Pastor Robini OP
Pastor Robini OP (scteenshot by PEN@ Katolik/pcp)

Pastor Johanes Robini Marianto OP adalah salah satu dari dua imam pertama Dominikan dari Indonesia di Provinsi Dominikan Filipina. Dia ditahbiskan imam bersama Pastor Adrian Adiredjo OP di Jakarta, 19 April 2005, oleh Uskup Agung Pontianak saat itu Mgr Hieronimus Bumbun OFMCap.

Misi Para Imam Dominikan (Ordo Pewarta, OP) yang didirikan oleh Santo Dominikus 22 Desember 1216 itu pernah hadir di Indonesia sejak 1551 hingga 1769, dan kembali lagi setahun setelah Pastor Robini dan Pastor Adrian ditahbiskan, tepatnya pada Pesta Santa Maria Magdalena, pelindung Ordo itu, 22 Juli 2006.

Ketua Yayasan Landak Bersatu yang menjalankan STKIP Pamane Talino milik Keuskupan Agung Pontianak (KAM) di Ngabang, Kalimantan Timur, dan anggota Tim Eksorsis KAM adalah juga Superior Rumah Santo Dominikus Pontianak. Untuk merayakan Pesta Santo Dominikus, dan untuk lebih mengenal keutamaan orang kudus bergelar ‘Joyful Friar’ dan ‘O Spem Miram’ itu, Samuel dari PEN@ Katolik mewawancarai Pastor Robini OP, 8 Agustus 2020, di Rumah Santo Dominikus Pontianak “yang sedang direnovasi berkat cinta kasih banyak orang.”

PEN@ Katolik: Mengapa Santo Dominikus digelari Joyful Friar?
PASTOR JOHANES ROBINI MARIANTO OP:
Joyful Friar berarti saudara yang selalu bergembira, penuh sukacita. Santo Dominikus memang selalu digambarkan bergembira dalam situasi apapun. Bahkan, ketika di dalam sakratul maut, dia berpesan kepada saudara-saudara Dominikan yang mengelilinginya, “Jangan meratapi saya. Saya akan lebih berguna apabila saya sudah sampai di surga mendoakan kalian semua!” Pernyataan itu mengejutkan karena biasanya kita melihat kematian adalah akhir segala-galanya.

Lalu, mengapa O Spem Miram?
Santo Dominikus adalah ‘Saudara Pengharapan yang Mengagumkan’. Itu arti dari ‘O Spem Miram”. Gelar itu diberikan karena bagi Santo Dominikus, kematian adalah awal pelayanan mulianya dan itu mendatangkan pengharapan bagi saudara-saudaranya yang di saat awal Ordo merasa kehilangan pendirinya. Ia mewartakan harapan!

Karena itu, di biara ini misalnya, setiap selesai Misa selalu kami menyanyikan himne untuk menghormati Santo Dominikus. Alinea pertama himne itu berbunyi “Oh, pengharapan yang mengagumkan, yang telah kau berikan kepada mereka yang meratapi wafatmu; kau berjanji kepada mereka untuk menolong. Ya Bapa Dominikus, laksanakanlah yang telah kau janjikan itu, dan tolonglah kami berkat doamu.”

Kami percaya selalu akan janji Santo Dominikus. Bapa Pendiri yang berjanji dan sekarang kami menagih janji! Setiap abad, selama Ordo Dominikan ada, kami selalu menagih janji Santo Dominikus bahwa ia lebih berguna sekarang mendoakan kami di surga. Dan sejarah mencatat, banyak sekali pengalaman rohani dan mukjizat akan pertolongannya untuk Ordo maupun yang memanggil namanya memohon pertolongan.

Bagaimana anggota Ordo Pewarta menagih janji itu?
Kami baru saja melaksanakan novena untuk mempersiapkan Pesta Santo Dominikus, 8 Agustus. Dalam sembilan hari doa itu, misalnya, saya juga mengajak teman-teman semua untuk menghormatinya dan menagih janji itu untuk bersama kami di saat pandemi ini. Misi Rumah Santo Dominikus Pontianak telah mengalami banyak pertolongan dan perlindungan Santo Dominikus.

Khusus untuk masa pandemi Covid-19 ini bagaimana?
Dengan segala keterbatasan kemampuan insani melawan Covid-19, tidak ada lain kecuali mengingatkan manusia akan karunia pengharapan. Karunia atau tepatnya keutamaan ini diberikan kepada kita di saat pembaptisan; bersama dengan iman dan cinta kasih.

Namun, manusia sekarang kurang berharap karena kurang beriman! Kita terlalu mengandalkan kemampuan diri sendiri. Akibatnya, bila ada kesulitan yang dianggap melebihi kemampuan, kita gelisah dan putus asa. Pengharapan kristiani itu berakar pada iman akan Tuhan. Tuhanlah pengharapan kita.

Kalau manusia mengukur segala hal dengan kemampuannya, maka mereka akan putus asa. Namun apabila mereka melihat hidup dan segalanya di dalam Tuhan, maka tidak ada yang mustahil bagi Allah (bdk. Luk 1: 37). Ingat, hidup di dalam iman selalu membuat kita tidak putus asa di dalam hal apapun dan tidak membuat kita paranoid dan ketakutan tanpa ujung pangkal.

Namun begitu banyak orang di sekitar terdampak Covid-19!
Memang kita ketakutan. Siapa yang tidak?! Namun ketakutan ini bukan alasan bagi kita untuk lupa akan Tuhan dan perlindungan yang Ia janjikan. Ia memang tidak menjanjikan semuanya tidak ada masalah. Mzm 23:4 mengatakan, hidup selalu ada gelap atau terang. Namun di kegelapan pun Tuhan menyertai kita dengan “gada dan tongkat-Mu” yang merupakan hiburan bagi kita. Ancaman real Covid-19 bukan merupakan situasi yang harus membuat kita tidak bersukacita di dalam Tuhan dan merasa terkepung sehingga kita tidak berpengharapan.

Meskipun kita sendiri terkena virus ini!
Virus ini memang mematikan. Namun, pengharapan akan Tuhan membuka perspektif baru bahwa Ia mampu dan memang de fakto bisa menyembuhkan kita melebihi yang kita pikirkan. Dalam sembilan hari novena ini kita juga telah memohon agar wabah ini berhenti, vaksin ditemukan dan orang yang terkena wabah ini disembuhkan.

Memang, melihat angka infeksi corona di sekitar atau wilayah yang terdampak membuat banyak orang ragu akan mukjizat ilahi. Tapi saat ini justru umat harus saling menguatkan. Allah lagi bekerja! Seperti apa? Kita tidak tahu! Yang jelas Ia ‘Allah’ dan bukan manusia, sehingga tidak terselami rencana-Nya.

Ia selalu mencintai dan penuh kasih melihat kita anak-anak-Nya yang terluka. Percayakah kita? Apakah hidup hanya soal angka dan data? Hidup melebihi angka dan data! Malah di saat ini Allah bekerja dengan misteriusnya untuk kita semua.

Bagaimana kalau saya terinfeksi? Apakah tanda doa novena ini tidak dijawab? Hanya Allah yang tahu rencana ilahi-Nya. Jangan-jangan Dia lagi menunjukkan kuasa bahwa dengan penyakit itu justru Ia dimuliakan, seperti kata Tuhan Yesus ketika Lazarus sakit keras (bdk. Yoh 11: 4). Dalam kejadian Lazarus, jelas Tuhan Yesus menunjukkan kuasa kebangkitan dan penciptaan baru. Allah ingin menciptakan baru via virus ini dan bagi yang terkena.

Yang jelas kita tidak boleh memberikan “penghakiman” bahwa terkena virus sama saja dengan mati. Di sinilah iman yang kuat dan menghasilkan pengharapan merupakan ujian dan pangkal cara kita memandang segalanya.

Apa yang mau dirayakan atau dilakukan pada Pesta Santo Dominikus?
Pada Pesta Santo Dominikus 8 Agustus 2020 ini, Keluarga Dominikan di Pontianak mengundang semua umat untuk mengulangi janji iman dan pengharapan, serta  bersama-sama “menagih” janji Santo Dominikus untuk memberikan rahmat demi rahmat kepada banyak orang, termasuk penyembuhan dan hilangnya wabah. Kita yakin doa kita tidak sia-sia karena kini Dominikus dekat dengan Tuhan. Ia berjanji dan ia akan membantu kita.***

Tinggalkan Pesan