Paus Fransiskus dan Kuria Roma mendengarkan khotbah pertama Kardinal Cantalamessa (Vatican Media)

Ajarilah kami menghitung hari-hari sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.” Bagian dari Mazmur 90:12 ini jadi inti Khotbah Adven pertama dari Pengkhotbah Rumah Tangga Kepausan Kardinal Raniero Cantalamessa yang disampaikan 4 Desember kepada Paus Fransiskus dan Kuria Romawi.

Kardinal itu memulai renungan tentang makna kematian, yang merupakan jembatan menuju kehidupan kekal, dengan puisi 10 kata dari penyair Italia yang ditulis dalam Perang Dunia Pertama yang juga mengungkapkan pengalaman umat manusia tentang pandemi Covid-19, “Kami seperti dedaunan di pepohonan di saat musim gugur.”

Kesulitan dunia saat ini, kata kardinal itu, menuntunnya untuk memfokuskan khotbah Advennya pada kepastian iman dalam menghadapi kelemahan hidup manusia.

Kematian, kata kardinal, bisa dibicarakan dalam dua cara berbeda, dalam terang kematian dan kebangkitan Kristus yang menyelamatkan atau dalam terang kebijaksanaan. Keduanya memiliki sesuatu untuk diajarkan pada umat manusia. Pertama, kerygma, menunjukkan kepada kita bahwa kematian bukanlah tembok yang membatasi akhir kehidupan, tapi “jembatan menuju kehidupan kekal.”

Terakhir, perspektif sapiensial atau fokus pada kebijaksanaan, memungkinkan kita menarik pelajaran untuk menjalani kehidupan yang baik dari pengalaman kematian manusia.

Kardinal itu memfokuskan renungan Adven pertamanya pada perspektif kebijaksanaan, yang diingat oleh para biarawan Trappist dengan pepatah abadi “Memento mori,” atau “Ingatlah bahwa Anda akan mati.”

Kitab-kitab Kebijaksanaan dari Perjanjian Lama, serta Injil, memberikan banyak renungan tentang tema kematian manusia, yang diambil dalam tradisi Gereja, terutama oleh para Bapa Padang Gurun.

Imitasi Kristus, katanya, juga berisi peringatan, “Di pagi hari, anggaplah kamu tidak akan sampai di malam hari. Ketika malam tiba, jangan mengandalkan pagi berikutnya.” Daripada menjadi daya tarik yang tidak wajar, lanjutnya, merenungkan kefanaan kita hendaknya menuntun kita pada “iman akan kehidupan kekal.”

Kardinal Fransiskan yang baru diciptakan itu lalu mengajak pendengarnya untuk belajar di “sekolah Saudari Maut,” yang memberi beberapa pelajaran di tengah pandemi. “Bencana saat ini datang untuk mengingatkan kita betapa sedikit ketergantungan pada kehendak manusia dalam hal ‘perencanaan’ dan menentukan masa depan,” katanya.

Kematian, kenangnya, membunuh “semua perbedaan dan bentuk ketidakadilan yang ada di antara manusia.” Kematian juga mendorong kita untuk hidup baik, dan menghindari keterikatan dengan hal-hal atau meletakkan hati kita hanya pada “tempat tinggal duniawi.”

Kardinal Cantalamessa menunjukkan bahwa kematian memainkan peran penting dalam penginjilan Eropa berabad-abad lalu, dan sekali lagi bisa membantu penginjilan kembali. Seorang psikolog modern berpendapat, lanjutnya, menolak atau menyangkal kematian adalah akar dari setiap tindakan manusia.

Kardinal itu berkata, tujuannya bukan hanya untuk memulihkan ketakutan umat manusia akan kematian, karena Yesus datang untuk “membebaskan mereka yang seumur hidupnya berada dalam perhambaan oleh karena takut pada kematian” (Ibr 2:15).

Tapi, kata kardinal, “Seseorang perlu mengalami ketakutan agar bebas dari ketakutan itu. Yesus datang untuk mengajarkan ketakutan akan kematian kekal kepada orang yang hanya tahu ketakutan akan kematian jasmani.”

Sebagai penutup, Kardinal Cantalamessa mengenang bahwa Yesus sendiri mengawali kematian-Nya sendiri dengan pembentukan Ekaristi.

Ikut dalam Ekaristi adalah cara kita untuk bisa “merayakan kematian kita sendiri, dan mempersembahkannya, hari demi hari, kepada Bapa,” kata kardinal itu seraya bertanya, “Apa guna yang lebih besar rasanya untuk hidup selain memberikannya, karena cinta, kepada Pencipta yang, karena cinta, memberikannya kepada kita?”(PEN@ Katolik/paul c pati berdasarkan Devin Watkins/Vatikan News)

Paus Francis dan Kuria Roma mendengarkan khotbah pertama Kardinal Cantalamessa (Vatican Media)

Tinggalkan Pesan