Duta Besar Vatikan untuk Indonesia Mgr Piero Pioppo memberi tiga formasi (pembinaan) untuk orang muda yakni formasi kebenaran, formasi cinta dan formasi konsistensi (PEN@ Katolik/pcp/screenshot)
Duta Besar Vatikan untuk Indonesia Mgr Piero Pioppo memberi tiga formasi (pembinaan) untuk orang muda yakni formasi kebenaran, formasi cinta dan formasi konsistensi (PEN@ Katolik/pcp/screenshot)

Tiga formasi (pembinaan) untuk orang muda yakni formasi tentang kebenaran, formasi tentang cinta dan formasi tentang konsistensi merupakan sumbangan Duta Besar Vatikan untuk Indonesia Mgr Piero Pioppo dalam catatan mengawali webinar bertema “Youth and Religious Tolerance in Digital Area” 16 April pukul 10.00 waktu Roma atau 15.00 WIB.

Menurut Mgr Pioppo, sumbangan itu bisa membantu generasi muda, juga yang tidak muda lagi, dalam membangun jembatan persahabatan yang kuat dan meningkatkan toleransi agama,” karena “orang muda dipanggil menjadi pelaku utama masa depan mereka dengan menjangkau orang-orang berbeda agama, meningkatkan perdamaian dan kerja sama.

Karena orang muda adalah masa depan bangsa, “maka seharusnya mereka bisa dipercaya, ya, saksi-saksi yang bisa dipercaya tentang iman mereka, dengan menyebarkan kebenaran dan cinta, menghalau prasangka dan salah pengertian, dan menjalani sepenuhnya cinta kepada Allah dan kepada sesama,” tugas yang memerlukan kebijakan, kebulatan tekad, kebijaksanaan, semangat dan tentu dialog dan kerjasama dengan pihak-pihak yang peduli.

Dalam formasi tentang kebenaran, kata Mgr Pioppo, orang muda harus diajak lebih menemukan kekayaan dari ajaran spiritual dari masing-masing agama. “Tentu, salah satu bagian formasi ini adalah mengetahui ajaran agama mereka, yang sekarang sering atau sedikit banyak diubah jadi ekstrim,” kata warga negara Italia yang ditunjuk sebagai Duta Vatikan untuk Indonesia 8 September 2017.

Namun, lanjut Duta Vatikan itu, “kebenaran tentang Allah, tentang manusia, tentang bagaimana Pencipta kita yang penuh cinta menginginkan kita menjalani kehidupan kita di sini, di bumi, merupakan pedoman pasti untuk menerima kebahagiaan, dalam kehidupan dunia dan kehidupan kekal.” Kebenaran ini tentu harus membuat manusia bermartabat karena Allah yang sejati adalah Dia yang menginginkan kebahagiaan kita.

Orang muda tentu tidak dipanggil semua menjadi ahli agama atau teologi tapi sekurangnya harus mengerti benar dasar keyakinan mereka sendiri, mampu menyebarkan kebenaran dan mengoreksi kesalahan dengan ramah, khususnya dalam dunia digital.

Dengan pembinaan yang baik tentang kebenaran atau dengan mempelajari kebenaran “mereka bisa menerima kejernihan pikiran yang tak mudah digoyang atau disalaharahkan oleh provokasi, oleh salah paham, atau oleh cara hidup emosional.”

Guna menghindari cobaan untuk menjadi arogan, karena keyakinan agama masing-masing, “saya kira perlu menanamkan sikap cinta terhadap semua sesama kita.” Itulah formasi tentang cinta. “Yang bisa menyentuh hati manusia bukanlah paksaan dan kekerasan, tetapi tindakan cinta, meski dengan cara kecil dan sederhana,” tegas Uskup Agung Tituler Torcello itu.

Menurut Mgr Pioppo, dia selalu kagum di Indonesia. Mengapa? “Karena (umat beragama berbeda) saling menyampaikan selamat bagi umat beragama lain yang merayakan pesta agamanya, membantu menjaga rumah ibadah umat lain. Di sini, di Jakarta, satu contoh luar biasa, Istiqlal dan Katedral selalu saling membantu dalam setiap pesta penting umat Muslim dan setiap perayaan penting umat Katolik,” kata Mgr Pioppo yang mulai terlibat dalam jajaran korps diplomatik Vatikan sejak Juli 1993.

Di samping itu, Mgr Pioppo bangga melihat orang memberikan kebutuhan mendasar kepada orang-orang yang membutuhkan tanpa diskriminasi, tanpa mengajak mereka pindah agama. “Ini contoh sangat umum di sini, di Indonesia. Saya sangat yakin, tindakan cinta ini harus lebih dikenal dan lebih tersebar di bangsa kita dan bisa juga menjadi satu contoh tindakan sederhana di bangsa-bangsa lain dan dalam konteks lain.”

Meski menegaskan bahwa bukan hanya orang muda yang harus menerima dan menjadikan formasi tentang konsistensi sebagai cara hidup standar, tetapi juga para pemimpin agama, serta para guru dan formator orang muda, uskup agung itu berharap “orang muda yang aktif dalam media sosial harus didorong untuk menyelaraskan kehidupan nyata mereka dan kehidupan digital mereka.”

Orang muda, tegas mantan Nuncio Apostolik untuk ASEAN itu, “harus menanamkan kehidupan nyata bukan hanya dengan rutin mengikuti ritual agama tetapi berupaya semampunya menjalani keyakinan agamanya dan dengan jelas memahami mengapa saya menjalani itu, mengapa saya memilih itu, mengapa bagi saya lebih baik memilih dan menjalani agama saya?”

Kehidupan digital, lanjut Mgr Pioppo, “justru harus mencerminkan kehidupan nyata mereka dan kehidupan nyata mereka harus menunjukkan keyakinan agama dan nilai-nilai spiritual masing-masing.” Hanya dengan cara itu saya kira orang muda, tetapi juga kita semua, “bisa menjadi saksi-saksi yang bisa dipercaya dan duta-duta perdamaian dan toleransi.”

Nuncio yang bisa berbahasa Spanyol, Inggris, Prancis dan Italia itu menegaskan alasan mengapa saat ini banyak orang seluruh dunia punya pendapat jelek dalam hal agama dan mulai meninggalkan agama, “adalah justru karena mereka punya gap besar antara nilai-nilai spiritual dan kehidupan nyata, juga antara cara digital untuk mengungkapkannya dan cara nyata untuk mengungkapkannya.”

Maka, Mgr Piero Pioppo berharap melalui webinar yang menjangkau banyak orang sedunia dan banyak orang muda Indonesia itu, “agar orang muda Indonesia mau juga membangun bangsa yang lebih baik dan meraih tradisi religius dan spiritual yang sangat baik. Semoga juga melalui pemakaian digital tersebar kebenaran dalam cinta dan mencintai sesama dalam kebenaran, tertanam dalam masyarakat Indonesia karunia spiritual yang sungguh kita perlukan untuk pengembangan yakni kerukunan, persaudaraan dan perdamaian.”

Webinar berbahasa Inggris sepanjang dua jam setengah yang dilaksanakan oleh Kementerian Luar Negeri Indonesia dan KBRI Vatikan dan diikuti 1000 peserta lebih lewat Zoom serta Youtube dengan moderator Nitia Anisa dari Kompas TV dan Kornelis Purba dari the Jakarta Post itu juga mendengarkan catatan Dirjen Informasi dan Diplomasi Publik Kementerian Luar Negeri Teuku Faizasyah.

Selain pembicara Saiful Umam dari MUI, Abdiel Tanias dari PGI, KS Arsana dari PHDI, Bhiku Dhammavuddho dari Buddha, Bryna Meivitawanli dari Konghucu dan Pastor Frans Kristi Adi Prasetya Pr dari KWI, webinar itu juga menampilkan tiga pembahas yakni Pastor Markus Solo SVD dari Dewan Kepausan untuk Dialog Antaragama, Pastor Leonardo Sileo dari Universitas Kepausan Urbaniana Roma, dan Valeria Martano sebagai penasehat khusus untuk Asia dari Komunitas Sant’Egidio.

Menurut Duta Besar Indonesia untuk Vatikan, Laurentius Amrih Jinangkung, dialog bukan sekedar cara efisien untuk saling mengenal tetapi juga menyelesaikan persoalan dan perbedaan. “Itu harus menjadi bagian dari cara hidup kita dan dialog lintas iman tak bisa dimulai hanya dalam percakapan teologis dalam ruangan kelas atau webinar seperti ini, tetapi harus dilakukan dalam aksi nyata dan kehidupan nyata.” Maka hal yang baik dari diskusi webinar itu harus direalisasikan, katanya.

Namun dalam webinar itu, Pastor Markus Solo SVD membenarkan bahwa orang muda adalah masa depan dan orang muda perlu formasi seperti disampaikan Mgr Piero Pioppo. Tetapi imam asal Flores, NTT, itu lebih jauh menegaskan “orang muda adalah sekarang ini,” karena “masa depan itu tergantung sekarang ini, dan bagaimana nantinya masa depan tergantung pada orang muda saat ini.”

Yang jadi persoalan, lanjut imam itu, “bagaimana bisa menggunakan dengan cara optimal para orang muda untuk masa depan, karena perdamaian dan kerukunan masa depan sungguh tergantung pada orang muda saat ini, dan bagaimana hendaknya bekerja sama menciptakan masa depan penuh perdamaian?”

Pimpinan Desk Islam Asia dalam dewan kepausan itu menjawab, “Saya kira saya harus garis bawahi bahwa membangkitkan kesadaran beragama dalam diri orang muda melalui pendidikan yang baik dan ketaatan kepada ajaran agama dan moral keagamaan, adalah sangat penting.”

Selain mengajak orang muda menggunakan sosial media untuk mengenal orang lain dan memajukan persaudaraan manusia, lewat webinar itu, imam Serikat Sabda Allah yang sudah berpengalaman puluhan tahun dalam dialog antaragama sedunia itu juga mengajak dan memberanikan semua orang muda untuk “tidak takut terhadap perbedaan agama dan budaya karena itu bukan sebuah ancaman, melainkan sumber kekuatan luar biasa, dan media yang membantu menemukan jati diri sesungguhnya.”(PEN@ Katolik/paul c pati)

Semua foto ini adalah hasil screenshot oleh PEN@ Katolik/pcp

Pastor Markus Solo SVD
Pastor Markus Solo SVD
Webinar Vatikan 2
Duta Besar Indonesia untuk Vatikan, Laurentius Amrih Jinangkung

Webinar Vatikan 3 (1)Webinar Vatikan 5

Tinggalkan Pesan