Para frater yang siap menjalankan pelayanan pastoral bergambar bersama Uskup Agung Pontianak serta para imam pembina mereka (PEN@ Katolik/samuel)
Para frater yang siap menjalankan pelayanan pastoral bergambar bersama Uskup Agung Pontianak serta para imam pembina mereka (PEN@ Katolik/samuel)

“Pandemi Covid-19 adalah keadaan tidak normal, tapi semangat, cita-cita dan pelayanan kita haruslah normal. Semoga calon imam yang dididik di STT ini, mampu menjadi imam, yang bisa hidup dan menyesuaikan diri dengan perubahan zaman yang serba baru ini.”

Pesan itu disampaikan oleh Uskup Agung Pontianak Mgr Agustinus Agus dalam Misa 14 Agustus 2020 di Kapel Sang Pamanih Seminari Tinggi Antonino Ventimiglia, Siantan Hulu, Pontianak, untuk memulai tahun kuliah STT Pastor Bonus tahun 2020/2021 dan pelantikan lektor dan akolit yang menandakan permulaan pelayanan pastoral para frater.

Rektor STT Pastor Bonus Pastor William Chang OFMCap, Rektor Seminari Tinggi Antonino Ventimiglia Pastor Edmund Nantes OP, serta Pastor Sabinus Lohin CP, Pastor Robert Ambrosius Pr, Pastor Yosef Astono Aji OFMCap, Pastor Alexius Alex Pr, Pastor Yosep Maswardi Pr, Pastor Mikael Dolodo CP, dan Pastor Theobaldus Kasino Pr menjadi konselebran Misa yang dipimpin Mgr Agus itu.

Sebanyak 11 frater Kapusin (OFMCap), Passionis (CP), serta diosesan (Pr) dari Keuskupan Agung Pontianak dan Keuskupan Sintang dilantik sebagai lektor dan akolit untuk memulai masa Tahun Orientasi Pastoral (TOP). Setelah doa pelantikan, mereka menerima Kitab Suci dari Mgr Agus yang mengingatkan, “sumber kekuatan yang harus kita gunakan dalam melaksanakan karya bukan kemampuan diri sendiri, bukan kehebatan sendiri tapi berangkat dari pesan Allah yang tertulis di Kitab Suci itu.”

Mgr Agus juga mengingatkan dalam homili bahwa yang mengutus para frater untuk TOP bukan semata pembimbing rohani atau uskup, “melainkan Tuhan Yesus sendirilah yang mengutus para frater untuk tugas dan belajar.”

Di tempat TOP para frater akan menjumpai banyak kearifan lokal seperti semangat gotong royong, kepedulian, dan keramahan. “Itu semua bisa jadi dasar dan acuan para frater untuk merasul.” Mgr Agus memberi contoh, “kalau ada orang meninggal, semangat gotong royong untuk mengumpulkan beras, gula, kopi dan membantu orang yang sedang berduka masih bisa dilihat sampai sekarang. Itulah salah satu nilai budaya yang bisa dipetik dan dijadikan kesaksian untuk melayani.”

Meskipun Covid-19 jelas membuat banyak orang tidak nyaman, lanjut Mgr Agus “namun bukan karena masalah ini, kemudian pelayanan juga semakin berkurang.” Sebaliknya, tegas prelatus itu, “Justru dalam keadaan seperti inilah, para imam ditantang untuk melaksanakan dan menyuarakan pesan-pesan suci.”(PEN@ Katolik/samuel)

STT Pastor Bonus 1STT Pastor Bonus 3STT Pastor Bonus 5

Tinggalkan Pesan