Ibu, Hermine Nzotto, dan putri-putri kembar siam yang sudah terpisah, dikelilingi oleh staf rumah sakit, 7 Juli 2020 (ANSA)
Ibu, Hermine Nzotto, dan putri-putri kembar siam yang sudah terpisah, dikelilingi oleh staf rumah sakit, 7 Juli 2020 (ANSA)

Hermine Nzotto menulis surat kepada Paus Fransiskus yang baru-baru ini membaptis bayi kembarnya. Dalam suratnya, Hermine Nzotto, penduduk asli Republik Afrika Tengah (CAR), menceritakan kehidupannya sebagai “gadis petani dari hutan” di kota Mbaiki, sekitar 100 km dari ibu kota Bangui, tempat kelahiran bayi kembar Siamnya dengan tengkorak menyatu, 29 Juni 2018.

Si kembar dipindahkan ke Bangui. Di sana mereka dirawat di rumah sakit yang dibangun dengan bantuan Rumah Sakit Anak Bambino Gesu, rumah sakit milik Vatikan di Roma. Unit yang dibangun di Republik Afrika Tengah itu adalah proyek yang dimulai setelah Paus Fransiskus mengunjungi negara yang dilanda perang itu, November 2015.

Rumah sakit di Bangui itu memindahkan ibu dan putri-putrinya ke Roma 10 September 2018, untuk melihat apakah mereka bisa dipisahkan. Di akhir operasi ketiga, 5 Juni 2020, yang berlangsung 18 jam dan melibatkan sekitar 30 dokter spesialis, kedua gadis itu, Ervina dan Prefina, berhasil dipisahkan. Baru-baru ini mereka dibaptis oleh Paus Fransiskus dalam upacara pribadi di Casa Santa Marta di Vatikan.

Dalam kunjungan ke Bangui tahun 2015, Paus memulai Tahun Yubileum Belas Kasih dengan membuka Pintu Suci katedral. Pintu itu menambah arti penting bagi ibu dan putri-putrinya itu, seperti yang diungkapkan oleh Nzotto dalam suratnya kepada Paus.

“Pembaptisan anak-anakku yang ajaib Maria dan Frances oleh Yang Mulia meyakinkan saya bahwa Tuhan benar-benar dekat dengan orang terkecil,” tulis Nzotto kepada Paus. Maria dan Frances adalah nama baptis yang digunakan Paus untuk kedua anak itu. “Jika besok putri-putriku bisa jadi anak-anak sangat beruntung di dunia yang bersekolah dan mempelajari apa yang tidak saya tahu dan yang sekarang ingin saya tahu, dan suatu hari bisa membacakan ayat-ayat Alkitab untuk putri saya, maka itu bukanlah Pintu Suci yang Anda buka di Bangui tahun 2015, yang ditutup setahun kemudian.

Sebaliknya, lanjut ibu itu, “itulah jembatan yang Anda bangun untuk selamanya, yang dapat dilintasi oleh orang-orang yang membutuhkan seperti saya dan orang-orang yang berkemauan baik seperti tim dokter yang merawat anak-anakku, orang-orang tak terpisahkan yang sudah dipisahkan.”

Dalam suratnya, ibu dua anak perempuan itu mengungkapkan rasa terima kasih yang tulus kepada para dokter di Rumah Sakit Bambino Gesù, Dokter Mariella Enoc, presiden rumah sakit yang mengatur pemindahan dan pembedahan, dan Dokter Carlo Efisio Marras, kepala Departemen Bedah Saraf, yang timnya “secara ajaib memisahkan dan membangkitkan” puteri-putrinya.

Hermine Nzotto menulis di akhir suratnya, “Doalah yang dapat mempersatukan manusia di bumi.” Maka, dia berjanji berdoa kepada Maria untuk Paus Fransiskus dengan mengatakan, yang (Paus) berani menentang gigitan nyamuk dan kunjungi CAR dalam pemberontakan tahun 2015, lebih tahu dari dia (ibu itu) apa yang harus diminta dari Perawan Maria untuk dunia.(PEN@ Katolik/pcp berdasarkan Robin Gomes/Vatican News)

Tinggalkan Pesan