakukan, bukanlah hanya berasal dari dirinya maupun Pastor Robini yang berkarya sebagai Ketua Yayasan Landak Bersatu milik Keuskupan Agung Pontianak yang menjalankan STKIP Pamane Talino, Akper Dharma Insan, dan Akbid Santa Benedicta, melainkan dari campur tangan berbagai pihak dan juga Tuhan. “Ketika kita menjalankan tugas kemanusiaan, Tuhan akan membantu,” kata prelatus itu.

Bahkan Mgr Agus mengapresiasi niat besar Pastor Robini “yang sejatinya bukan orang Dayak, namun hatinya dipersembahkan untuk membantu orang pedalaman.”

Bupati Karolin juga mengakui bahwa Pastor Robini telah bekerja keras dan menghargai apa yang telah dilakukan Pastor Robini dari Ordo Dominikan. “Kami mendukung sepenuhnya, mudah-mudahan niat baik kita semua ini dapat terwujud dan dapat memberikan sumbangsih positif bagi masyarakat di masa yang akan datang,” kata Karolin seraya berharap Pastor Robini terus berkarya, baik bagi STKIP maupun umat di Kalimantan Barat.

Sementara itu, Sekda Vinsen mengaku bahwa awalnya, dia tidak menyangka STKIP akan jadi seperti sekarang ini. “Salah satu cara membuat suatu wilayah maju adalah dengan meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM), dan peran pendidikan sangat penting terhadap peningkatan SDM,” kata Vincen yang yakin Kabupaten Landak akan menjadi matahari yang baik untuk kabupaten lain, “cahaya yang menerangi wilayah lain di luar Kalimantan Barat.”

Pastor Robini bersyukur karena Ordo Dominikan mempercayakan dirinya menjalankan yayasan itu, dan bersyukur telah menemukan banyak keluarga dan teman di Kalimantan Barat. “Dengan adanya Monsinyur, saya merasa at home di Keuskupan Agung Pontianak,” kata Pastor Robini yang mengaku pernah diminta mengajar di Manila dan Roma.

Berbicara tentang STKIP Pamane Talino, Pastor Robini mengatakan tidak percaya bahwa universitas harus di kota. “Kalau kita tidak bisa ke kota, maka mari kita menciptakan kota,” kata Pastor Robini yang menyadari kelemahannya karena tidak bisa melayani dengan baik.

Selain meminta maaf kepada teman-temannya yang hadir di Zoom, Pastor Robini mohon doa untuk keabadian imamatnya, mohon doa agar dia bisa hidup suci dan mohon doa supaya STKIP Pamane Talino bisa menjadi universitas.(PEN@ Katolik/romanus)

Artikel Terkait:

STLIP Pamane Talino berdiri di pinggiran ibukota sesuai idealisme Mgr Agus

Rumah susun mahasiswa STKIP Pamane Talino mulai dibangun di area kampus

Wajah baru STKIP Pamane Talino dalam gedung tridharma kerja sama dan kapelan

Peletakan batu pertama kampus STKIP Pamane Talino tanpa pendidikan sulit mengembangkan manusia

Tinggalkan Pesan