Wanita Dalit antri untuk pengobatan di Mumbai. Kredit AFP PHOTO Sajjad HUSSAIN
Wanita Dalit antri untuk pengobatan di Mumbai. Kredit AFP PHOTO Sajjad HUSSAIN

Umat ​​Kristen India merayakan “Black Day” 10 Agustus 2020 dan mengingatkan rakyat bahwa kaum Dalit yang memeluk agama Kristen sedang menghadapi diskriminasi berdasarkan konstitusi. Kata “Dalit” yang berasal dari bahasa Sanskerta dan berarti “rusak” atau “tertindas,” adalah kata digunakan untuk menandakan mantan orang-orang yang “tak tersentuh, yang status sosialnya begitu rendah sehingga mereka dianggap terbuang atau di luar sistem kasta masyarakat Hindu yang kaku. Akibatnya, selama berabad-abad, kaum Dalit menjadi sasaran eksploitasi ekstrim, perlakuan tidak manusiawi, kekejaman dan kemiskinan.

Guna membantu peningkatan sosial-ekonomi mereka, Konstitusi India memberikan kepada mereka hak istimewa dan keuntungan khusus seperti kuota dalam pekerjaan pemerintah dan institusi pendidikan. Namun, Peraturan Konstitusi (Scheduled Caste) (Paragraf 3) yang ditandatangani presiden pertama India Rajendra Prasad, 10 Agustus 1950, pada awalnya menyatakan bahwa “… tidak ada orang yang menganut agama berbeda dari Hindu akan dianggap sebagai anggota dari sebuah Scheduled Caste (Kasta Terjadwal atau Kasta Anusucita, atau Kaum Dalit).

Ketika orang Sikh menuntut hak istimewa ini, Peraturan itu diubah tahun 1956 untuk memasukkan mereka. Umat ​​Buddha juga diberikan keuntungan tahun 1990. Tetapi Muslim dan Kristen dari kasta rendah terus dikucilkan meskipun mereka menuntut.

Protes “Black Day” umat Kristen Dalit bertentangan dengan Peraturan Presiden 10 Agustus 1950 ini.

Kaum Dalit jumlahnya sekitar 60 persen umat Kristen India, atau sekitar 2,3 persen dari 1,3 miliar penduduk beragama Hindu di negara itu. Muslim banyaknya sekitar 14 persen.

Gereja Katolik India sangat mengutamakan kepentingan umat Kristen Dalit. Perhatian Konferensi Waligereja India (CBCI) ini sebagian besar dilakukan oleh Kantor Kasta-Kasta Terjadwal atau Kelas-Kelas Terjadwal, melalui lobi, advokasi, memorandum, petisi pengadilan, gerakan dan protes.

Black Day, yang pertama kali dirayakan tahun 2009, diselenggarakan setiap tahun oleh CBCI, Dewan Gereja-Gereja Nasional di India, dan Dewan Nasional Umat Kristen Dalit.

Pada kesempatan Black Day tahun ini, Uskup Agung Vasai Mgr Felix Machado mengatakan, perkara umat Kristen Dalit bertambah di bawah dampak Covid-19 dan lockdown. Ketika berbicara kepada Vatican News, Mgr Machado mengatakan “korban pertama dari semua efek virus corona adalah orang-orang miskin seperti Dalit.” Mereka miskin ganda dan tiga kali lipat karena mereka tidak hanya dirampas secara ekonomi dan tidak punya mata pencaharian esensial tetapi mereka dianggap sebagai “masyarakat yang tidak berguna,” yang dihina, diabaikan dan didiskriminasi.

Meskipun Covid-19 menyerang siapa saja, Uskup Vasai itu mengatakan, Kaum Dalit, dalam banyak hal, adalah korban pandemi pertama dan terbesar. Itulah sebabnya mengapa aksi Gereja Katolik India secara khusus difokuskan pada kaum Dalit.

Presiden Konferensi Waligereja India Kardinal Oswald Gracias juga menyerukan persamaan hak bagi orang Kristen Dalit yang terpinggirkan di India. “Hari ini ada kesadaran yang besar karena apa yang terjadi di Amerika tentang pentingnya kesetaraan bagi orang yang lebih lemah,” kata Uskup Agung Bombay itu kepada situs berita Crux, 27 Juli, setelah protes Black Life Matters di seluruh AS dan Dunia.

“Di negara kita sendiri: Persoalan tentang Dalit. Gereja sedang berteriak dari atas atap rumah bahwa kami tidak dapat mendiskriminasi mereka dan kami sedang berjuang melawan sistem kasta,” kata kardinal itu. “Tuhan telah memperlakukan semua orang sama,” lanjut prelatus itu. (PEN@ Katolik/pcp berdasarkan Robin Gomes/Vatican News)

Tinggalkan Pesan