Penyair muda nasional AS, Amanda Gorman, saat upacara pelantikan Presiden Biden, 21 Januari 2021 (AFP)
Penyair muda nasional AS, Amanda Gorman, saat upacara pelantikan Presiden Biden, 21 Januari 2021 (AFP)

Media di Amerika Serikat setuju: Amanda Gorman telah mencuri perhatian saat pelantikan Presiden Joe Biden dengan puisinya. Pada usia 22 tahun, perempuan itu menjadi penyair termuda yang tampil dalam upacara pelantikan presiden di Amerika Serikat. Dengan “The Hill We Climb,” orang muda Katolik Afrika-Amerika itu menggerakkan Amerika dan dunia dengan penampilannya. Dia membuat mimpi seorang manusia “yang sembuh” menjadi nyata, mimpi yang menemukan harapan dalam penderitaan tetapi tidak sudi membiarkan konflik dan perpecahan menang. Dalam wawancara dengan Vatican News dan Osservatore Romano ini, Amanda memikirkan tentang kekuatan puisi sebagai alat rekonsiliasi di saat yang penuh polarisasi. Dia menggarisbawahi pentingnya berinvestasi dalam pendidikan sebagai cara untuk mengubah dunia dan memberikan masa depan lebih baik kepada generasi muda.

Paus Fransiskus dalam banyak kesempatan tekankan betapa penting membangun jembatan, berdialog, dan berani berupaya untuk rekonsiliasi. Menurut Anda apakah puisi bisa membantu menyembuhkan luka yang membelah dunia kita?

Benar. Puisi adalah bahasa rekonsiliasi. Puisi sering mengingatkan tentang diri kita yang terbaik dan nilai-nilai bersama. Warisan itulah yang benar-benar saya sukai saat menulis The Hill We Climb, yang pada dasarnya bertanya pada diri sendiri, “Apa yang bisa puisi ini lakukan, di sini dan sekarang, yang tak bisa dilakukan prosa?” Ada kekuatan khusus dalam puisi untuk menguduskan, memurnikan, dan memperbaiki, bahkan di tengah perselisihan.

Puisi terkadang dikaitkan dengan elit intelektual atau sesuatu yang hanya untuk orang dewasa. Apa akan Anda katakan kepada orang muda yang terinspirasi oleh puisi Anda dan menghargai usia muda Anda?

Sayangnya, seringkali puisi diajarkan di sekolah seolah-olah hanya menjadi arena elit intelektual yang tua, mati, kulit putih dan laki-laki, padahal puisi adalah bahasa rakyat. Saya akan mengatakan kepada orang muda lain bahwa puisi itu hidup dan selalu berubah, dan bentuk seni itu adalah milik kita semua, bukan milik kelompok terpilih. Kami perlu suara Anda, kami perlu cerita Anda, jadi jangan takut untuk mengambil pena.

Malala, Greta Thunberg, sekarang Amanda Gorman. Dalam beberapa tahun terakhir kami melihat banyak perempuan muda muncul sebagai pemimpin gerakan yang menantang kekuatan bumi. Apakah menurut Anda ini perubahan yang langgeng?

Saya kira kita sedang melihat para pemimpin perempuan muda mendapatkan panggung global karena itu merupakan fenomena global yang lebih besar: orang muda, terutama perempuan muda, di seluruh dunia bangkit dan mengambil tempat mereka dalam sejarah. Untuk setiap Amanda, ada banyak lagi yang seperti saya. Saya mungkin unik, tetapi saya sama sekali tidak sendirian. Dunia sedang diguncang dan diubah oleh generasi berikutnya, dan inilah saatnya kita mendengarkan mereka.

Sebagai seorang anak, Anda punya kesulitan berbicara yang bisa Anda atasi, dan hari ini dunia mengagumimu karena kefasihanmu. Menurut Anda, seberapa penting pendidikan untuk mengubah dunia kita?

Pendidikan adalah segalanya. Saya putri seorang guru, jadi saya selalu menganggap serius pendidikan saya. Saya mengerti di usia muda bahwa pengetahuan adalah kekuatan. Bagi orang terpinggirkan, ini bisa menjadi salah satu instrumen terpenting di kotak peralatan kami. Untuk mengubah dunia, kita harus mempersoalkannya , harus memeriksanya; kita harus melihat seluruh bentangan sejarah dan melihat bagaimana kaitannya dengan masa kini. Saya yakin lebih banyak lagi gerakan sosial yang hebat akan dimulai dalam ruangan kelas.(PEN@ Katolik/pcp/Alessandro Gisotti/Vatican News)

Tinggalkan Pesan