Gas air mata (LuizSouza | Shutterstock)
Gas air mata (LuizSouza | Shutterstock)

Sebuah Misa di ibukota Haiti, Port-au-Prince, berakhir dengan kekerasan di hari Jumat 16 April ketika polisi menembakkan gas air mata ke gereja yang dipenuhi umat. Misa yang dipimpin para uskup itu dimaksudkan untuk menarik perhatian umat pada lonjakan kekerasan dan penculikan yang mengepung negara miskin itu.

Menurut laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa, sebanyak 234 penculikan dilaporkan terjadi tahun 2020, dibandingkan dengan 78 di tahun sebelumnya. Pembunuhan juga meningkat 20% dalam waktu itu.

Sudah cukup lama, kami melihat masyarakat Haiti turun ke neraka,” kata kantor uskup agung di Port-au-Prince dalam pernyataan 12 April. Kekerasan geng bersenjata telah terjadi dalam jumlah yang belum pernah terjadi sebelumnya.

“Misa untuk kebebasan Haiti” di siang itu dipimpin oleh 11 uskup, yang berprosesi masuk dalam gereja disertai suara lonceng gereja yang berdentang di seluruh ibu kota, lapor Miami Herald. Namun di akhir Misa, saat para uskup itu keluar dari gereja, polisi menembakkan peluru gas air mata ke arah kerumunan orang.

Beberapa saat sebelumnya, Misa telah berubah menjadi protes politik. Miami Herald melaporkan,
Di dalam gereja, kerumunan orang yang kebanyakan orang muda menyambut prosesi sambil bernyanyi dan berlari mondar-mandir di lorong antara bangku-bangku gereja sambil berkata, “Nou Bouke. Nou Bouke” (Kami muak. Kami muak), dan dan “Aba Jovenel” (Singkirkan Jovenel, yang mengacu pada Presiden Haiti Jovenel Moise).
Itu bukan Misa lagi, itu benar-benar demonstrasi politik yang spontan melawan kekuasaan, menentang penculikan, kata Michel kepada The Miami Herald. “Saat Misa berakhir, polisi menembakkan gas air mata. Saya hampir mati karena sesak napas di dalam.

Penculikan di Haiti begitu mencolok dan terlalu umum. Polisi tampaknya tidak berdaya menghentikannya. Tanggal 1 April, saat Kamis Putih, orang-orang bersenjata masuk ke gereja Port-au-Prince dalam ibadah yang disiarkan langsung, dan menculik pastor dan tiga umat paroki, lapor Associated Press. Setelah para kerabat mengumpulkan uang tebusan, para korban dibebaskan, namun pelaku masih buron.(PEN@ Katolik/paul c pati/Zelda Caldwell/Aleteia)

 

Tinggalkan Pesan