Vatican Media
Vatican Media

Saat kegelapan ketika manusia bergulat dengan pandemi dan penyakit lain, umat Kristen perlu mencamkan pesan Paskah dari malaikat untuk tidak takut dan yakin bahwa di Galilea tempat Tuhan mendahului mereka, harapan akan terpenuhi, air mata akan dikeringkan dan ketakutan akan digantikan dengan harapan.

Paus Fransiskus berbicara dalam homili Misa Malam Paskah di Basilika Santo Petrus, Sabtu malam, 3 April, dan ketika merenungkan episode Paskah tentang para wanita di makam, Paus mengajak memperhatikan apa yang malaikat katakan kepada mereka. “Ingin mendengar kata-kata itu: ‘Jangan takut’!” kata Paus. “Kamu mencari Yesus orang Nazaret, yang disalibkan itu. Ia telah bangkit’. Dan sebuah pesan: ‘Ia mendahului kamu ke Galilea; di sana kamu akan melihat Dia.”

Setelah ritus pembukaan berupa pemberkatan api dan lilin Paskah dalam basilika itu, Paus dan para konselebran menuju altar kursi dan diakon membawa lilin Paskah bernyala. Selama prosesi di gereja yang gelap, nyala lilin pertama diteruskan kepada Paus kemudian kepada para konselebran dan sejumlah umat. Setelah Paus berjalan ke lorong utama, lampu basilika itu dinyalakan.

Menjelang Paskah ke-9 di masa kepausannya, Paus berusia 84 tahun itu dalam homilinya merenungkan apa artinya pergi ke Galilea. Pertama-tama, itu berarti memulai yang baru. Galilea adalah tempat perjumpaan pertama para murid dengan Tuhan, cinta pertama mereka. Di sinilah mereka mendengarkan Dia berkhotbah dan melakukan mukjizat. Di sana juga mereka salah memahami kata-kata-Nya dan di hadapan salib mereka meninggalkan Dia dan melarikan diri.

Terlepas dari segalanya, Tuhan mengajak mereka untuk mulai dari mana mereka berada. “Di Galilea ini,” kata Paus, “kita belajar untuk heran akan kasih Tuhan yang tak terbatas, yang membuka jalan baru di jalan kekalahan kita.”

Karena itu, kata Paus, pesan Paskah pertama untuk kembali ke Galilea adalah “selalu mungkin untuk memulai yang baru terlepas dari semua kegagalan kita. “Dari puing-puing hati kita, Allah bisa ciptakan sebuah karya seni; dari sisa-sisa kemanusiaan kita yang hancur, Allah bisa persiapkan sejarah baru.” Lalu Paus dorong semua umat agar “di bulan-bulan gelap pandemi ini, mereka mendengarkan Tuhan Yang Bangkit saat Dia mengajak kita untuk memulai yang baru dan jangan pernah putus asa.”

Pergi ke Galilea juga berarti memulai langkah baru dengan menjauhi kuburan. Bagi banyak orang, kata Paus, iman terdiri dari kebiasaan-kebiasaan, hal-hal masa lalu, kenangan masa kecil yang indah, tetapi bukan lagi iman yang menggerakkan saya, atau menantang saya. Sebaliknya, pergi ke Galilea berarti menghidupkan iman dan kembali ke jalan. Kita harus setiap hari memperbarui keheranan atas perjumpaan pertama itu dan dengan rendah hati membiarkan diri dikejutkan oleh cara-cara Allah. “Allah,” kata Paus, “tidak bisa disimpan di antara kenangan masa kecil kita, tetapi hidup dan dipenuhi kejutan-kejutan. Bangkit dari mati, Yesus tidak pernah berhenti membuat kita heran.”

Karena itu, pesan Paskah kedua dari Paus adalah bahwa Kristus hidup di sini dan di saat ini. Menurut Paus, “Iman bukanlah album kenangan masa lalu; Yesus tidak ketinggalan zaman.” “Dia berjalan di samping kalian setiap hari, dalam setiap pencobaan yang harus kalian tanggung, dalam harapan dan impian terdalam kalian. Bahkan jika kalian merasa semua telah gagal, biarkan diri kalian terbuka terhadap keheranan atas kebaruan yang Yesus bawa: Dia pasti akan mengejutkan kalian.”

Pergi ke Galilea juga berarti pergi ke pinggiran. Galilea, pelopor terdepan kemurnian ritual Yerusalem, adalah tempat Yesus memulai misi-Nya. Ke sana, Dia membawa pesan-Nya bagi “orang-orang yang berjuang untuk hidup dari hari ke hari, yang tersisih, yang rentan dan yang miskin.”

Di pinggiran-pinggiran itulah Allah tanpa lelah mencari orang-orang yang putus asa atau tersesat. Dia pergi kepada “orang-orang paling pinggir dari keberadaan, karena di mata-Nya tidak ada yang paling kecil, tidak ada yang dikecualikan”. Jadi, Tuhan Yang Bangkit meminta murid-murid-Nya pergi ke tempat-tempat kehidupan sehari-hari, jalan-jalan yang kita lalui setiap hari, ke sudut-sudut kota kita. “Di sana Tuhan mendahului kita dan membuat diri-Nya hadir dalam kehidupan orang-orang di sekitar kita, orang-orang yang ada bersama kita di zaman kita, rumah kita, pekerjaan kita, kesulitan kita, dan harapan kita.” Paus mengatakan, “Kita akan heran bagaimana kebesaran Tuhan terungkap dalam hal kecil, betapa keindahan-Nya bersinar dalam diri orang miskin dan sederhana.”

Karena itu, pesan Paskah ketiga adalah bahwa Tuhan Yang Bangkit, mencintai kita tanpa batas dan ada di setiap saat kehidupan kita. “Dia mengajak kita setiap mengatasi rintangan, menyingkirkan prasangka dan mendekati orang-orang di sekitar kita agar menemukan kembali rahmat kehidupan sehari-hari.”

Paus lalu mengajak “mengenali Dia di sini di Galilea kita, dalam kehidupan sehari-hari,” dan mengatakan, “Yang Bangkit hidup dan membimbing sejarah, melampaui semua kekalahan, kejahatan dan kekerasan, melampaui semua penderitaan dan kematian.” (PEN@ Katolik/paul c pati/Robin Gomes/Aleteia)

Paus Malam Pasakah 1Paus Malam Pasakah 2Paus Malam Pasakah 4Paus Malam Pasakah 6

Semua foto ini dibuat oleh Vatican Media
Semua foto ini dibuat oleh Vatican Media

Tinggalkan Pesan