PWKI02
Pastor Markus Solo Kewuta SVD memberi homili dalam Misa (online) Tutup Tahun 2021 PWKI/PEN@ Katolik/pcp screenshot)

“Mari kita terus mewartakan Kabar Gembira, Kabar Keselamatan, dan narasi-narasi penuh harapan yang menggembirakan dan yang menghidupkan,” di dunia Indonesia yang sebagian warganya sudah berani dan terang-terangan masuk dalam era paska kebenaran yang lebih suka menyebar hoax atau fake news daripada kebenaran.

Ajakan itu disampaikan oleh Pastor Markus Solo Kewuta SVD dari Roma dalam Misa online Buka Tahun Baru Bersama XVI – 2021 Paguyuban Wartawan Katolik Indonesia (PWKI) seluruh Indonesia, 23 Januari, yang diikuti lebih dari 200 wartawan Katolik dari seluruh Indonesia dan 15 anggota panitia pelaksana dari Kawanua Katolik (KawKat) di Jakarta.

Dalam memimpin Misa bertema “Mempereratkan NKRI dalam Masa Pandemi” itu, staf Dewan Kepausan untuk Dialog Antarumat Beragama di Vatikan itu didampingi Superior General MSF di Roma Pastor Agustinus Purnomo MSF dan assistant superior general MSC di Roma Pastor Paulus Laurentius Pitoy MSC.

Tema Misa yang dipilih PKWI itu, menurut Pastor Markus, sudah sangat tepat dan kontekstual, “agar kita bersama-sama merefleksikannya dalam terang Sabda dan Ekaristi ini,” karena “kita ingin diberi bekal, perutusan dan pesan Yesus bagaimana sebaiknya hidup dan berkarya di tengah masyarakat, terutama di dalam situasi pandemi ini.”

Imam itu mengingatkan, era ini dijuluki era globalisasi atau post modern era dengan berbagai perubahan serba cepat, “Salah satu buktinya, kita bisa rayakan Misa dengan cara yang tak pernah terbayangkan puluhan tahun lalu ini,” dan inilah dunia kita dengan segala kemajuannya, “di satu sisi dipandang sebagai berkat bagi manusia dan peradaban dan sisi lain sering dikritik karena dinilai berpotensi membahayakan kesakralan agama.”

Ke dunia itu, tegas Pastor Markus, PWKI dikirim untuk bermisi. “Kamu adalah garam dunia, kamu adalah terang dunia atau tegasnya kamu adalah garam untuk dunia dan terang bagi dunia. Untuk konteks bangsa Indonesia dunia yang dimaksud adalah tempat kita hidup dan bekerja, dunia yang berpulau-pulau dan majemuk suku, bangsa, agama, etnik, budaya dan bahasa, yang terus diwarnai berbagai masalah politik dan relasi sosial budaya, relasi lintas agama, berbagai malapetaka dan hantaman degradasi moral,” kata imam itu.

Dunia Indonesia, jelas imam itu, tengah berjuang melawan Covid-19. “Sayangnya, tidak semua bersatu, banyak orang berpikir dan bertindak berbeda. Tidak semua mendukung kepala negara yang kita pilih bersama. Dunia kita sering dilanda krisis polarisasi atau perpecahan karena perbedaan yang sebenarnya terlalu lahiriah,” kata imam itu.

Menyinggung Surat Rasul Paulus II kepada Jemaat di Korintus yang dibacakan dalam Misa itu, Pastor Markus berkata, “mereka lebih suka menjadi hamba huruf dan kalimat yang suka menghancurkan nilai-nilai kehidupan bersama daripada menjadi hamba-hamba Roh yang sebarkan nafas-nafas kehidupan yang menyelamatkan kita semua. Dunia seperti inilah yang menjadi ladang misi kita bersama, yang ditunjukkan Yesus sendiri kepada kita.”

Menyadari hal itu, imam asal Flores itu mengatakan, “Kami non-wartawan membayangkan bahwa tugas kewartawanan di dalam dunia seperti ini tentu tidak mudah, banyak sekali harus berenang melawan arus, harus bergolak melawan nurani karena sebuah sikap, pendapat atau keputusan yang bisa berpotensi melukai hati orang, melukai kesucian iman umat beragama tertentu, atau membahayakan integritas diri sendiri.”

Imam itu menyadarkan, “menjadi nabi-nabi yang menyuarakan kebenaran di zaman open society tidak mudah, karena banyak potensi untuk ditolak atau dicemooh, apalagi di negeri sendiri, seperti kata Yesus, tidak ada nabi yang dihormati di tempat asalnya.”

Tapi dalam Injil yang didengarkan hari itu, lanjut Pastor Markus, Yesus memberanikan kita dengan sebuah afirmasi luar biasa bahwa “kita bisa,” karena kita adalah terang dan garam dunia. “Yesus tidak menuntut kita berenang berjam-jam di dalam air laut untuk menjadi asin seperti garam atau harus menatap matahari berjam-jam agar kita menjadi terang, tetapi karena pembaptisan dan iman kita kepada Tuhan.”

Selain mengajak para wartawan Katolik untuk “bersaksi tentang Dia,” di bagian akhir homili, Pastor Markus memperkuat iman anggota PWKI dalam petualangan iman mereka di tahun 2021 dengan mengutip mazmur 46 dalam Bacaan Pertama saat itu, “entah apapun yang akan terjadi, tetapi kita percaya Tuhan selalu berada bersama kita dan melangkah bersama kita, karena Dia adalah Imanuel, dia hadir di dalam sejarah  kita, Dialah kota benteng kita tempat kita berlindung.”

Selesai Misa, peserta yang merayakan Misa dengan iringan lagu-lagu dari PKWI Semarang, Kupang, RuaiTV Pontianak, Kompas TV dan OMK Kawanua itu juga mendengar sambutan dari Menkominfo Johny G Plate, Dubes Indonesia untuk Tahta Suci L Amrih Jinangkung dan Dirjen Bimas Katolik Yohanes Bayu Samodro, serta sambutan penerima Anugerah “Terima Kasihku Kepadamu” yakni Ketua KPK Komjen Pol Firli Bahuri, Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Letjen TNI Doni Monardo, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dan Wanita Inspiratif Anne Avantie. Semua nama itu hadir dalam acara itu kecuali Letjen Doni yang sakit dan diwakili  Kasubid Komunitasi Publik Satgas Covid Troy Pantouw.

Acara yang dihibur dengan berbagai lagu dari anggota PWKI itu juga memberikan door prize berupa uang tunai dari 200 hingga 2.000.000 rupiah serta dua tiket ke Vatikan, serta mendengarkan sapaan para peraih hadiah-hadiah itu, wakil PWKI dari Sibolga, Merauke dan Bali, serta sesepuh dan pendiri PKWI Pieter Gero dan Putut Purbantoro, dan donator Fransiskus Welirang, dan Ketua PWKI Asno Ovier.

Misa dan acara yang berlangsung lebih empat jam menguatkan rasa percaya diri wartawan Katolik Indonesia, seperti dikatakan Pastor Markus Solo, bahwa mereka “berbahagia di antara umat manusia karena adalah garam dan terang dunia yang dipercayakan Yesus Kristus untuk menjadi saksi-Nya di tengah masyarakat yang tengah berubah, di tengah masyarakat yang sedang menderita” dan oleh karena kualitas atau peran garam dan terang dunia ini “kita semua kapan dan di mana saja bisa menjadi seperti Orang Samaria yang Baik Hati “yang selalu terbuka, siap sedia untuk menolong, untuk menyelamatkan.” (PEN@ Katolik/paul c pati)

Semua foto ini diambil dengan screenshot oleh PEN@ Katolik/pcp

PWKI7PWKI5

OMK Kawanua Katolik ikut mengiringi Misa dengan lagu-lagu
OMK Kawanua Katolik ikut mengiringi Misa dengan lagu-lagu

PWKI8PWKI9

PWKI 25

PWKI1
Anne Avantie
PWKI11
Dubes Indonesia untuk Tahta Suci L Amrih Jinangkung

PWKI 22PWKI 21PWKI 23

1 komentar

Tinggalkan Pesan