KAJ
Foto : KOMSOS KAJ (JH)

“Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa, dan di antara mereka akulah yang paling berdosa” (1 Timotius 1:15). Salah satu rasa syukur Rasul Paulus tersembunyi dalam kata-kata itu. Lepas dari siapa yang paling berdosa, sangatlah jelas dari kata-kata itu bahwa Paulus menempatkan diri di antara jemaat yang dilayani. Dia tidak menempatkan diri di atas jemaat, di luar jemaat tetapi di antara. Inilah  salah satu buah yang amat penting dari rasa syukur yang sejati.

Uskup Agung Jakarta Ignatius Kardinal Suharyo mengatakan itu dalam homili sebelum menahbiskan empat diakon diosesan dan satu Misionaris MSC di Katedral Santa Maria Diangkat ke Surga Jakarta, 14 Agustus 2020. Kelima diakon yang ditahbiskan imam itu, Camellus Delelis Da Cunha Pr, Patrick Slamet Widodo Pr, Pius Novrin Arimurthi Pr, Robertus Guntur Dewantoro Pr dan Stefanus Adi Budi Kristianto MSC, memilih semboyan tahbisan “Aku bersyukur kepada Dia yang menguatkan aku” (1 Tim 1:12).

Semula Rasul Paulus menyebut dirinya penghujat, penganiaya, ganas. Tetapi oleh kasih karunia Tuhan, dia diubah menjadi orang yang dipercaya menjalankan pelayanan, dan dia setia. Terjadi penciptaan baru, pembaharuan hidup mendasar. Maka, tegas Kardinal Suharyo, “tidak heran kalau syukurnya berkepanjangan.”

Kardinal juga mengajak para imam baru untuk menjadi ‘gembala berbau domba’ seperti istilah Paus Fransiskus. “Sikap ini juga amat jelas diungkapkan di dalam pidato perpisahan Rasul Paulus kepada Jemaat di Efesus dalam Kis 20:17, ‘Kamu tahu bagaimana aku hidup di antara kamu sejak hari pertama’.”

Dalam pidato perpisahan itu, muncul lagi kata ‘di antara’, tegas Kardinal Suharyo seraya menambahkan hal itu dilakukan Yesus juga terhadap dua murid di Emmaus, dalam bacaan Injil, bahwa Yesus datang sendiri mendekati mereka lalu berjalan bersama-sama mereka.

“Dalam bahasa Paus Fransiskus, inilah yang disebut gembala berbau domba. Inilah buah syukur sejati yang pasti akan semakin membebaskan para imam dari yang selalu disebut Paus Fransiskus sebagai klerikalisme,” kata kardinal. Sejak awal masa pontifikatnya, lanjut kardinal, Paus mendorong semua klerus pada tataran apapun untuk menyadari hal ini dan berusaha menjauhkan diri dari semangat ini, “tetapi seperti Paulus hidup di antara.”

Kardinal Suharyo berharap agar dengan meneladani Rasul Paulus yang menempatkan diri di antara, tidak di atas, tidak di luar, para imam “dapat memupuk semangat dasar, semakin menaruh belas kasih kepada sesama dan setia kepada Allah.”

Kardinal berharap semoga tahbisan dengan keadaan khusus, ketika seluruh umat manusia sedang sangat prihatin karena pandemi Covid-19, semakin mendorong semua imam “untuk semakin setia mengikuti Yesus Sang Imam Agung untuk semakin menaruh belas kasih kepada sesama dan semakin setia kepada Tuhan.”

Di akhir Misa, Sekretaris Keuskupan Agung Jakarta Pastor Adi Prasojo Pr membacakan Surat Keputusan Uskup Agung Jakarta tentang perutusan para imam baru. Pastor Patrick Slamet Widodo Pr diutus menjadi Pastor Rekan Paroki Santo Nikodemus Ciputat, Pastor Pius Novrin Arimurthi Pr menjadi Pastor Rekan Paroki Santo Ambrosius Villa Melati Mas, Tangerang Selatan, Pastor Camellus Delelis Da Cunha Pr menjadi Pastor Rekan Paroki Ibu Teresa Cikarang, Pastor Robertus Guntur Dewantoro Pr menjadi Pastor Rekan Paroki Kategorial Pusat Pelayanan Umat Katolik di Lingkungan TNI-POLRI di Gereja Santo Agustinus Halim Perdana Kusuma.

Provinsial MSC Indonesia Pastor  Samuel Maransery MSC mengatakan, Pastor Stefanus Adi Budi Kristianto MSC akan kembali ke Keuskupan Agung Pontianak tempat dia menjalankan masa diakonat dan akan menjadi Pastor Rekan di Paroki Santo Agustinus dan Mattias Darit, Kecamatan Menyuke, Landak, Kalimantan Barat.

Sebelum mengakhiri Misa, para neomis menerima surat pernyataan tahbisan dan surat ijin melakukan pelayanan sakramen-sakramen dari tangan Kardinal Suharyo. Dan, mewakili para neomis, Pastor Camellus Delelis Da Cunha Pr mengatakan, mereka “diingatkan untuk setia dalam pelayanan.”

Memang, tegas imam baru itu, situasi kali ini berbeda dengan situasi sebelumnya “tapi tidak menjadikan pribadi kami yang hari ini menerima Sakramen Tahbisan berkecil hati, karena dalam kesederhanaan ini kami diingatkan bahwa kami kelak akan menjadi pelayan, bukan pemimpin yang dominan memerintah, tetapi pelayan murah hati, gembala baik yang murah hati.” Kemudian lima neomis itu memberikan berkat perdana.

Para imam baru itu, menurut Kardinal Suharyo, bukan pribadi-pribadi bermuka muram, melainkan pribadi-pribadi yang mempunyai hati berkobar-kobar. “Sebelum sadar siapa yang menyertai mereka, wajah mereka muram. Ketika mereka disertai Tuhan dan yakin akan hal itu, hati mereka berkobar-kobar. Mari kita doakan saudara-saudara kita ini supaya sepanjang perjalanan imamat, mereka mewartakan Kabar Gembira dengan hati berkobar dan tidak pernah sampai berwajah muram, karena mewartakan Kabar Gembira dengan wajah muram adalah suatu kontradiksi.”(PEN@ Katolik/paul c pati)

KAJ 6
Foto : KOMSOS KAJ (JH)
KAJ 1
Foto : KOMSOS KAJ (JH)

Tinggalkan Pesan