Beberapa rumah di provinsi Albay terkubur lumpur yang mengalir dari Gunung Mayon akibat hujan deras yang dibawa topan baru-baru ini, 13 November. MARK SALUDES / LICAS.NEWS
Beberapa rumah di provinsi Albay terkubur lumpur yang mengalir dari Gunung Mayon akibat hujan deras yang dibawa topan baru-baru ini, 13 November. MARK SALUDES / LICAS.NEWS

Dalam pesan 14 November, Uskup Legazpi Mgr Joel Baylon mendesak para korban selamat dari topan baru-baru ini untuk menghadapi kehancuran “dengan harapan baru dan tekad kuat untuk bangkit dari reruntuhan dan membangun kembali.”

Uskup mengakui sulit menjelaskan mengapa bencana semacam itu terjadi, tetapi dia mengatakan umat dipanggil untuk berpegang teguh pada iman. Orang-orang di Provinsi Albay, kata Mgr Baylon, tahu ada bencana sepanjang hidup mereka, dari letusan gunung berapi hingga topan super, dari banjir besar hingga tanah longsor.

“Dan di sinilah kita, yang selamat lagi dari bencana, dipanggil kembali untuk melakukan yang selalu kita lakukan di masa lalu: dipenuhi iman dan kepercayaan akan Tuhan yang tidak meninggalkan kita, untuk bangkit, bangun kembali dan lanjutkan,” kata Mgr Baylon.

Gelombang topan berturut-turut menyebabkan kerusakan besar-besaran dan hilangnya nyawa di Provinsi Albay dan Provinsi Luzon. Tak terhitung juga yang mengungsi dan lebih banyak lagi menderita kerugian akibat angin kencang dan hujan lebat.

Seperti yang mereka lakukan di masa lalu, Mgr Baylon meminta orang-orang “saling menjangkau” dan bekerja “bergandengan tangan” menuju pemulihan. “Biarlah kota-kota, barangay, paroki, lingkungan dan terutama keluarga kita sekali lagi menjadi komunitas yang peduli dan berbagi, komunitas saling percaya dan iman yang hidup,” kata uskup.

Sementara itu, kelompok aksi sosial Gereja Katolik, Caritas Filipina, mendesak pemerintah Duterte untuk mencari bantuan asing karena banjir yang meluas telah menggenangi beberapa bagian negara itu dan kerusakan akibat dua topan baru-baru ini membutuhkan bantuan dari masyarakat internasional.

“Kami desak pemerintah untuk mencari bantuan dari masyarakat internasional sekarang. Jelas kita tak bisa melakukan ini sendirian,” kata Direktur Eksekutif Caritas Pastor Antonio Labiao. “Sangatlah penting bahwa kita tidak tinggalkan siapa pun. Mari kita semua saling membantu. Mari kita selamatkan semuanya. Setiap detik berharga. Setiap kehidupan penting,” kata imam itu.

Topan Ulysses 11 November menyebabkan banjir besar di berbagai bagian Luzon, termasuk Metro Manila dan Cagayan, menyebabkan sedikitnya 32 orang tewas. Badai menghantam daerah yang masih terguncang akibat Topan Super Rolly, topan terkuat di dunia sepanjang tahun ini yang merenggut 25 nyawa dan menghancurkan ribuan rumah tanggal 1 November.

Topan melanda ketika Filipina terus bergulat dengan pandemi virus korona. “Bangsa ini berada dalam kebingungan,” kata Pastor Labiao. Di Cagayan, kata imam itu, banyak orang “berteriak minta tolong.” Gereja, khususnya Keuskupan Agung Tuguegarao, lanjut imam itu, sedang mengerahkan seluruh sumber dayanya untuk mencapai Lembah Cagayan secepatnya.

Menurut imam itu, diperlukan bantuan semua orang untuk menjangkau ratusan ribu orang yang terkena dampak topan baru-baru ini. “Kami tidak bisa melakukan ini tanpa bantuan semua orang. Semua pemangku kepentingan harus ikut serta,” lanjut Pastor Labiao.(PEN@ Katolik/paul c pati berdasarkan CBCPNews)

Tim penyelamat mengevakuasi penduduk lokal dengan perahu dari daerah banjir di Solana, Cagayan, 14 November 2020. FRANCIS JORQUE / CAGAYAN PIO
Tim penyelamat mengevakuasi penduduk lokal dengan perahu dari daerah banjir di Solana, Cagayan, 14 November 2020. FRANCIS JORQUE / CAGAYAN PIO

Tinggalkan Pesan