Basilika Notre Dame di Nice, Prancis (ANSA)
Basilika Notre Dame di Nice, Prancis (ANSA)

Dalam sebuah tweet, Presiden Konferensi Waligereja Prancis Uskup Agung Reims Mgr Éric de Moulins-Beaufort mengungkapkan kedekatan dengan tiga orang yang tewas dan orang-orang yang terluka dalam serangan pisau di kota Nice. “… Doa-doa sangat khusus saya untuk umat Keuskupan Nice dan Uskup Marceau. Semoga mereka tahu cara menahan diri dalam pencobaan ini dan mendukung mereka yang badannya mendapat cobaan,” kata Mgr Moulins-Beaufort.

Serangan 29 Oktober itu, jelas beberapa sumber, dimulai sekitar pukul 09.00 di Basilika Notre Dame, gereja Katolik terbesar di Nice. Tak lama kemudian, polisi mengerumuni tempat kejadian untuk mengamankan daerah dan memulihkan ketertiban. Dalam tweet-nya, Walikota Nice Christian Estrosi menggambarkan insiden itu bernada “serangan teroris” dan mengatakan bahwa tersangka di balik penyerangan itu telah ditangkap.

Mengingat Hari Raya Semua Orang Kudus 1 November, lanjut Mgr Moulins-Beaufort, “Pada hari Minggu untuk Semua Orang Kudus, kita akan mendengarkan Tuhan yang bersabda, Berbahagialah para membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Surga.”

Dalam pernyataan 29 Oktober, Uskup Nice Mgr André Marceau juga mengungkapkan kesedihan atas serangan tragis dan kematian tiga orang itu. “Kesedihan saya sebagai manusia tak terhingga,” kata Mgr Marceau seraya mengatakan bahwa serangan terakhir itu terjadi beberapa minggu setelah Storm Alex (Bencana Badai Alex) dan beberapa hari setelah pembunuhan Samuel Paty.

Mgr Marceau juga mengumumkan bahwa semua gereja di Nice ditutup dan dijaga polisi sampai pemberitahuan lebih lanjut. “Semua doa saya untuk para korban, orang yang mereka cintai, polisi di garis depan tragedi ini, para imam serta umat beriman yang terluka dalam iman dan harapan mereka,” lanjut Mgr Marceau.

Serangan terbaru ini terjadi ketika Prancis masih belum pulih dari pembunuhan seorang guru sekolah menengah, Samuel Paty, 16 Oktober, karena berbicara dengan siswa tentang gambar kartun Nabi Muhammad di majalah satir Charlie Hebdo.

Kota Nice juga jadi lokasi serangan teror lainnya, 14 Juli 2016, ketika seorang pria berusia 31 tahun membunuh 86 orang dan melukai banyak orang lain dengan truk yang dia bawa ke kerumunan orang yang berkumpul untuk merayakan Hari Bastille.(PEN@ Katolik/paul c pati berdasarkan Vatican News)

Artikel Terkait:

Paus Fransiskus bersedih, berdoa dan dekat dengan umat yang berkabung di Nice

Tinggalkan Pesan