Paus menanam pohon dalam kunjungannya ke Bangladesh 30 November 2017 (AFP)
Paus menanam pohon dalam kunjungannya ke Bangladesh 30 November 2017 (AFP)

“Pandemi membawa kita ke persimpangan jalan. Kita harus gunakan momen menentukan ini untuk mengakhiri tujuan-tujuan dan aktivitas-aktivitas berlebihan dan merusak, dan memperkuat nilai, koneksi, dan aktivitas yang memberi kehidupan. Kita harus memeriksa kebiasaan penggunaan energi, konsumsi, transportasi, dan makanan kita. Kita harus hilangkan aspek berlebihan dan merusak dari ekonomi kita, dan memperkuat cara-cara berdagang, memproduksi, dan mengangkut barang yang memberi kehidupan.”

Renungan itu ditulis Paus Fransiskus dalam pesan Hari Doa Sedunia untuk Pemeliharaan Ciptaan 1 September yang memulai Musim Ciptaan selama sebulan. Dalam renungan itu Paus berbicara tentang penghormatan terhadap bumi, sumber dayanya, kejahatan yang disebabkan oleh manusia dan perlunya “keadilan restoratif” seperti pembatalan utang bagi negara-negara miskin.

Menurut Paus “tangisan bumi dan orang miskin menjadi semakin keras dan menyakitkan beberapa tahun terakhir.” Namun, kata Paus, sungguh luar biasa menyaksikan cara Roh Kudus mengilhami pribadi-pribadi dan komunitas-komunitas di seluruh dunia untuk bersama-sama melindungi orang miskin dan tanah serta membangun kembali rumah kita bersama dan membela orang paling rentan di tengah-tengah kita. Orang muda, komunitas-komunitas, dan masyarakat adat, lanjut Paus, berada di garda depan dalam menyikapi krisis ekologi. Mereka menyerukan Yubileum untuk bumi dan awal yang baru, karena sadar bahwa “hal-hal bisa berubah.”

Paus mengingatkan “kita tak bisa hidup selaras dengan ciptaan jika tidak berdamai dengan Pencipta yang merupakan sumber dan asal mula segala sesuatu.” Yubileum adalah waktu untuk berpikir sekali lagi tentang sesama manusia, terutama yang miskin dan paling rentan, untuk berbagi warisan ciptaan yang dimiliki bersama dalam “semangat keramahtamahan, bukan rebutan secara kompetitif tetapi dalam persaudaraan penuh sukacita, serta saling mendukung dan melindungi.”

Yubileum adalah juga saat mendengarkan tanah, mendengar suara ciptaan dan kembali ke tempat kita yang layak dalam tatanan alam ciptaan, serta mengingat bahwa kita adalah bagian dari jaringan kehidupan yang saling berhubungan ini, bukan tuannya.

“Disintegrasi keanekaragaman hayati, meningkatnya bencana yang terkait dengan iklim, dan dampak tidak adil dari pandemi saat ini terhadap orang miskin dan rentan,” kata Paus, adalah “panggilan untuk bangun menghadapi keserakahan dan konsumsi merajalela”.

Yubileum, kata Paus, adalah saat membebaskan orang yang tertindas seperti masyarakat adat yang menghadapi ketidakadilan dan orang-orang lain yang menjadi sasaran berbagai bentuk perbudakan modern, seperti perdagangan manusia dan pekerja anak.

Yubileum juga merupakan waktu untuk keadilan restoratif, kata Paus, seraya mengulangi “seruan untuk pembatalan hutang negara-negara paling rentan, sebagai pengakuan atas dampak parah krisis medis, sosial dan ekonomi yang mereka hadapi akibat Covid- 19.”

Yubileum juga menyerukan adanya kepastian bahwa paket pemulihan yang sedang dikembangkan dan disebarkan di tingkat global, regional dan nasional menjadi paket regenerasi. Kebijakan, undang-undang dan investasi harus difokuskan pada kebaikan bersama dan menjamin bahwa tujuan-tujuan lingkungan, sosial, dan global terpenuhi.

Kalau ingin membaca teks lengkap pesan Paus dalam bahasan Inggris, Anda bisa klik link ini Pesan Paus untuk Hari Doa Sedunia untuk Pemeliharaan Ciptaan.(PEN@ Katolik/paul c pati berdasarkan Vatican News)

Tinggalkan Pesan