Sakramen Mahakudus
Sakramen Mahakudus

Paus Fransiskus telah mengirim surat kepada mingguan Katolik Spanyol “Alfa dan Omega” setelah menerima foto rekaman tahun 1950-an dengan nama dan nomornya, yang menunjukkan bahwa sebagai orang muda, Paus Fransiskus adalah salah satu dari banyak umat yang melakukan kunjungan rutin ke Basilika Sakramen Mahakudus di Buenos Aires, Argentina, untuk berdoa di malam hari, bersama saudaranya Óscar.

“Saya tersentuh oleh fotokopi buku tentang adorasi malam hari Basilika Sakramen Mahakudus itu,” kata Paus dalam tulisan tangannya untuk mingguan Spanyol itu.

Dari rumahnya di lingkungan Flores di pinggiran Buenos Aires, Paus sebagai orang muda, sering naik bus ke Basilika itu, bersama saudaranya, pada tahun 1954 dan 1955. Di sanalah dia mendengar ungkapan “Venite adoremus” (marilah menyembah), yang menurut Paus dia ingat “dengan emosi.” Karena adorasi malam hari itu dilakukan secara bergiliran, orang dari shift sebelumnya akan membangunkan orang berikutnya dengan kata-kata “Venite adoremus” guna mengingatkan mereka untuk adorasi.

“Adorasi dimulai sekitar pukul sembilan malam setelah kotbah dari Pastor Aristi,” jelas Paus dalam suratnya. Saat itu, Jorge Bergoglio yang masih muda sudah menjalani kehidupan Kristen, atau seperti yang dia gambarkan dalam suratnya, dia “sudah memiliki pengalaman Santo Yosef dari Flores,” paroki yang Paus ikuti saat masih muda.

Dalam pertemuan dengan para imam di Roma, Maret 2014, Paus Fransiskus menjelaskan bahwa Pastor Aristi adalah bapa pengakuannya dan contoh yang baik dari seorang imam yang berbelas kasih. Pastor José Ramón Aristi dari Ordo Sakramentine itu adalah Provinsial dalam ordo itu dan seorang profesor. Dia juga seorang bapa pengakuan terkenal. Antrian panjang orang-orang menunggunya di Basilika Sakramen Mahakudus.

Paus Fransiskus lebih lanjut mengatakan kepada para imam bahwa setiap kali ada hal yang tidak menyenangkan yang terlintas di benaknya, dia menyentuh tas kain kecil yang dibawanya yang berisi salib yang pernah ditempelkan pada Rosario yang dibawa Pastor Aristi saat dimakamkan. “Dan saya merasakan rahmat! Saya merasakan manfaatnya,” kata Paus. “Betapa bagusnya teladan yang dilakukan imam berbelas kasih itu, [teladan] dari seorang imam yang mendekati luka-luka.”(PEN@ Katolik/paul c pati/Vatican News)


Warning: A non-numeric value encountered in /home/martinus/public_html/pena/wp-content/themes/Newspaper/includes/wp_booster/td_block.php on line 352

Tinggalkan Pesan