MAX ROSSI / POOL / AFP Paus Fransiskus  berbicara dengan Imam Besar asal Mesir dari Masjid al-Azhar Sheikh Ahmed Mohamed al-Tayeb dalam audiensi pribadi di Vatikan, 23 Mei 2016.  FOTO AFP / KOLAM RENANG / MAX ROSSI
MAX ROSSI / POOL / AFP
Paus Fransiskus berbicara dengan Imam Besar asal Mesir dari Masjid al-Azhar Sheikh Ahmed Mohamed al-Tayeb dalam audiensi pribadi di Vatikan, 23 Mei 2016. 

Pesan Ramadan dan ‘Idul Fitri dari Dewan Kepausan untuk Dialog Antaragama kepada “semua saudara dan saudari Muslim,” dimulai dengan menyampaikan “salam persaudaraan dan keberhasilan menjalani bulan yang kaya berkah ilahi dan kemajuan spiritual.” Menurut pesan itu “puasa, bersama doa, sedekah dan praktik saleh lainnya, membuat kita lebih dekat dengan Allah Pencipta kita dan semua orang yang hidup dan berkarya bersama kita, serta membantu kita terus berjalan bersama di jalan persaudaraan.”

Mengingat beberapa bulan terakhir yang penuh “penderitaan, kesedihan dan kesedihan,” terutama selama lockdown, “kita merasa bahwa kita perlu bantuan ilahi, tetapi juga ungkapan-ungkapan dan sikap-sikap solidaritas persaudaraan.” Ada begitu banyak gerakan kecil, lanjut pesan itu, misalnya panggilan telepon, pesan dukungan dan hiburan, doa, bantuan membeli obat atau makanan, nasihat untuk sekadar “menunjukkan rasa aman karena tahu ada orang yang selalu ada untuk kita di saat-saat perlu.”

Perlunya bantuan ilahi yang kita butuh dan cari ini “berlipat ganda,” lanjut Pesan itu. Kita perlu belas kasih, pengampunan, penyelenggaraan ilahi, serta karunia spiritual dan material lainnya. “Namun, yang paling kita butuhkan saat ini adalah harapan.”

Pesan itu lalu mengalihkan perhatian pada pentingnya “harapan”. Seperti kita tahu, tulisnya, “meski tentu termasuk optimisme”, harapan melampaui hal itu. “Meski optimisme adalah sikap manusia, harapan itu berdasarkan pada sesuatu yang religius: Allah mencintai kita, dan karena itu merawat kita melalui penyelenggaraan-Nya,” jelasnya.

“Harapan muncul dari keyakinan kita bahwa semua masalah dan pencobaan punya arti, nilai, dan tujuan, betapa pun sulit atau tidak mungkinnya kita memahami alasannya atau menemukan jalan keluarnya.

“Harapan juga disertai keyakinan akan kebaikan yang ada di hati setiap orang. Sering kali, dalam situasi-situasi sulit dan putus asa, bantuan dan harapan yang dibawanya, bisa datang dari orang-orang yang paling tidak kita harapkan.

Pesan itu lalu mencatat, “persaudaraan manusia, dalam berbagai manifestasinya, dengan demikian menjadi sumber harapan bagi semua orang, terutama orang-orang yang membutuhkan.

Pesan itu dilanjutkan dengan ucapan terima kasih. “Terima kasih kepada semua orang yang begitu cepat bereaksi dengan menunjukkan tanda-tanda solidaritas terbaik di saat-saat krisis. Semua orang ini dan kebaikan mereka mengingatkan kita umat beriman bahwa semangat persaudaraan itu universal dan melampaui semua batas: etnis, agama, sosial dan ekonomi,” tulis pesan itu.

“Dalam mengadopsi semangat ini, kita meneladani Allah, yang memandang dengan penuh kebajikan umat manusia yang Dia ciptakan, semua makhluk lain dan seluruh alam semesta. Inilah sebabnya perawatan dan kepedulian yang bertumbuh terhadap planet, ‘rumah kita bersama’, menurut Paus Fransiskus, juga merupakan satu lagi tanda harapan.

“Kita juga tahu bahwa harapan ada musuhnya,” tulis pesan itu. “Kurangnya iman akan kasih dan perhatian Allah, hilangnya kepercayaan pada saudara dan saudari kita, pesimisme, keputusasaan dan kebalikannya, anggapan tidak berdasar, generalisasi tidak adil berdasarkan pengalaman negatif, dan sebagainya,” semuanya adalah musuh iman, lanjutnya. “Pikiran-pikiran, sikap-sikap dan reaksi-reaksi berbahaya ini harus dilawan secara efektif, supaya memperkuat harapan pada Allah dan kepercayaan pada semua saudara dan saudari kita.”

Mengakhiri pesannya, Dewan Kepausan untuk Dialog Antaragama mencatat bahwa dalam ensiklik terbarunya, Fratelli tutti, “Paus Fransiskus sering berbicara tentang harapan.” Di dalamnya, Paus katakan, “Saya mengajak semua orang untuk memperbarui harapan, ‘karena harapan berbicara kepada kita tentang sesuatu yang sangat berakar di setiap hati manusia, terlepas dari keadaan dan kondisi historis kita. Harapan berbicara kepada kita tentang kehausan, aspirasi, kerinduan akan kehidupan yang terpenuhi, keinginan untuk mencapai hal-hal besar, hal-hal yang memenuhi hati kita dan mengangkat semangat kita pada realitas luhur seperti kebenaran, kebaikan dan keindahan, keadilan dan cinta … dan itu bisa membuka kita pada cita-cita besar yang membuat kehidupan lebih indah dan berharga’. Maka, marilah kita terus maju di sepanjang jalan pengharapan.”

Terakhir, tulis pesan itu “kita, umat Kristen dan umat Muslim, terpanggil menjadi pembawa harapan, untuk kehidupan sekarang dan kehidupan yang akan datang, dan menjadi saksi-saksi, pemulih dan pembangun harapan ini, terutama bagi orang-orang yang mengalami kesulitan dan keputusasaan.” Sebagai tanda solidaritas spiritual, tulisnya, “kami pastikan akan berdoa bagi kalian, dan ucapkan selamat menjalankan Ramadhan yang damai dan berbuah, serta ‘Idul Fitri menyenangkan.”(PEN@ Katolik/paul c pati/Vatican News)


Warning: A non-numeric value encountered in /home/martinus/public_html/pena/wp-content/themes/Newspaper/includes/wp_booster/td_block.php on line 352

Tinggalkan Pesan