Uskup Agung Minsk Mogilev, Belarus. Mgr Tadeusz Kondrusiewicz
Uskup Agung Minsk Mogilev, Belarus. Mgr Tadeusz Kondrusiewicz

Otoritas perbatasan Belarusia melarang Uskup Agung Minsk Mogilev, Belarusia, Mgr Tadeusz Kondrusiewicz memasuki negara itu 31 Agustus 2020 ketika berusaha kembali setelah perjalanan ke Polandia.

Dalam seruan tertulis kepada umat beriman 1 September, Mgr Kondrusiewicz yang berusia 74 tahun menjelaskan, dia dihentikan di perbatasan Bruzhi “tanpa penjelasan alasan apapun” meskipun para penjaga “berperilaku sangat sopan.”

Uskup Agung itu mengatakan, dia tidak ingin “keputusan otoritas perbatasan yang tidak bisa dipahami dan menantang itu memperburuk ketegangan” mengingat “krisis politik saat ini” yang terjadi di Belarusia. Prelatus itu juga mengingatkan semua orang bahwa dia selalu menyerukan “dialog dan perdamaian.”

Merujuk hak kewarganegaraannya, Uskup Agung itu mengatakan, alasan para pejabat perbatasan menolak dia masuk tidak jelas baginya, dan dia menunjukkan bahwa pasal No. 49–3 dari Konstitusi Republik Belarus tanggal 20 September 2009 menyatakan, “Hak warga negara untuk masuk ke Republik Belarus tidak dapat dibatasi.”

Selain itu, lanjut Uskup Agung itu, larangan masuk itu mengganggu “rencana pastoralnya sebagai Ordinaris Keuskupan Agung Minsk-Mogilev dan sebagai Ketua Konferensi Waligereja Belarus.”

Seraya berharap agar “kesalahpahaman yang menjengkelkan” itu segera diperbaiki, Mgr Kondrusiewicz mengatakan dia telah mengajukan permintaan resmi kepada Komite Perbatasan Negara dari negara itu untuk mengklarifikasi situasi itu.

Mgr Kondrusiewicz mengajak semua orang berdoa bagi kepulangannya dan bagi “solusi damai untuk krisis sosial-politik yang akut” di Belarusia. Uskup agung itu juga mempercayakan bangsa itu dan rakyatnya kepada Bunda Maria dan kepada perantaraan Malaikat Agung Michael, pelindung Belarusia.

Protes di Belarusia pecah setelah Presiden Alexander Lukashenko, yang telah memerintah Belarus selama 26 tahun, menyatakan kemenangan dalam pemilihan presiden awal Agustus dengan sekitar 80% suara. Ribuan orang turun ke jalan dalam protes besar-besaran selama tiga minggu terakhir sambil mengecam hasil itu dan menyerukan pemungutan suara bebas dan transparan. Protes terus berlanjut meskipun tindakan keras telah menyebabkan banyak orang terluka dan sedikitnya enam orang tewas.

Setelah protes itu, Mgr Kondruziewicz terus meminta rakyat Belarusia untuk mendukung perdamaian dan dialog, dan berbicara menentang tindakan keras terhadap pengunjuk rasa yang dilakukan oleh pasukan keamanan negara.(PEN@ Katolik/paul c pati berdasarkan Vatican News)

Tinggalkan Pesan