Ketua Dewan Pengurus Yayasan Landak Bersatu Pastor Johanes Robini Marianto OP
Ketua Dewan Pengurus Yayasan Landak Bersatu Pastor Johanes Robini Marianto OP

Salah satu cinta-cita Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus adalah merintis pendidikan dengan mendirikan Universitas Katolik, bukan di pusat Provinsi Kalimantan Barat, tetapi mulai dari pinggiran kota mulai di sebuah kabupaten, yaitu Kabupaten Landak. Ini sebuah idealisme yang sebenarnya luar biasa.

Ketua Dewan Pengurus Yayasan Landak Bersatu milik Keuskupan Agung Pontianak Pastor Johanes Robini Marianto OP mengungkapkan hal itu dalam sebuah diskusi di suatu sore, Jumat, 19 Juni 2020, di Biara Dominikan Ngabang, Landak.

Untuk mengarah menjadi sebuah universitas, maka bentuk yang dipilih adalah sekolah tinggi untuk pendidikan guru, STKIP Pamane Talino, “karena masyarakat di Kalbar butuh guru, guru yang memiliki kualitas, integritas, dan karakter yang bermoral, disiplin dan berwawasan pengabdian,” kata imam Dominikan itu. “Banyak daerah di Kalbar kekurangan guru, ada SD yang hanya punya lima guru.”

Keuskupan Agung Pontianak mengambil alih STKIP Pamane Taliono 27 Mei 2018. STKIP yang didirikan oleh Adrianus Asia Sidot itu lalu diserahkan pelaksanaannya kepada Yayasan Landak Bersatu.

Tapi secara ekonomis tentu mengambil alih sekolah tinggi keguruan tidaklah sebanding dengan prospek ekonomi jurusan lain. “Itulah idealisme atau cita-cita yang melampaui perhitungan untung-rugi,” kata Pastor Robini yang juga mengaku tidak gampang mendirikan perguruan tinggi di pedalaman dengan jurusan yang bukan favorit sekarang ini. “Nilai ekonomisnya kurang,” tegasnya.

Tapi sekali lagi inilah idealisme. Meski menghadapi banyak tantangan, Mgr Agus ingin agar “Gereja punya andil dalam pendidikan anak muda, mulai dari pinggiran pusat ibukota provinsi. Tantangannya tentu banyak. Salah satunya adalah situasi ekonomi daerah di luar ibukota provinsi dan daya tarik gemerlap kota untuk anak muda.” Meski demikian, imam itu percaya, pendidikan merupakan idaman semua orang, termasuk anak muda.

Pastor Robini mengakui, ekonomi pedesaan lain dengan ekonomi perkotaan. “Uang lebih banyak beredar di kota daripada di pedesaan, sehingga tantangannya adalah keadaan ekonomi. Ini situasi obyektif dan kenyataan.”

Namun  imam itu mengingatkan tentang pengaturan ekonomi rumah tangga, pentingnya pendidikan untuk masa depan, dan guru sebagai sebuah pilihan. “Karya misi Gereja Katolik sejak masa misionaris tidak bisa lepas dari pendidikan. Di mana-mana karya misi selalu berbarengan dengan sekolah dan rumah sakit,” kata Pastor Robini.

Maka, tanya imam itu, “apakah cita-cita tinggi atau idealisme Mgr Agus merupakan pertaruhan antara sekolah berbasis keuntungan ekonomi semata atau ada misi mulia lainnya.” Sebagai Ketua Dewan Pengurus Yayasan Landak Bersatu, Pastor Robini menegaskan bahwa “sekolah bukan semata-mata untuk mencari untung dan demi uang, melainkan sebuah cita-cita atau idealisme!”

Pastor Robini lalu mengajak kaum muda, terutama yang katolik, khususnya di Keuskupan Agung Pontianak, “untuk menyadari pemikiran mulia dan cita-cita tinggi uskupnya, Mgr Agus, yang pasti tidak gampang melihat peta Indonesia dan menemukan bahwa pulau satu-satunya di Indonesia yang tidak ada Universitas Katolik adalah Kalimantan.” Padahal umat Katolik di Kalimantan, apalagi Kalbar, cukup banyak.

Sekali lagi, ini idealisme. Idealisme ini harus disadari oleh kaum muda Katolik Keuskupan Agung Pontianak, “Mengusahakan pendidikan dari pinggiran ibukota provinsi dengan membangun dari pedesaan bukanlah gampang tanpa kesadaran dan dukungan seluruh umat, terutama orang tua dan kaum mudanya.”

Memang kota itu menggiurkan. “Tapi, yang harus lebih menggiurkan adalah sebuah cita-cita mulia dan kualitas yang mau dibangun. Sejak awal, sekolah ini bekerjasama dengan universitas Katolik tertua di Asia yang didirikan tahun 1611 yaitu Universitas Santo Tomas Manila, yang prestise dan prestasinya tidak diragukan dunia,” kata Pastor Robini.

Perjanjian sudah ditandatangani. Kini, STKIP Pamane Talino adalah “sister university” dari Universitas Santo Tomas Manila. “Kalau bukan karena virus corona, mulai Juli 2020 setiap semester pendek sebanyak tiga atau empat dosen dari Filipina akan mengajar di STKIP Pamane Talino,” kata Pastor Robini seraya menambahkan, sekolah tinggi itu bekerjasama juga dengan Universitas Dresden Jerman. “Sudah ada mahasiswi yang dikirim magang di sana setahun lalu,” jelas imam itu.

Menyinggung kenyataan bahwa banyak universitas terkenal di Amerika bukan di tengah kota melainkan di pinggiran atau pedesaan, Pastor Robini minta umat. orang muda khususnya untuk memahami cita-cita mulia Mgr Agus. “Kadangkala kita berteriak dan mempertanyakan, di mana Gereja di karya pendidikan?”

Kalau perguruan tinggi, universitas atau lembaga apapun sudah berdiri, kadangkala umat tidak mengapresiasi, bahkan tidak peduli, dan tidak mendukungnya. Itu bahaya. Kalau itu terjadi, tegas Pastor Robini, “desakan dan teriakan hanyalah sebatas angan-angan atau sekedar mendesak atau kalau lebih jelek mengkritik belaka.”

Pastor Robini lalu mengajak kaum muda untuk belajar dan belajar melihat dunia “dan kita akan tahu, tidak selamanya yang di kota kecil adalah kalah, tidak semua universitas di kota besar menjadi “Sister University” dari sebuah perguruan tinggi luar negeri yang berumur 400 tahun lebih! Kini pilihan di tangan kita: menjadi bagian sejarah pendidikan tinggi Katolik atau menjadi penonton. Saatnya memilih!”(PEN@ Katolik/samuel)

Tinggalkan Pesan