Holy Bible

(Renungan berdasarkan Bacaan Injil Minggu Kedua Adven [B], 6 Desember 2020: Markus 1: 1-8)

Pada Minggu kedua Adven, kita membaca dari awal Injil Markus. Kita ingat bahwa ini adalah awal dari tahun liturgi B sehingga awal Injil Markus adalah bacaan yang tepat. Namun, tidak seperti Matius dan Lukas, Markus tidak memiliki narasi kelahiran maupun kisah masa kecil Yesus. Markus memulai Injilnya dengan Yohanes Pembaptis yang mewartakan pertobatan dan kedatangan Kristus.

Markus di antara keempat Injil, bisa dibilang paling tidak populer. Mengapa? Markus adalah Injil terpendek dan hanya memiliki 16 bab dan sekitar lima belas ribu kata Yunani. [Matius memiliki sekitar dua puluh tiga ribu sedangkan Lukas dua puluh lima ribu]. Banyak cerita dalam Markus juga ditemukan dalam Matius dan Lukas, tetapi banyak materi dalam Matius atau Lukas tidak ada dalam Markus. Jadi, orang yang membaca Matius cenderung melewatkan Markus karena mereka yakin mereka telah membaca Markus. Hal ini tentunya sangat disayangkan karena Markus memiliki karakter dan penekanan tersendiri.

Markus adalah Injil yang berorientasi pada tindakan. Injil ini dimulai dengan Yohanes Pembaptis, “man of action”. Markus menampilkan Yesus sebagai seseorang yang selalu bergerak dan aktif. Markus tidak banyak menulis tentang pengajaran Yesus, tetapi berfokus pada apa yang Yesus lakukan. Yesus memberitakan kabar baik, menyembuhkan orang sakit, mengusir setan, melakukan mukjizat, memanggil murid dan mengunjungi banyak tempat. Injil Markus juga bergerak cepat, namun, meskipun bergerak cepat, Markus sering menuliskan lebih banyak detail dalam ceritanya di bandingkan Matius atau Lukas, seperti kisah orang yang dirasuki roh jahat di Gerasa [Mar 5: 1-20].

Lambang tradisional Markus adalah singa. Dia peroleh simbol ini karena Injilnya dimulai dengan Yohanes yang dengan berani memberitakan pertobatan, layaknya seekor singa. Namun, Injil Markus sendiri menampilkan karakter seekor singa: Injil ini menyampaikan pesannya dengan kuat dan efektif. Markus sendiri bukanlah dua belas rasul Yesus, dan ada kemungkinan bahwa dia adalah menjadi saksi mata, terutama ketika Yesus ditangkap [Markus 14:51]. Dari Kisah Para Rasul, nama lengkapnya adalah Yohanes Markus yang pada awalnya adalah rekan Paulus dan Barnabas dalam perjalanan misionaris mereka. Namun, sayangnya, Markus menjadi sumber ketidaksepakatan antara Paulus dan Barnabas [Kis 15:39]. Akhirnya dia berdamai dengan Paulus [Kol 4:10]. Markus kemudian menjadi pendamping dan murid Santo Petrus di Roma [1 Pet 5:13]. Menurut kesaksian Papias, uskup Hierapolis, pada awal abad kedua, Markus adalah penerjemah dari Santo Petrus dan menuliskan ajaran Petrus tentang Yesus secara akurat tapi tidak secara kronologis. Karena otoritas Petrus inilah, Injil Markus dipilih sebagai salah satu Injil kanonik.

Apa yang dapat kita pelajari dari Markus dan Injilnya terutama di masa Adven ini? Markus memberi kita teladan bahwa kita dapat melayani Yesus dengan kepribadian kita yang unik. Saat Markus menulis tentang Yesus, dia tidak menulis seperti Yohanes. Saat mengutip Markus, Lukas tidak sekedar menjiplak Markus, tetapi menulis dengan gayanya sendiri. Seperti Markus, kita tidak harus menjadi orang lain dalam mengasihi Tuhan. Sementara para kudus memberikan teladan, kita diundang untuk mengasihi Dia dengan kepribadian dan cara kita yang unik dan terbaik. Saat kita menjadi bagian dalam satu Gereja, kepribadian kita tidak hilang, melainkan ditingkatkan dalam melayani satu sama lain. Kecuali kita mengenali siapa kita secara fundamental di dalam Kristus, kita akan gagal untuk mengasihi secara otentik.

Pastor Valentinus Bayuhadi Ruseno OP

Tinggalkan Pesan